Tuesday, 17 June 2008

Belajar Bahasa Jawa (2)

Paribasan - Bebasan - Saloka
Dalam bahasa Indonesia paribasan - bebasan - saloka dikenal dengan peribahasa - perumpamaan. Kalau diamat-amati di dalamnya mengandung tata nilai yang tidak berbeda. Baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa, peribahasa selalu mengandung tata nilai, pelajaran tentang pergaulan hidup, kesopanan dan sebagainya. Betapa cerdasnya nenek moyang kita merumuskan tata nilai ke dalam sebuah kalimat yang indah.
1. Adigang, adigung, adiguna
Ngendelake kekuwatane, keluhurane, lan kepinterane (Orang yang hidup menyombongkan kekuatannya, keluhurannya, dan kepinterannya)
2. Ana catur mungkur
Ora gelem ngrungokake rerasan sing ora becik (Tidak mau mendengarkan pembicaraan yang tidak baik)
3. Ada daulate ora ana begjane
Wis arep nemu kabegjan, nanging ora sida (Hampir saja mendapatkan keberuntungan, tetapi tidak jadi)
4. Ana gula ana semut
Panggonan sing ngrejekeni mesthi akeh wong sing nekani (Tempat yang banyak mata pencahariannya, biasanya didatangi orang dari manapun, identik dengan ada gula ada semut)
5. Anak polah bapak kepradhah
Wong tuwa nemu reribed amarga saka polahing anak (Orangtua disibukkan suatu perkara yang diakibatkan perilaku anak)
6. Angon mangsa
Golek wektu sing prayoga (Cari waktu yang tepat)
7. Angon ulat ngumbar tangan
Nyawang kaanan jalaran arep nyolong (Menyelidiki sesuatu hal untuk mencari kesempatan berbuat jahat)
8. Arep jamure emoh watange
Gelem kepenake ora gelem rekasane (Hanya mau enaknya saja tidak mau berupaya keras)
9. Asu arebut balung
Pepadon rebutan barang sepele (Perselisihan yang diakibatkan perkara sepele)
10. Asu belang kalung wang
Wong asor nanging sugih (Orang yang tidak dihormati (orang biasa) tetapi kaya)
11. Asu marani gepuk
Njaluk marani bebaya (sengaja mencari bahaya)
12. Bathok bolu isi madu
Wong asor naging sugih kepinteran (Orang yang kaya kepandaian)
13. Bebek mungsuh mliwis
Wong pinter mungsuh wong pinter (Persaingan antar orang pintar)
14. Becik ketitik ala ketara
Becik utawa ala bakal ketara dhewe ing tembe burine (Setiap perbuatan itu kelak akan terbukti dengan sendirinya)
15. Belo melu seton
Mung melu-melu wae, ora ngerti karepe (Tidak punya inisiatif, hanya latah, ikut-ikutan orang lain saja)
16. Mbidhung apirowang
Ethok-ethok mitulungi, nanging sejatine ngrusuhi (Pura-pura menolong, tetapi justru mengacau)
17. Blaba wuda
Amarga bangeting lomane nganti uripe dhewe kacingkrangan (Orang yang terlalu dermawan tanpa memikirkan dirinya sendiri yang justru kesusahan)
18. Blilu tau pinter durung nglakoni
Senajan durung mangerti, nanging wis bisa nindhakake (Meskipun belum pernah belajar, tetapi sudah bisa mengerjakan)
19. Mburu uceng kelangan deleg
Mburu barang sepele malah kelangan sing aji (Memburu sesuatu yang tidak seberapa pengaruhnya dalam hidup, tetapi justru kehilangan yang sangat berarti)
20. Bubuk oleh leng
Duwe niyat ala oleh dalan (mendapatkan kesempatan dan jalan untuk berbuat jahat)
21. Busuk ketekuk, pinter keblinger
Sing bodho uga sing pinter padha nemu cilaka (baik yang pintar maupun yang bodoh menemui jalan yang tidak baik)
22.Carcor kaya kurang janganan
Guneman waton metu tanpa dipikir dhisik (Tidak berpikir dulu apa yang akan dikatakn, asal bunyi)
23. Cathok gawel
Ora diajak rembugan, nanging melu-melu ngrembug (Ikut campur urusan yang lain tanpa diminta)
24. Cebol nggayuh lintang
Duwe kekarepan sing mokal bisane kelakon (Punya keinginan yang mustahil tercapai, identik dengan cebol merindukan rembulan)
25. Cecak nguntal empyak
Gegayuhan kang ora timbang karo kekuwatane (Keinginan yang tidak diimbangi dengan kemampuan). Akan tetapi cita-cita itu penting, bahkan kita harus menggantungkan cita-cita kita setinggi langit, agar hidup punya harapan.
26. Cedhak celeng boloten
Cedhakan karo wong ala njalari katut ala (Bergaul dengan orang yang suka menyimpang, biasanya ikut-ikutan menyimpang)
Bergaul dengan copet, dikira pencopet, bergaul dengan pelacur dikira pelacur, bergaul dengan tukang judi dikira penjudi, bergaul dengan penjual narkoba dikira bandar narkoba. Kalupun tidak ketularan perilakunya tetapi terbawa-bawa nama buruknya.
27. Ciri wanci lelara ginawa mati
Pakulinan ala sing ora bisa ilang (Kebiasaan jelek itu susah dihilangkan)
28. Criwis cawis
Tansah mbantah prentah (sajak wegah), nanging sumadya nindakake (Orang yang tidak mau patuh, suka mendebat, tetapi tetap menjalankan perintah)
29. Cuplak andheng-andheng, ora prenah panggonane
Wong utawa barang kang njalari ala, prayoga disingkirake (menyingkirkan segala sesuatu yang berpengaruh buruk)
30. Dahwen ati open
Nacad nanging arep dimelik dhewe (Menjelek-njelekkan tapi mau memilikinya sendiri)
31. Dhandhang diunekake kuntul, kuntul diunekake dhandhang
Ala dikandhakake apik, apik dikandhakake ala.
Ini zaman baru musimnya, barang yang baik dikatakan jelek, barang jelek dikatakan baik. Melacur dikatakan baik, karena biasanya pelacur itu cantik dan mudah mendapatkan uang bagaimanapun caranya. Yang cantik-cantik biasanya dianggap baik daripada yang jelek. Lihat saja kalau ada perselisihan, pasti yang dibela yang cantik, walaupun sebejat apapun. Nilai sekolah jelek karena jujur pasti kalah berharga dengan yang nilai bagus tapi nyontek dan nyogok. Kalau Ranggawarsita mengatakan akan datangnya suatu masa zaman edan, orang yang tidak edan ora komanan, itu bisa diamat-amati. Susa melihat orang senang, senang melihat orang susah.
32. Desa mawa cara, negara mawa tata
Saben panggonan duwe cara dhewe-dhewe (Setiap daerah punya adat sendiri-sendiri yang harus dihormati)

Saturday, 14 June 2008

Dialog Budaya & Gelar Seni "Yogya Semesta" Seri 13

Bung Karno, Islam, Pancasila dan NKRI
Yogyakarta, 11 Juni 2008

Komunitas Budaya Yogya Semesta untuk ke -13 kalinya menyelenggarakan dialog rutin dengan tajuk Dialog Budaya dan Gelar Seni "Yogya Semesta" setiap Selasa Wagenan di Bangsal Kepatihan. Pada putaran ke-13 ini mengambil tema "Bung Karno, Islam, Pancasila dan NKRI". Tema tersebut disajikan dalam bentuk talk show dan dishooting oleh Jogja TV (dan biasanya juga RRI Nusantara II Yogyakarta). Hadir dalam talk show tersebut 3 narasumber : Prof. Dr. Tajuddin Noor Effendi (alumnus GMNI, Guru Besar FISIPOL UGM), Kyai HM Jazir ASP (Aktivis LSM Komite Indonesia Masa Depan, Kyai Sejarawan, yang dulu suka mengoleksi kaset pidato Ir Soekarno), Dr. Chairil Anwar (alumnus HMI, dosen FMIPA, UGM). acara tersebut dipandu oleh Drs. Tri Kuntoro Priyambodo, M.Sc. (direktur eksekutif national e-Gov development Center-UGM, Penggiat teater UGM) dan Empunya Dialog Budaya, Romo Hari Dendi.

Sebelum acara talk show, diawali dengan pentas teater oleh Teater UGM yang mengambil tema,"Lahirnya Boedi Utomo" yang disutradarai oleh Drs. Suharyoso. Pentas teater ini direkam untuk dijadikan bahan ajar pengajaran Sejarah Berdirinya Budi Utomo, bahkan pelajaran-pelajaran lainnya. Adegan awal dari teater tersebut berupa prolog kondisi keterpurukan perekonomian, politik di Hindia Belanda, yang kemudian menjadikan seorang Dr. Wahidin Sudirohusodo gelisah, kegelisahannya itu dicurahkan kepada seorang pemuda STOVIA yang bernama Soetomo. Kemudian Soetomo bersama teman-temannya termasuk di dalamnya para Adipati di daerah sekitar untuk membentuk organisasi modern, "Budi Utomo". Di sana kita melihat kondisi ketika Budi Utomo melakukan konggres, ada perbedaan pendapat, saling sharing dan sebagainya. Para pemainnya berbusana Jawa.

Di sela-sela dialog tersebut kita bisa mendengarkan lagu-lagu kenangan dan pembangkit nasionalisme oleh Nala String Ansamble dari Grup Alumni ISI pimpinan Nona Eva. Kita bisa membenamkan diri dalam suasana masa lalu dengan konsep musik gesek dan tiup dari mereka. Mereka memang telah beberapa kali tampil dalam acara tersebut.
Apa reaksi Bung Karno, jika sekiranya ia bisa bangkit kembali dan melihat situasi bangsa dan negara saat ini? Bisa diperkirakan airmata Soekarmo akan mengucur tiada hentinya. banyak sekali yang akan ia tangisi, tetapi yang utama adalah pudarnya persatuan dan kesatuan. Ia telah berjuang sejak muda, memupuk persatuan dan kesatuan di tengah-tengah kondisi yang berpotensi pecah belah.

Bung Karno merupakan orang yang bisa merangkul banyak golongan, baik lawan maupun kawan. Beliau merupakan keturunan Jawa dan Bali. Sebenarnya dia sangat dekat dengan ajaran Hindu. Pergaulannya dengan teman-temannya telah menyumbangkan sejumlah pemikiran yang nasionalistis. HOS Cokroaminotolah yang telah berhasil membimbing tokoh-tokoh nasional. Sebagian besar muridnya punya kans jadi presiden, salah satunya yang jadi presiden yang nasionalis adalah Ir. Soekarno. Punya pandangan Muhammadiyah, setelah di bengkulu mengenal Ibu Fatmawati.

Menurut penuturan, Kyai HM Jazir ASP yang dijuluki oleh Romo Hari Dendi dengan kamus berjalan dalam sejarah karena hapal tahun-tahun bersejarah dengan detil, mengungkapkan, bahwa ketika Bapak Soekarno pidato di Istora Senayan,"...Ibu saya Hindu, bapak saya Islam-Islaman, 15 tahun mendalami Islam kepada HOS Cokroaminoto, sering mendengar khutbah Kh Ahmad Dahlan. Islam itu mundur karena menutup jihad, kalau bisa muslim itu sebersih-bersih tauhid, sepandai-pandai siasat.........Nama kecilnya Kusno, diganti Soekarno yang membela siapa saja.
Ir Soekarno mendapatkan Doktor Honoris causa di bidang tauhid. Beliau merupakan seorang ahli simbol. Oleh karena mencintai Yogyakarta sebagai kota perjuangan yang melahirkan para pahlawan, maka beliau design Masjid Syuhada di Yogyakarta. Istiqlal merupakan jiwa merdeka yang bisa dicapai dengan Syuhada. Indonesia akan dia bawa ke Baiturrahman (rumah yang penuh kasih sayang). Untuk mencapainya dibutuhkan pemuda yang menguasai IMTAQ dan IPTEK (kyai intelek-intelek kyai), maka di ITB didirikan Masjid Shalman al Farishy (arsitek muslim). Agar Islam menjadi ajaran global, maka harus mi'raj dalam mind, bukan badan yang mi'raj. Kalau Indonesia pingin maju ya harus memiliki pikiran seperti orang Barat. Mungkin mendengar penuturan KH Jazir tentang banyak kisah, kita akan terhanyut di dalamnya.
Tatkala memberikan sambutannya pada sidang kabinet 15 januari 1966 di istana Merdeka, presiden Soekarno bercerita,"aku ini kecil dari mula, ....yang menjadi gandrung saya bahkan yang saya derita untuknya, yang saya dimasukkan dalam penjara untuknya, yang saya dibuang di dalam pembuangan untuknya, bahkan pernah yang hampir -hampir saya didrel mati di Brastagi untuk bangsa, tanah air, kemerdekaan dan negara....Bangsa harus menjadi bangsa yang kuat dan besar. Oleh karena itulah belakangan ini selalu saya menangis, bahkan donder-donder, marah-marah. Hee, bangsa Indonesia, jangan gontok-gomtokan!!"
Ketika Pancasila masih dalam sebagai draft, persatuan Indonesia dijadikan sila pertama. tanpa persatuan, suatu bangsa mustahil maju membangun dirinya. ia kerap menyitir ucapan arnold Toynbee bahwa "A great civilization never goes down unless it destroy itself from within" Atau ucapan Abraham Lincoln,"A nation divided against itself, cannot stand". Mana ada bangsa yang bisa bertahan jika terpecah belah di dalamnya? Demikian juga nantinya nasib NKRI, jika bangsa ini senantiasa merongrong semangat persatuan dan kesatuan bangsa itu justru oleh kita sendiri.
Ketika kita mengenang sosok Soekarno sekaligus karya besarnya Pancasila saat ini, Indonesia sesungguhnya sedang berjalan menuju disintegrasi bangsa. Faktor pokoknya karena bangsa ini hidup dalam situasi anomali atau valueless state. Di satu sisi kita sudah meninggalkan Pancasila, walaupun secara teoritis masih mengakui sebagai ideologi, di sisi lain nilai penggantinya belum diformalkan. Memang kita sedang bereksperimen dengan liberalisme beserta kapitalisme sebagai anak kandungnya, meski banyak elemen masyarakat yang menolak ideologi tersebut.
Tak mungkin bicara NKRI dan Pancasila tanpa menyebut nama Bung Karno. Demikian juga bila bicara tentang Islam. Pada tahun 1940 di Panji Islam beliau menulis "Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara" Menurutnya Islam dipisahkan dari negara agar supaya Islam menjadi merdeka dan negara pun menjadi merdeka. Agar supaya islam bisa berdiri sendiri, agar supaya Islam subur dan negarapun subur pula.
Menurut Dahlan Ranuwiharjo, Soekarno bukanlah nasionalisme sekuler, tetapi dia merupakan nasionalis religius. Demikian pula menurut Wajiz Anwar (dosen filsafat UIN Yogyakarta), Soekarno itu seorang pembaharu pemikiran islam terbesar Abad 20 yang berhasil mengawinkan pemikiran Islam dengan filsafat Yunani.
Dalam suratnya ke Redaktur Panji Islam, Bapak Soekarno menyatakan bahwa Islam adalah satu agama yang luas yang menuju pada persatuan manusia. ia menginginkan Islam modern dengan membawa misi universal Islam, rahmatan lil alamin. Islam bukan untuk segolongan manusia, tetapi bagi ummat manusia dengan membawa rahmat bagi seluruh isi alam semesta. Agama Islam hanyalah bisa kita pelajari sedalam-dalamnya kalau kita bisa membukakan semua pintu-pintu budi akal kita bagi semua pikiran-pikiran yang berhubungan kepadanya dan harus kita saring lewat Al Quran dan Sunnah Nabi.
Perlu disadarilah masih banyak orang yang mengaku Islam, tetapi kelakuannya tidak rahmatan lil alamin.
Referensi :
Hari Dendi,"Dialog Budaya dan Gelar Seni "Yogya Semesta" Seri 13 : Bung Karno, Islam, Pancasila dan NKRI" di bangsal Kepatihan, Yogyakarta.

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan