Friday, 28 March 2008

Menjadi Kota Destinasi Wisata Terkemuka

Pariwisata merupakan industri terbesar dunia abad 21. Kalau selama ini Bali menjadi kota wisata pertama se-Indonesia, setelah teror bom di Bali beberapa waktu yang lalu, masihkah Bali menjadi nomor 1. Lalu mana yang kedua, katanya Yogyakarta-lah yang nomor dua. Seolah julukan yang ke-2 itu menjadi kian relatif. Yogyakarta pernah menjadi julukan yang ke-dua, lalu setelah gempa bumi 27 Mei 2006, masih mungkinkah menjadi ke-dua atau bahkan menjadi terkemuka. Beberapa waktu yang lalu seorang pembicara di Seminar juga menyebutkan bahwa Lagoi merupakan kota wisata yang kedua setelah Bali. Mungkin nanti ada beberapa daerah lain juga yang menjuluki diri mereka menjadi kota wisata kedua setelah Bali. Siapa yang memberi julukan itu ?
Bali terkenal dengan pantai-pantai surganya, Lagoi juga punya, Banten juga punya, Yogyakarta yang terletak di utara Samudera Indonesia juga punya pantai-pantai surga, tetapi kenapa hanya Bali yang dikenal di luar negeri. Indonesia just Bali, why? Mungkin Provinsi yang sangat terkenal melebihi negaranya adalah Bali (???????). Seorang siswa SMU yang sedang mengikuti AFS (Program pertukaran pelajaran) di Amerika, ditanyai temannya, Where are you coming from ? Dia menjawab : I am from Indonesia, kemudian temannya tadi bertanya balik : Indonesia? Where is it ? Indonesia is Bali ?. Mungkin dengan muka agak kemerah-merahan pelajar Yogyakarta tadi menerangkan bahwa Indonesia bukan hanya Bali, tetapi ada beberapa Pulau. Bagaimana ya kalau dia mengaku dari Yogyakarta ? Mungkin juga akan bertanya Yogyakarta, where ?. Itu dulu. Entahlah apakah ketika PH asing mengadakan syuting di Kalimantan (Borneo), apakah mereka masih merasa ada d Indonesia, jangan-jangan persepsi mereka tentang Borneo adalah bagian Indonesia juga kacau lagi. Tetapi kita patut lega juga ketika beberapa mahasiswa asing yang studi di Australia mengatakan hal-hal tentang Yogyakarta, misalnya ada yang bilang Yogyakarta is harmony city, ada juga yang berkata Yogyakarta identik dengan Kasultanan. Jadi Yogyakarta masih aman. Kenapa Bali begitu terkemuka ? Ternyata walaupun di Bali ada keterbukaan terhadap pendatang asing, tetapi kebudayaan lokal masih terjaga dengan baik. Penduduknya adalah pemuja kebudayaan lokal, tetapi sangat friendly terhadap budaya lain. Banyak penduduk lokal yang mau menikah dengan orang asing. Mereka mendapat mata pencaharian dari kedatangan turis-turis mancanegara. Agen promosi dari mulut ke mulut tentang Bali telah menjadikan Bali sering dikunjungi turis. Mereka datang menambah devisa negara. Dalam diri mereka tertanam kenangan yang terindah tentang kehidupan masyarakat dikombinasi keindahan alamnya, sehingga mereka menyiarkannya kepada yang lain, baik face to face maupun melalui teknologi informatika. Jadilah Bali semakin terkemuka. Yogyakarta memiliki modal pariwisata yang pantas didaya saingkan. Yogyakarta menyimpan pusaka budaya, pusaka alam, pusaka budaya dan alam, pusaka saujana. Kita sebut saja Candi Prambanan, Taman Sari, Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualam, Candi Kalasan, Candi Boko, Candi Sambisari, Museum Sonobudoyo, Museum Ullen Sentalu dan masih banyak lagi. Di samping itu masih ditemukan desa-desa dengan banyak potensi baik budaya tradisional, kerajinannya maupun keindahan alamnya. Pantai-pantai yang membujur dari ujung tenggara Gunung Kidul hingga titik paling barat Kulon Progo dengan ciri khas keindahan masing-masing, pantai sadeng, Kukup, Krakal, Wedi Ombo, Baron, Samas, Parang Tritis, Pandan Simo dan lainnya. Juga ada faktor hidden tourism capital lainnya. Pusaka-pusaka ini menjadi daya tarik bagi orang asing untuk datang ke sini. Lalu kenapa Yogyakarta masih menempati rangking ke-dua, bahkan itu pun masih ada daerah lain yang dianggap sebagai daerah wisata ke-dua, selalu setelah Bali.
Kalau kita melihat data kunjungan wisatawan yang datang ke Indonesia maka dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1998 jumlah wisatawan yang masuk ke DIY mengalami penurunan. Pada tahun 1995 wisman yang datang ke DIY sebanyak 344.000; wisnus sebanyak 837.000. Pada tahun 1996 wisman yang datang 351.000; wisnus yang datang 901.000. Pada tahun 1997 DIY dikunjungi 277.000 wisman dan 638.000 wisnus. Pada tahun 1998 DIY dikunjungi 78.000 wisman dan 309.000 wisnus. Pada tahun 1999 wisman yang berkunjung ke DIY sebanyak 73.000; ada wisnus sebanyak 440.000 orang. Pada tahun 2000 wisman yang telah berkunjung sebanyak 78.000 orang dan wisnus sebanyak 540.000 orang. Sebanyak 92.000 wisman dan 739.000 wisnus berkunjung ke DIY pada tahun 2001. Pada tahun 2002 DIY dikunjungi wisman 90.777 orang dan wisnus sebanyak 888.360 orang. Pada tahun 2003 DIY dikunjungi wisman sebanyak 95.629 orang dan wisnus sebanyak 1.234.690 orang. Pada tahun 2004 DIY dikunjungi wisman 103.401 orang dan wisnus sebanyak 1.792.000 orang. Pada tahun 2005 DIY dikunjungi 103.488 wisman dan 1.850.683 wisnus. Pada tahun 2006 kunjungan wisman menjadi menurun hingga sebanyak 78.145 orang wisman dan 914.824 wisnus. Dari kunjungan-kunjungan tersebut, dapat dilihat bahwa 21,50 % wisatawan berkunjung ke situs-situs sejarah; 21,35 % ke peninggalan budaya; 19,46 % ke ekowisata; 5,53 % cenderung pada wisata belanja; 4,40 % untuk wisata malam, dan 3,53 % ke objek lainnya.
Dilihat dari data dia atas tampak ada penurunan wisatawan yang berkunjung di Yogyakarta sejak tahun 1998 - 2003. Kalau dilihat situasi saat itu memang Indonesia sedang terjadi masa transisi dari era Orba ke era reformasi, yang diwarnai dengan kericuhan-kericuhan. Ketika kunjungan itu sedang meningkat hingga 26,10 % pada tahun 2004, pada tahun 2006 kunjungan wisatawan turun hingga 50,57 %. Gempa bumi 27 Mei 2006, Merapi meletus sekitar bulan itu juga, masih pada saat yang sama juga tsunami di pantai selatan. Sebelum gempa pada bulan Juni-Oktober 2005, wisatawan yang mengunjungi Candi Prambanan mencapai 392.712 orang, setelah gempa bumi Juni-Oktober 2006 hanya ada 105.652 wisatawan yang berkunjung ke sana.
Selain faktor alam yang mempengaruhi daya tarik wisata, ternyata terletak pada kurang berkelanjutannya pemeliharaan objek wisata. Banyak sekali objek wisata di DIY, tetapi belum ada update terhadap performance objek wisata tersebut. Semestinya setiap objek wisata memiliki sesuatu yang lain daripada yang lain, ada ciri khasnya. Ada beberapa objek wisata yang telah mengutamakan kebersihan, baik ruang pandangnya maupun fasilitasnya, tetapi ada beberapa objek pariwisata yang kurang peduli kebersihan, tidak memiliki toilet yang memadai. Saya pernah melihat beberapa objek wisata yang semakin hari bukannya bertambah enak dipandang, tetapi justru semakin kumuh, kolamnya kering, pohon-pohonnya meranggas. Update-update, pembenahan, penambahan daya tarik sebuah objek wisata jarang terjadi. Contohnya saja, untuk wisata sejenis taman air (danau, waduk, telaga), biasanya airnya dibiarkan mengering kalau kemarau, pepohonannya juga meranggas, lingkungannya tandus, berdebu, sampah berserakan. Di sana-sini rumput ilalang tumbuh. Sarang nyamuk tumbuh di sekitarnya, fasilitasnya tidak terawat, tidak ada kegiatan, dan lain sebagainya. Kalau objek wisata tidak bersih ini yang salah pengunjungnya atau pengelolanya, yang pasti keduanya bertanggungjawab. Gedung-gedung yang sudah layak, gempil juga tidak diperbaiki, dicat lagi, kalau untuk BCB sih memang nggak masalah, tetapi fasilitas lainnya khan harus kelihatan bersih, nyaman, enak digunakan, dan enak dilihat.
Oleh karenanya perlu ada gerakan sadar wisata. Wisatawan domestik sepatutnya memperkuat pariwisata di daerahnya. Kalau mau piknik ya jangan lupa mengunjungi objek wisata di daerahnya, daerah tetangganya. Penduduk di sekitar objek wisata semestinya terlibat dalam pemeliharaan, pelestarian objek wisata di situ, ikut promosi dari mulut ke mulut. Kerjasama dengan daerah tetangga untuk membuat paket wisata unggulan tidak boleh lelah dilakukan. Antara daerah yang satu dengan yang lainnya ada hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, saling mempromosikan. Misalnya saja untuk memperlama waktu tinggal para wisatawan di Indonesia, membantu memancing kunjungan dari daerah satu ke lain. Misalnya : ada rombongan dari Australia yang mengunjungi Bali, tidak ada salahnya ditarik ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari Borobudur tidak ada salahnya turis dipancing untuk meneruskan ke Prambanan.

Wednesday, 26 March 2008

Ringkasan Singkat buku : Merajut Kembali KE-INDONESIA-AN kita

Judul Buku : Merajut Kembali keIndonesiaan Kita
Penulis : Sri Sultan Hamengku Buwana X
Editor : Julius Pour
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : i-viii+310 halaman

Bagian 1 Merajut Kembali Kebudayaan
1. Strategi Kebudayaan
Semakin tinggi tingkat keanekaragaman dan kemajemukan masyarakat ekuivalen dengan tingkat kesulitan yang dihadapi agar pengelolaan administrasi negara dapat berjalan efektif dan efisien. Indonesia diwarnai kemajemukan budaya dan etnis. Ketika terjadi proses modernisasi diikuti oleh mobilitas sosial dan geografis, misalnya maka seriusitas masalah-masalah etnis yang berakar pada budaya seperti prasangka, ketegangan, dan konflik juga mengalami peningkatan. Keadaan ini makin diperparah oleh dampak negatif dari kebijakan otonomi daerah yang dipersepsi secara salah karena cenderung mengedepankan putra daerah serta primordialisme kesukuan - sebuah penguatan chauvinism. Oleh karenanya untuk merajut kembali ke Indonesia-an kita, terutama dari perspektif kebudayaan, langkah-langkah strategis perlu dilakukan. Semua itu bisa dimulai dari pemahaman utuh tentang pendekatan budaya dan koordinat kebudayaan Indonesia itu sendiri. Indonesia baru hanya bisa dicapai dengan melakukan transformasi sosial budaya dengan menyaring dan mengadaptasi budaya iptek global yang bermutu, seraya mengukuhkan jati diri bangsa yang berbasis pada kebhinnekaan budaya sendiri.
Identitas kebudayaan Indonesia seyogyanya ditempatkan dalam konteks budaya yang dicapai lewat proses dialektis antara sistem-sistem yang hidup di masyarakat. Dalam hubungan ini, apa yang disebut identitas kebudayaan sampai hari ini sesungguhnya memang belum ada karena ia masih dalam proses dialektika itu. Pendekatan kebudayaan sudah sangat diperlukan untuk bisa diterapkan integral dengan pendekatan lain. Jaringan kerja yang berakar dari bawah dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan yang terdiri dari berbagai pihak dapat mewujudkan desentralisasi dan otonomi budaya sebagai kebijakan dan strategi kebudayaan guna pembangunan manusia Indonesia dengan makna yang lebih hakiki.
2. Kearifan Budaya Lokal
Nusantara negeri taman dunia. Ini merujuk pada keanekaragaman Indonesia yang bukan saja terdiri dari sekitar 17.500 pulau yang dihubungkan oleh lautan tetapi juga kekayaan etnis, budaya dan agama - ibarat keindahan aneka bunga dalam sebuah taman. Taman tersebut berada dalam ruang gerak kehidupan yang dinamis yang bergulat dalam kepentingan lokal, nasional dan global. Pelestarian nilai-nilai budaya daerah dengan upaya mencari, menggali dan mengkaji serta mengaktualisasikan kearifan budaya lokal merupakan modal dasar baru yang dapat digunakan untuk memperkukuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Agar kebudayaan lokal tidak menjadi kusut, solidaritas sosial budaya yang saling menghargai sesama warga bangsa perlu diaktualisasikan kembali. Pendekatan sentralistis mengandung kerentanan terhadap perubahan daripada pendekatan non sentralistis. Pendekatan nonsentralistis dalam aktualisasi solidaritas sosbud bangsa akan lentur, adaptif, tidak membingungkan ketika terjadi krisis. Pembangunan yang mengabaikan kearifan tradisi dan nilai-nilai budaya masyarakat lokal akan bermasalah karena kurang mempertimbangkan dimensi sosial budaya yang menjadi bingkai laku hidup masyarakat tersebut.
3. Dialog Antarumat Beragama
Dalam hubungan antaragama perlu dilakukan terobosan dan titian baru yang tidak mengingkari iman yag dipeluk. Iman seseorang haruslah kuat dulu untuk dapat memulai suatu dialog antaragama yang luas dan mendalam. Namun demikian, karena terminologinya adalah dialog (Perjumpaan) dan bukan perang, maka tabir-tabir dan benteng-benteng itu mesti diubah menjadi semacam jembatan kultural. Kegiatan keber-agama-an marak di mana-mana, tetapi konflik berbau agama justru meletus di mana-mana. Ternyata efek demojrasi tdak selalu baik, karena ekspresi tiap individu dan kelompok bisa berbenturan dengan pihak lain. Isu agama sering menyulut konflik, maka diperlukan upaya untuk mengembalikan agama sebagai rahmat bagi semua umat dengan cara paling tidak meruksi atau kalau mungkin mengeliminasi faktor agama ini sebagai sumber konflik sosial. Disini, dialog antar agama melalui para pemeluknya menjadi salah satu kunci penting bagi tumbuhnya keamanan dan ketentraman hati masyarakat.
4. Studi Kasus : Membawa Yogyakarta ke Pentas Global
Dalam forum kontak dagang, pameran produk ekspor, malam kolaborasi seni dan gelar seni-budaya Yogyakarta, baik yang bertema "Batik" maupun "Seni Suara", Yogya memang sudah mampu merambah pentas dunia. Banyak pemiat seni kelas dunia berinteraksi dengan napas kebudayaan tersebut.
Selama ini terjadi metamorfosis ruang budaya ke ruang komersial. Kehidupan manusia kini telah terkomodifikasi menjadi sebatas komoditas atau barang dagangan - dimaa antara komunikasi, komuni dan komersial pun menjadi tidak terbedakan. Telah terjadi metamorfosis dari produksi industrial ke kapitalisme budaya yang menyebabkan pergeseran mendasar dari ruang budaya (cultural sphere) ke ruang komersial (commercial sphere), di mana semua pengalaman hidup tak lebih seperti halnya pasar komersial. Kapitalisme global telah mengubah dunia menjadi panggung kehidupan yang berorientasi ukuraan kebendaan atau kepemilikan, bukan kekayaan rohani. Kapitalisme global telah menjadi pelaku utama, penulis skenario, produser, perekonstruksi keebutuhan yang mendiktekan selera atau gaya hidup, dan menentukan desain kebudayaan global yang cenderung seragam (homogenized). Produser budaya dan gaya hidup global yang menjadi pengemas industri hiburan seperti MTV dan Hollywood atau perekayasa mode Paris, kini menjadi penentu selera bagi kebanyakan orang kaya dan anak muda di seluruh penjuru dunia. Fenomena budaya Indo berkembang sebagai proses kreolisasi, di mana elemen-elemen kebudayaan lain diserap, tetapi dipraktikkan dengan tidak mempertimbangkan makana aslinya. Di kota-kota bermunculan pasar yang bergerak menjadi bangunan ruko, supermarket, hypermall, factory outlet, atau pusat-pusat perbelanjaan yang megah. Di era dream society masih ada satu jenis pasar sebagai substitusi terhadap budaya produktif. Namanya adalah the market for care; permintaan untuk menolong mereka yang mengalami kesulitan, penderitaan, kaum duafa, yang menjadi tidak prodduktif, tetapi ada yang sifatnya substitutif yang cenderung merusak, yaitu menciptakan ketergantungan atau bahkan mengorganisasi kekuatan emosional untuk kepentingan tertentu yang tidak produktif.
Kalau ingin bangsa ini menjadi produktif, kita jangan bertindak populis merusak budaya produktif. Di sini kita dapat melihat dua paradigma pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam aplikasinya pada industri. Pertama pada tradisi di Eropa dan Amerika yang memulai pengembangan teknologi dari temuan di bidang sains dasar: maatematika, fisika, kimia dan biologi yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk teknologi, sedangkan tradisi di Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Cina, tradisi matematis tidak terlalu kuat, tetapi memiliki tradisi rekayasa yang kuat.
Bangsa Indonesia pada umumnya, khususnya Yogyakarta memiliki tradisi ke-pengrajin-an (craftsmanship) lebih cocok menerapkan tradisi yang kedua, akan tetapi riset-riset ilmu dasar perlu diterapkan untuk pengembangan teknologi-teknologi baru, seperti bioteknologi, teknologi informasi, dan lain-lain. Jalur yang paling murah dan cepat adalah melalui rekayasa berbalik. Dengan terbatasnya sumber daya ekonomi, Yogyakarta perlu memperluas aplikasi modal budaya dan modal sosial sebagai sumber daya yang mampu ditransformasikan menjadi nilai tambah. Gelar seni dan budaya perlu dihidupkan terus guna mengakselerasi masuknya Yogyakarta ke pentas dunia. Yogyakarta selalu terbuka bagi setiap gelar seni budaya, baik yang klasik dan kontemporer maupun gelar seni etnis-etnis Nusantara dan snei budaya dari mancanegara. Yogyakarta seakan sebuah jendela budaya di mana kita bisa melihat ragam budaya dunia, juga sebagai pintu budaya yang terbuka bagi penyemaian kreatifitas dan pengembangan budaya-budaya etnis Nusantara.
Sebenarnya buku ini terdiri dari 5 bagian, yakni :
Bagian 1 Merajut Kembali Kebudayaan
1. Merajut Kebudayaan
2. Kearifan Budaya Lokal
3. Dialog Antarumat Beragama
4. Studi Kasus : Membawa Yogyakarta ke Pentas Global
Bagian 2 Merajut Kembali Kebangsaan
1. Membangun Jati Diri Bangsa
2. Revitalisasi Nasionalisme Indonesia
3. Pancasila
Bagian 3 Merajut Kembali Ekonomi
1. Teknologi bagi Pemberdayaan Ekonomi
2. Menjawab Tantangan Ekonomi dan Bisnis
3. Strategi Ekonomi dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan
4. Ketenagakerjaan dan Pemberdayaan Perempuan
Bagian 4 Merajut Kembali Politik
1. Konstitusi yang berpihak pada Rakyat
2. Transformasi Budaya Birokrasi
3. Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah
4. Hubungan Luar Negeri
Bagian 5 Merajut Kembali Hukum dan Pertahanan-Keamanan
Bapak Sultan di bagian ke 5 ini mengulas mengenai :
1. Profesionalisme Penegak Hukum
2. TNI Abad ke-21: Aktualisasi Semangat Soedirman
3. Strategi Keamanan nasional
Untuk mengetahui isi lebih lengkap bagian demi bagian dari buku ini, maka Anda dapat mencari bukunya di toko buku Gramedia terdekat di kota Anda.
***********

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan