Wednesday, 11 February 2009

Hamemayu Hayuning Bawana

Hamemayu Hayuning Bawana,

merupakan kaidah kencana yang diwariskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I, yang intinya setiap manusia dalam berolah pikir dan berolah laku haruslah senantiasa bertujuan untuk melestarikan harmoni dan keindahan dunia, selalu memperhitungkan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam semesta serta makhluk lainnya. Manusia haruslah berupaya menggunakan cipta, karsa dan karya guna menciptakan keindahan dunia, semuanya harus mengalami kewilujengan, keselametan.

Keindahan, keindahan bukanlah hanya terlihat dari yang dapat dilihat panca indera, tetapi juga yang tidak kelihatan. Ada unsur yang tidak memperindah dunia, yaitu perang (war), obat-obat terlarang (narkotika, psikotropika), persengketaan, kriminalitas, pengangguran, pelacuran, korupsi, kolusi, nepotisme, perusakan hutan, perusakan daerah persawahan, pemusnahan desa-desa adat dan budaya,kekerasan, terorisme, ketamakan.

Karena keindahan itu tidak hanya kulitnya, maka manusia dalam berolah laku harus berhati-hati, menggunakan hati dalam bicara, berpikir dan bertingkah. Contohnya : jalan raya adalah sarana umum yang dimanfaatkan untuk semua, bus, mobil, becak, andong, sepeda motor, truk, pejalan kaki, taksi, sehingga masing-masing pemakai harus mengingat hak dan kewajiban masing-masing, saling menjaga keselamatan satu sama lain, tidak sakpenake dhewe. Tidak penyeberang jalan, tidak pengendara, semuanya mawas diri, jangan mentang-mentang di luar negeri penyeberang harus diberi kesempatan duluan, tetapi menyeberang juga harus melihat kanan kiri, begitu juga para pengendara, jangan merasa diri jadi penguasa jalanan. Semua berjalan dengan tenggang rasa.

Yang kaya, yang punya kekuasaan, tidak membiarkan yang miskin tidak berpakaian, tidak makan, tidak dapat tidur nyenyak. Yang kaya tidak boleh menghardik yang miskin, yang miskin tidak boleh sombong kepada yang kaya, kadang-kadang dua-duanya sama-sama sombong. Menjadi pemimpin harus membawa kemakmuran kepada rakyatnya, menjadi rakyat harus mempercayai pemimpinnya, jangan mudah dihasut, sehingga maunya demo terus.

Monday, 2 February 2009

Caping

Caping adalah sejenis topi yang terbuat dari anyaman bambu. Caping biasanya dipakai oleh para petani ketika sedang bekerja di sawah. Caping merupakan topi yang berbentuk kerucut tetapi agak landai. Caping dibuat dari bambu. Pertama-tama bambu dipotong, kemudian dibelah, diambil kulitnya dibelah-belah, tidak tipis-tipis, juga tidak tebal-tebal, yang penting kuat menahan air. Kalau mengambil dagingnya, ya untuk daging bambu yang kuat. Kalau tipis biasanya dipakai untuk menganyam besek (tempat makanan).

Dengan memakai caping, maka kepala dan muka akan terlindung dari panasnya terik matahari, guyuran air hujan, sengatan binatang buas (dipatuk ular), kotoran. Kalau di sawah lagi banyak pekerjaan, dari tandur (tanam mundur), membajak sawah, memanen padi (dengan ani-ani) banyak orang pula yang memakai caping. Topi biasanya tidak kuat menahan panas matahari, sedangkan caping ini menahan panas hingga leher. Ternyata caping dapat juga untuk bergaya, coba saja bila para model memakai caping, sambil berjalan di pematang sawah, dengan pakaian tradisional. Pasti tetap keren

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan