Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Saturday, 10 May 2008

Rahasia Wanita

Seorang penulis wanita Indonesia (Mira W) pernah menulis buku yang mengungkapkan tipe-tipe wanita yang dia temukan dalam kehidupan. Wanita itu digolongkan menjadi tiga, yaitu wanita malaikat, wanita kekanak-kanakan, wanita kombinasi keduanya. Wanita malaikat biasanya memiliki karakter cerdas, agak angkuh, anggun, bijaksana, penuh percaya diri, tegas, mandiri, tidak menggantungkan diri kepada orang lain, berjiwa sosial, idealis. Wanita kekanak-kanakan cenderung manja, malas mengerjakan sesuatu, suka cari perhatian, pandai mengambil hati lawan jenis, selalu ingin dilayani. Akan tetapi ada juga wanita yang bisa memiliki keduanya. Pada saat-saat tertentu dia bersikap dewasa, tetapi pada saat tertentu tampak kekanak-kanakan. Biasanya perempuan yang dianggap menyenangkan adalah yang memiliki keduanya.
Sembadra, sayang hanya dalam wayang adalah tipe wanita malaikat. Ketika Arjuna / Janaka yang sangat top di kalangan para cewek dari dunia manapun memohon untuk menduakan, menigakan, meng-empatkan hatinya dengan wanita selain dirinya, Sembadra mampu berdiri tegar, meskipun ada rasa tidak ikhlas juga bagaimanapun. Wanita malaikat cenderung mandiri dalam menata hidupnya, tidak salah kalau dirinya justru sering menjadi teman curhat teman lelakinya di lingkungannya ketika ada masalah.
Demikian pula dalam Dewi Sinta, hanya dalam cerita Ramayana. Dia diceritakan sebagai perempuan yang disukai banyak orang. Kemudian dia memiliki pasangan hidup Rama. Kemudian dia diculik oleh Rahwana. Rahwana memaksanya untuk memenuhi kemauan Rahwana. Shinta tetap setia. Setelah berada di depan Rama dia dianggap tidak setia. Untuk membuktikan kesetiaan dan kesuciannya dia membakar diri. Akan tetapi tidak terbakar badannya dan itulah pertanda kesetiaan.
Wanita tipe kekanak-kanakan dapat dilihat dalam diri Sasha dalam Sinema OB OkTV di RCTI yang dimainkan Winda. Tiap hari setiap masuk ke kantor hanya mengecat kuku, jalan ke sana ke mari, tertawa cekikikan, suka bersolek, malas mengerjakan sesuatu, suka main perintah terhadap Ob di kantornya.
Wanita model seperti ini cenderung pada perawatan diri saja. Pekerjaan rumah seperti mencuci, memasak, membersihkan rumah, menguras kamar mandi adalah pekerjaan pembantu, maka perempuan yang mengerjakan semua itu disamakan pembantu. Dan pekerjaan itu tidak membuat cantik. Cantik itu untuk dimanjakan. Bahkan masyarakat pun sepakat bahwa orang cantik dilarang mengerjakan pekerjaan semacam itu, nanti kehilangan kecantikannya. Orang cantik adalah sesuatu yang pantas didewakan, bahkan tidak pernah kuliah dianggap berpendidikan, karena pandai merawat kulitnya. Cantik dianggap memiliki strata yang lebih tinggi daripada yang tidak memiliki kriteria kecantikan. Jadi yang merasa tidak memiliki kriteria kecantikan patut tidak merasa dihiraukan. Cantik dipandang sebagai kekayaan karena berarti mampu membeli busana dan make up yang bagus. Pokoknya cantik itu dijadikan ukuran kaya atau pintarnya seseorang.
Jadi bisa dikatakan salah, tetapi bisa juga dikatakan ada benarnya, kalau ada yang berpendapat bahwa Cantik itu luka. Apa benar dalam kasus ini? Dengan cantik orang akan dipermudah mencari pekerjaan. Contoh seorang manager personalia yang sedang mengetes calon karyawan di kantornya pasti mengesampingkan prestasi akademisnya ketika menyaksikan fisik pelamarnya tidak sesuai dengan kriteria kecantikan. Misalnya : tingginya di bawah 160 CM, rambutnya ditutup jilbab (sekarang sudah ada kompensasi). Padahal banyak perempuan yang mampu mengerjakan pekerjaan itu tanpa kriteria kecantikan yang disebutkan, tetapi itu tidak dihiraukan. Yang nomor satu adalah cantik.
Akan tetapi Cantik itu menjadi luka bila dipaksakan. Seorang wanita bisa bermata lelaki dalam memandang tubuhnya. Mereka tidak rela tubuhnya tidak indah. Mereka rela mengoperasi sebagian anggota tubuhnya untuk mendapat cantik. Buah dadanya disuntik dengan silikon/suntik botox. Hidung dan mukanya juga dioperasi. Kakinya harus bebas dari bulu, sehingga harus dilicinkan. Rambutnya diwarna-warni, di-rebonding, alis dikerok habis, dan sebagainya. Mereka rela menghabiskan uang, bahkan menyakiti anggota badannya agar menjadi lebih cantik sesuai keinginan matanya yang mewakili mata lelaki. Oleh karenanya banyak wanita yang mengeksplorasikan fisiknya untuk dipertontonkan banyak laki-laki. Kita bisa menyebut orang-orang yang dihafal orang karena ciri khas keseksiannya, misalnya Jupe, Five Vi, Yenni, Dewi Persik, sengaja ataupun tidak sengaja. Hal tersebut menjadi gonjang-ganjing saat ini. Setahu saya Dewi Persik itu manis dan suaranya merdu tanpa berkostum seksi sekalipun, tetapi mengapa dalam setiap kesempatan mengeskplorasi tubuh fantastisnya di depan banyak penonton.
Selera antara laki-laki satu dengan yang lainnya berlainan, tetapi mereka selalu sepakat ketika memandang perempuan cantik. Di manapun berada, dari orang yang mengaku ber-Tuhan ataupun yang tidak mengaku ber-Tuhan. Ketika beberapa SPG produk tertentu mempromosikan sesuatu, pasti para lelaki melirik sampai tidak berkedip dan berkomentar dengan nada yang sama, biarpun tidak membutuhkan barang yang dijualnya, tetapi karena yang mempromosikannya cantik, maka sepakat untuk mengeluarkan koceknya. Berlama-lama mengobrol padahal hanya membeli satu produk, sok akrab.
Semuanya sepakat bahwa cantik itu hanya bisa dilihat dari fisik semata, kulitnya halus, rambutnya lembut, tingginya di atas 160 Cm, bibirnya enak dilihat, matanya terang, buah dadanya besar, pahanya mulus, dan lain sebagainya.
Ketika di dalam suatu acara hajatan, pasti kerja bareng-bareng (rewang). Sudah pasti yang merasa cantik akan duduk-duduk manis, dan akan dibiarkan duduk manis, sedangkan yang tidak dianggap cantik akan dibiarkan membanting tulang tanpa dilarang.
Mungkin banyak orang yang tidak dipercaya dengan kejadian di dalam masyarakat. Akan tetapi mengapa banyak orang mencari isteri para selebritis. Dan ini nyata. Setiap orang berpangkat pasti berlomba mencari pasangan hidup seorang artis, yang terlanjur mempunyai pasangan orang biasa, harus menunggu hingga ada masanya.
Telenovela yang mampu memutar kejadian di atas adalah Betty La Feya. Di sini tokoh utama digambarkan sebagai wanita yang tidak berstrata, giginya pakai behel, pakai kaca mata tebal, berasal dari keluarga strata bawah. Dia sering dihina oleh kelompok perempuan salon. Dengan kecerdasannya dia mampu mengubah nasibnya. Dia mampu menikah dengan Direkturnya.
Demikian pula dengan Cara Sucia (si Muka Kotor), ini juga bercerta tentang gadis yang mukanya tidak cantik, tetapi beruntung.
Di dalam cerita rakyat, dikenal cerita Ande-Ande Lumut yang Menanti Pacarnya. Banyak cewek yang mengejarnya. Ada seorang cewek yang terlalu PD mendekatinya, padahal dia tidak berdandan, bahkan oleh Ibu tirinya dimake up dengan arang dan kotoran binatang, tetapi justru mendapat sambutan dari Ande-Ande Lumut, karena Kleting Kuning tidak pernah selingkuh dulu dengan Yuyu Kangkang, sedangkan cewek yang lainnya pernah diajak selingkuh oleh Yuyu Kangkang.
Menurut pengamatan saya, ada banyak tipe wanita selain menurut penggolongan di atas, yaitu antara lain :
1. Wanita pecinta ilmu pengetahuan
Wanita ini biasanya lebih suka dipandang orang karena ketinggian ilmunya. Ilmu pengetahuan dianggap lebih indah daripada yang lainnya. Banyak wanita yang bergerak di bidang keilmuan lebih memilih menyendiri sepanjang hidupnya. Kepuasan menyelesaikan permasalahan dipandang lebih menantang. Kalaupun dia memilih pasangan hidup dia kan memilih yang ilmunya sepadan dengannya atau bahkan di atasnya.
2.Wanita workaholik
Wanita ini biasanya berkombinasi dengan tipe 1. Wanita pecinta ilmu pengetahuan cenderung pemikir dan pekerja keras. Mereka lebih puas menghidupi hidup dari hasil kerja kerasnya daripada meminta orang lain.
3. Wanita religius
Wanita ini hidup berdasarkan agama. Kalau mentornya berkata A, maka dia juga akan melaksanakan yang A itu, walaupun dia sebenarnya tidak sepakat dengan A itu.
4. Wanita tomboy
Wanita ini cenderung tidak suka make up, dia berpakaian seperti lelaki. Bahkan dia akan kelihatan lebih handsome daripada cowok. Dia lebih suka melindungi, daripada dilindungi. Dia menyukai Olah Raga atau kegiatan yang menantang maut seperti arum jeram, panjat tebing, panjat kelapa, panjat genting, balap.
5. Wanita matre
Wanita ini cenderung memandang sesuatu dari harta. Kriteria utama mencari pasangan hidup dengan lelaki yang kaya walaupun usianya jauh di atasnya. Wanita matre biasanya berkombinasi dengan wanita pesolek dan mall. Dia akan menghabiskan waktunya di mall dan salon atau membeli perlengkapan yang bisa mempercantik diri.
6. Wanita patuh
Wanita ini cenderung menuruti apa kata-kata orang di sekitarnya, dari orangtuanya, suaminya, walaupun itu akan merugikannya, dia tidak akan peduli itu. Dia tidak berani membantah siapapun, tidak suka berdebat.
7. Wanita penguasa
Wanita ini cenderung menguasai apapun yang ada di sekitarnya. Da tidak mau diperlakukan sebagai budak, tetapi lebih suka menjadi majikan. Dia cenderung keras. Dia maunya menang sendiri. Oleh karenanya ada sinetron, Suami-Suami Takut istri. Istri menjadi penentu keputusan seorang suami. Apabila dominasinya cenderung positif, maka akan membawa kesuksesan bagi suami, tetapi apabila dominasinya cenderung negatif maka akan membawa kehancuran suami.
8. Wanita pencemburu
Dia selalu mencari alasan untuk cemburu. Bahkan melihat pasangan hidup sedang membicarakan pekerjaan dengan teman kerjanya saja dikuntit. Bahkan sesama wanitapun bisa saling cemburu karena tidak mau dikalahkan.
9. Wanita suka pamer
Dia suka memamerkan harta yang dimilikinya baik itu pemberian orangtua, suaminya atau hasil jerih payahnya. Tidak hanya harta tetapi juga kepintarannya. Merasa tabungannya sudah banyak, buktu tabungannya diperlihatkan kepada orang lain.
Dan masih banyak tipe wanita yang lain lagi yang tidak tersebut di sini.
Tipe-tipe tersebut dapat saling berkombinasi, tidak mutlak ada pada seorang perempuan, mungkin saja dia punya banyak karakter.
Saya melihat kejahatan kolektif/masal yang terjadi terhadap para wanita.
1. Wanita yang tidak segera menikah, dijuluki perawan tua, dan tidak pernah ada perjaka tua. Wanita yang sudah menikah akan dihormati dibandingkan wanita yang sudah bekerja dan banyak prestasi.
2. Wanita yang tidak segera mempunyai anak mendapat julukan mandul, tanpa belas kasihan
3. Wanita tidak diijinkan memilih jalan hidupnya, apakah mau menikah atau tidak, atau memilih pasangan hidupnya.
4. Wanita sering menjadi objek omongan.
5. Wanita tidak menolak lelaki yang menyukainya, tetapi laki-laki dibebaskan untuk memilih wanita, akibatnya apabila ada wanita yang menolak lelaki pasti disumpahi bakal jadi perawan tua (Semoga Tuhan justru memperluas jalan jodohnya)
Masyarakat merasa menjadi hakim yang hebat atas diri perempuan, bahkan menentukan peraturan untuk perempuan tentang berbagai hal, kalau tidak patuh berarti perempuan mursal, tidak perlu dihormati. Pokoknya dunia ini tidak ada tempat bagi wanita yang tidak mau menjalani pernikahan dan tidak bisa menghasilkan keturunan, walaupun orang itu sepantasnya dimuliakan karena ilmu dan karya-karyanya.
Padahal apabila seorang wanita mencintai sesuatu, maka akan bertahan lama, maka jarang ada seorang perempuan yang ditinggal pasangan hidupya, begitu mudah melupakan romantika masa lalunya, lalu mencari pasangan hidup yang lain. Mereka cenderung mampu menjaga keabadian cinta. Menurut pengalaman seorang perempuan yang pernah dimuat di majalah, dia itu memiliki pacar, karena pacarnya berada di tempat yang jauh, maka hubungan dilakukan dengan surat menyurat. Setelah sekian lama berhubungan, si perempuan ini tidak menerima surat dari pacarnya, padahal dia dijodohkan orangtuanya dengan orang lain. Akhirnya dengan terpaksa si perempuan menerima jodoh yang dipasangkan kedua orang tuanya, walaupun itu menyiksa hatinya. Selang beberapa waktu si perempuan memiliki putra. Dalam waktu sekian lama yang tidak ada surat dari pacar, anak dari hasil perkawinannya sudah tumbuh besar, pacarnya itu mengirim surat. Bagaimana hati si perempuan tidak tercabik-cabik hanya karena ketidaktegasan (leda-lede) seorang laki-laki.
Wanita merupakan implementatif cinta yang terbaik. Ketika muda-mudi berpacaran, siapakah yang harus berkorban dalam implementasi cinta itu. Wanita biasanya akan memberikan apapun yang diminta atas dasar cinta. Oleh karenanya sering terjadi hamil sebelum nikah.

............Yah begitulah wanita......................
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
............................Ada yang benci dirinya
............................Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
............................Ada pula yang berlutu kepadanya

******Maaf ini hanyalah hasil dari pengamatan, mungkin sepihak saja**********Maaf yang merasa fotonya terpajang, saya hanya berkata bahwa pemainnya diperagakan model/seniman****

Wednesday, 16 April 2008

Perempuan-perempuan dan Wanita-Wanita

Gaung Hari Perempuan Sedunia 8 Maret lalu, terus berlanjut hingga 21 April mendatang pada peringatan Hari Kartini.

Ada sebuah buku yang mengungkapkan perjuangan melawan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan, pendidikan yang dikarenakan perbedaan gender. Buku ini dieditori tiga perempuan : Arimbi, Sri Sulistyani, Indriaswati Dyah Saptaningrum dengan gawang 4 penulis pejuang hak-hak kaum perempuan di negeri ini, Rudiah Primariantari, Alberta Rika Pratiwi, Ilsa Nelwan, Gail Maria Hardy.

peremp2.jpg

Sepanjang sejarah peradaban dan kebudayaan manusia banyak sekali kasusu tentang keberdayaan dan ketidakberdayaan perempuan. Dari keratuan Ratu Simha, Ratu Elizabeth I, TribhuwanaTunggadewi, Margareth Tatcher yang menjadi adidaya pada zamannya, hingga ketidakberdayaan para TKW (pejuang devisa) yang nasibnya untung-untungan, para Jugun Ianfu yang menjadi budah kolonial, wanita-wanita di daerah jajahan Palestina, Bosnia dan sebagainya. Manusia yang tidak berhati adalah yang tidak terpanggil nuraninya.

Buku setebal 148 halaman, terbagi dalam 6 bab pokok pembicaraan, secara penampilan memang sangat menarik untuk dibaca. Pasti menjadi konotasi yang positif maupun negatif bagi para pembacanya.

Persoalan gender memang sangat menarik untuk dibahas dari sudut manapun, sosial, politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Perbedaan gender tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga faktor sosio kultural yang dalam hal ini meliputi lingkungan, adat istiadat, kondisi ekonomi, kondisi politik.

Faktor-faktor tersebut menjadikan pemilik tubuh dan sensualitas bukan laki-laki menjadi terbelenggu dan tereksploitasi oleh kepentingan pribadi maupun yang lain. Masyarakat modern menuntut tubuh sebagai mesin produksi.

Penulis buku ini menggunakan pendekatan sejarah- kultural. Rudiah Primariantari dalam “Negara Birokrat dan Ibu (Bapak) Pejabat” berpendapat bahwa usaha perempuan untuk berperan dalam lingkungan publik dimulai pada awal abad 20 dengan berdirinya putri mardiko tahun 1912, disusul oleh organisasi-organisasi yang lain. Usaha emansipasi itu terbias oleh kelompok politik. Mereka pada awalnya menjadi organisasi independent, tetapi lama-lama menjadi organisasi bayangan organisasi politik pria.

Alberta Rika Pratiwi mengungkapkan tentang kemungkinan pemberdayaan wanita melalui konsep kultural 3M (macak, manak, masak). Bagaimana agar konsep tersebut menjadi produktif dan menghasilkan keuntungan ekonomi. Keahlian masak seorang perempuan harus dijadikan alat untuk meningkatkan pendapatan negara dengan industri pangan, industri kuliner. Produksi makanan memberi untung yang lumayan. Keahlian merias harus dijadikan alat untuk menghasilkan uang. Kursus rias, kursus menjahit, kursus foto model telah terbukti mampu mengangkat harkat martabat orang. Lihat saja nasib para foto model dan peragawati semacam Thomas Djorghi, Gunawan, Nadhine Chandrawinata, Marchel Chandrawinata, Mischa Candrawinata, Ivan Gunawan, ratih sanggarwati, keluarga Haque, dan sebagainya. Lapangan ekonomi mereka semakin luas saja. Konsep manak juga harus dihubungkan dengan usaha kesehatan dalam keluarga. Dalam film Korea ditanyakan siapakah sebenarnya tabib paling hebat, pelayan paling hebat, ternyata jawabannya “Ibu”. Wanita sangat berperan dalam kesehatan keluarga.

Sementara itu Rudiah Primariantari cenderung melihat perempuan di lapangan publik. Pada masa pergerakan nasional muncul banyak organisasi wanita yang bersifat agamis dan nasionalis. Akhirnya organisasi-organisasi perempuan cenderung menjadi bias politik para pria.

Alberta Rika Pratiwi memberikan kritikan terhadap perilaku pola makan Ibu-Ibu yang tidak memperhatikan kebutuhan tubuhnya, padahal semakin industries seorang wanita, semakin banyak tuntutan akan makanan sehat. Mereka lebih suka fast food yang diolah dengan peralatan modern dan ditambah zat adiktif. Padahal mesin produksi wanita modern membutuhkan banyak makanan bergizi untuk menunjang vitalitas kerja.

Menurut Ilsa Nelwan, pengaruh adat tradisional dan situasi ekonomi mengakibatkan kesehatan para wanita ketika melahirkan berkurang. Ekonomi ini juga berpengaruh pada kesempatan para wanita dalam mengakses pengetahuan dengan mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Bias gender telah menyebabkan ketidakadilan dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi para wanita. “Surga di telapak kaki Ibu, mungkin….Tingginya angka kematian Ibu ketika melahirkan. kematian tersebut telah diakibatkan oleh keterbatasan informasi, pengetahuan, teknologi dan ekonomi modern dari warga yang bersangkutan. Rendahnya angka kesehatan reproduksi diakibatkan oleh rendahnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan. Hal tersebut terjadi turun temurun.

Perpaduan antara pengaruh adat tradisional dengan kondisi ekonomi telah berakibat pada rendahnya tingkat kesehatan Ibu dan anak, walaupun pemerintah telah mengambil kebijakan politis untuk mengantisipasi rendahnya angka kematian mereka, selain dengan peningkatan pelayanan kesehatan. Terjadi gab (jurang) antara petugas kesehatan dengan rendahnya kesadaran masyarakat dan wanita dalam persepsi dan intepretasi mereka tentang kesehatan masyarakat. Masyarakat biasanya kurang terkonstruk untuk menyiapkan kelahiran baik dari segi materi maupun non materi. Pemerintah dalam meningkatkan pelayanan kesehatan tanpa diimbangi kesadaran pola hidup yang terkonstruk dari masyarakat karena bias gender.

Gail Maria Hardy dalam urainnya “Ketubuhan Perempuan dalam interaksi Sosial: Suatu Masalah dalam heterogenitas Kelomponkya” mengungkapkan kompleksitas masalah perempuan yang diakibatkan oleh heterogenitas kelompok. Di Indonesia permasalahan perempuan tidak lepas dari heterogenitas kelompok. Di Indonesia masalah tersebut diakibatkan oleh hubungan antara laki-laki dan perempuan yang lebih merupakan suatu hubungan hegemoni yang kurang seimbang dan tidak setara. Pihak yang satu berusaha mengubah kualitas hubungan dengan meningkatkan keberdayaannya, sedangkan pihak yang lain justru ingin mempertahankan status quonya agar hegemoni kekuasaan tetap berada di tangannya. Perbedaan gender antara lelaki dan perempuan tidak hanya disebabkan oleh faktor fisik dan biologis, tetapi juga psikologis/persepsi (menimbulkan karakter feminin dan maskulin). Feminitas sebagai pemegang hegemoni belum tentu tidak sukses. Perbedaan gender telah terkonstruk dalam masyarakat me4lalui sosialisasi dan enkulturasi, sehingga mengakibatkan diskriminasi dalam pembagian pekerjaan. dalam sektor domestik kecantikan dijadikan hadiah bagi seorang lelaki, tetapi sekarang kecantikan menjadi simbol aktualisasi diri, alat pertahanan diri, alat meningkatkan prestise sosial dan ekonomi. Jadi tidak benar juga kalau ada yang bilang Cantik itu luka. Karena dengan hanya kecantikan ternyata banyak orang lebih diterima dalam masyarakat. Banyak perempuan terpedaya oleh kelakuannya sendiri maupun diskriminasi gender itu sendiri. Banyak perempuan terpedaya oleh mitos kecantikan, sehingga rela membuang materi untuk beli produk kosmetik, menjadi korban promosi industri kecantikan.

Semakin rendahnya tingkat ekonomi dan status sosial masyarakat wanita, semakin rentan terhadap eksploitasi ketubuhan dan seksualitasnya. Mereka akan terkungkung dalam tugas-tugas domestik. suatu saat akan menjadikan seksualitas dan ketubuhan menjadi modal bisnis industri, jika dia berada dalam tingkat ketidakberdayaannya. Tingkat pemahaman perempuan terhadap jatidirinya, ketubuhannya, seksualitas berbeda-beda, sehingga jalannya pemberdayaan perempuan bersifat heterogen. Kontrol perempuan terhadap kapasitas dirinya tersebut akan menjadi alat pengendali untuk memperoleh otoritas dalam interaksi sosial dan otonomisasi dirinya.

Dengan membaca buku ini, kita akan terbuka terhadap kasus-kasus diskriminasi gender di dalam masayarakat. Dalam kasus pemberdayaan wanita harus ada kemitraan antara pemerintah, lingkungan masyarakat, dan yang bersangkutan. jangan-jangan yang diperjuangkan malah tidak mau tahu.

perempuan.jpgperemp4.jpg

Pemerintah perlu memberi kesempatan kepada para wanita untuk maju dan membebaskan diri dari prasangka-prasangka yang justru menjerumuskan wanita dalam isolasi gender. Pihak perempuan sendiri harus memahami dan menyadari kapasitas dan kekuatanya sehingga tidak menjadi alat. Peran wanita di tengah-tengah publik dan dalam tugas domestik harus seimbang.

Friday, 28 March 2008

Menjadi Kota Destinasi Wisata Terkemuka

Pariwisata merupakan industri terbesar dunia abad 21. Kalau selama ini Bali menjadi kota wisata pertama se-Indonesia, setelah teror bom di Bali beberapa waktu yang lalu, masihkah Bali menjadi nomor 1. Lalu mana yang kedua, katanya Yogyakarta-lah yang nomor dua. Seolah julukan yang ke-2 itu menjadi kian relatif. Yogyakarta pernah menjadi julukan yang ke-dua, lalu setelah gempa bumi 27 Mei 2006, masih mungkinkah menjadi ke-dua atau bahkan menjadi terkemuka. Beberapa waktu yang lalu seorang pembicara di Seminar juga menyebutkan bahwa Lagoi merupakan kota wisata yang kedua setelah Bali. Mungkin nanti ada beberapa daerah lain juga yang menjuluki diri mereka menjadi kota wisata kedua setelah Bali. Siapa yang memberi julukan itu ?
Bali terkenal dengan pantai-pantai surganya, Lagoi juga punya, Banten juga punya, Yogyakarta yang terletak di utara Samudera Indonesia juga punya pantai-pantai surga, tetapi kenapa hanya Bali yang dikenal di luar negeri. Indonesia just Bali, why? Mungkin Provinsi yang sangat terkenal melebihi negaranya adalah Bali (???????). Seorang siswa SMU yang sedang mengikuti AFS (Program pertukaran pelajaran) di Amerika, ditanyai temannya, Where are you coming from ? Dia menjawab : I am from Indonesia, kemudian temannya tadi bertanya balik : Indonesia? Where is it ? Indonesia is Bali ?. Mungkin dengan muka agak kemerah-merahan pelajar Yogyakarta tadi menerangkan bahwa Indonesia bukan hanya Bali, tetapi ada beberapa Pulau. Bagaimana ya kalau dia mengaku dari Yogyakarta ? Mungkin juga akan bertanya Yogyakarta, where ?. Itu dulu. Entahlah apakah ketika PH asing mengadakan syuting di Kalimantan (Borneo), apakah mereka masih merasa ada d Indonesia, jangan-jangan persepsi mereka tentang Borneo adalah bagian Indonesia juga kacau lagi. Tetapi kita patut lega juga ketika beberapa mahasiswa asing yang studi di Australia mengatakan hal-hal tentang Yogyakarta, misalnya ada yang bilang Yogyakarta is harmony city, ada juga yang berkata Yogyakarta identik dengan Kasultanan. Jadi Yogyakarta masih aman. Kenapa Bali begitu terkemuka ? Ternyata walaupun di Bali ada keterbukaan terhadap pendatang asing, tetapi kebudayaan lokal masih terjaga dengan baik. Penduduknya adalah pemuja kebudayaan lokal, tetapi sangat friendly terhadap budaya lain. Banyak penduduk lokal yang mau menikah dengan orang asing. Mereka mendapat mata pencaharian dari kedatangan turis-turis mancanegara. Agen promosi dari mulut ke mulut tentang Bali telah menjadikan Bali sering dikunjungi turis. Mereka datang menambah devisa negara. Dalam diri mereka tertanam kenangan yang terindah tentang kehidupan masyarakat dikombinasi keindahan alamnya, sehingga mereka menyiarkannya kepada yang lain, baik face to face maupun melalui teknologi informatika. Jadilah Bali semakin terkemuka. Yogyakarta memiliki modal pariwisata yang pantas didaya saingkan. Yogyakarta menyimpan pusaka budaya, pusaka alam, pusaka budaya dan alam, pusaka saujana. Kita sebut saja Candi Prambanan, Taman Sari, Kraton Yogyakarta dan Puro Pakualam, Candi Kalasan, Candi Boko, Candi Sambisari, Museum Sonobudoyo, Museum Ullen Sentalu dan masih banyak lagi. Di samping itu masih ditemukan desa-desa dengan banyak potensi baik budaya tradisional, kerajinannya maupun keindahan alamnya. Pantai-pantai yang membujur dari ujung tenggara Gunung Kidul hingga titik paling barat Kulon Progo dengan ciri khas keindahan masing-masing, pantai sadeng, Kukup, Krakal, Wedi Ombo, Baron, Samas, Parang Tritis, Pandan Simo dan lainnya. Juga ada faktor hidden tourism capital lainnya. Pusaka-pusaka ini menjadi daya tarik bagi orang asing untuk datang ke sini. Lalu kenapa Yogyakarta masih menempati rangking ke-dua, bahkan itu pun masih ada daerah lain yang dianggap sebagai daerah wisata ke-dua, selalu setelah Bali.
Kalau kita melihat data kunjungan wisatawan yang datang ke Indonesia maka dapat dikatakan bahwa sejak tahun 1998 jumlah wisatawan yang masuk ke DIY mengalami penurunan. Pada tahun 1995 wisman yang datang ke DIY sebanyak 344.000; wisnus sebanyak 837.000. Pada tahun 1996 wisman yang datang 351.000; wisnus yang datang 901.000. Pada tahun 1997 DIY dikunjungi 277.000 wisman dan 638.000 wisnus. Pada tahun 1998 DIY dikunjungi 78.000 wisman dan 309.000 wisnus. Pada tahun 1999 wisman yang berkunjung ke DIY sebanyak 73.000; ada wisnus sebanyak 440.000 orang. Pada tahun 2000 wisman yang telah berkunjung sebanyak 78.000 orang dan wisnus sebanyak 540.000 orang. Sebanyak 92.000 wisman dan 739.000 wisnus berkunjung ke DIY pada tahun 2001. Pada tahun 2002 DIY dikunjungi wisman 90.777 orang dan wisnus sebanyak 888.360 orang. Pada tahun 2003 DIY dikunjungi wisman sebanyak 95.629 orang dan wisnus sebanyak 1.234.690 orang. Pada tahun 2004 DIY dikunjungi wisman 103.401 orang dan wisnus sebanyak 1.792.000 orang. Pada tahun 2005 DIY dikunjungi 103.488 wisman dan 1.850.683 wisnus. Pada tahun 2006 kunjungan wisman menjadi menurun hingga sebanyak 78.145 orang wisman dan 914.824 wisnus. Dari kunjungan-kunjungan tersebut, dapat dilihat bahwa 21,50 % wisatawan berkunjung ke situs-situs sejarah; 21,35 % ke peninggalan budaya; 19,46 % ke ekowisata; 5,53 % cenderung pada wisata belanja; 4,40 % untuk wisata malam, dan 3,53 % ke objek lainnya.
Dilihat dari data dia atas tampak ada penurunan wisatawan yang berkunjung di Yogyakarta sejak tahun 1998 - 2003. Kalau dilihat situasi saat itu memang Indonesia sedang terjadi masa transisi dari era Orba ke era reformasi, yang diwarnai dengan kericuhan-kericuhan. Ketika kunjungan itu sedang meningkat hingga 26,10 % pada tahun 2004, pada tahun 2006 kunjungan wisatawan turun hingga 50,57 %. Gempa bumi 27 Mei 2006, Merapi meletus sekitar bulan itu juga, masih pada saat yang sama juga tsunami di pantai selatan. Sebelum gempa pada bulan Juni-Oktober 2005, wisatawan yang mengunjungi Candi Prambanan mencapai 392.712 orang, setelah gempa bumi Juni-Oktober 2006 hanya ada 105.652 wisatawan yang berkunjung ke sana.
Selain faktor alam yang mempengaruhi daya tarik wisata, ternyata terletak pada kurang berkelanjutannya pemeliharaan objek wisata. Banyak sekali objek wisata di DIY, tetapi belum ada update terhadap performance objek wisata tersebut. Semestinya setiap objek wisata memiliki sesuatu yang lain daripada yang lain, ada ciri khasnya. Ada beberapa objek wisata yang telah mengutamakan kebersihan, baik ruang pandangnya maupun fasilitasnya, tetapi ada beberapa objek pariwisata yang kurang peduli kebersihan, tidak memiliki toilet yang memadai. Saya pernah melihat beberapa objek wisata yang semakin hari bukannya bertambah enak dipandang, tetapi justru semakin kumuh, kolamnya kering, pohon-pohonnya meranggas. Update-update, pembenahan, penambahan daya tarik sebuah objek wisata jarang terjadi. Contohnya saja, untuk wisata sejenis taman air (danau, waduk, telaga), biasanya airnya dibiarkan mengering kalau kemarau, pepohonannya juga meranggas, lingkungannya tandus, berdebu, sampah berserakan. Di sana-sini rumput ilalang tumbuh. Sarang nyamuk tumbuh di sekitarnya, fasilitasnya tidak terawat, tidak ada kegiatan, dan lain sebagainya. Kalau objek wisata tidak bersih ini yang salah pengunjungnya atau pengelolanya, yang pasti keduanya bertanggungjawab. Gedung-gedung yang sudah layak, gempil juga tidak diperbaiki, dicat lagi, kalau untuk BCB sih memang nggak masalah, tetapi fasilitas lainnya khan harus kelihatan bersih, nyaman, enak digunakan, dan enak dilihat.
Oleh karenanya perlu ada gerakan sadar wisata. Wisatawan domestik sepatutnya memperkuat pariwisata di daerahnya. Kalau mau piknik ya jangan lupa mengunjungi objek wisata di daerahnya, daerah tetangganya. Penduduk di sekitar objek wisata semestinya terlibat dalam pemeliharaan, pelestarian objek wisata di situ, ikut promosi dari mulut ke mulut. Kerjasama dengan daerah tetangga untuk membuat paket wisata unggulan tidak boleh lelah dilakukan. Antara daerah yang satu dengan yang lainnya ada hubungan simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, saling mempromosikan. Misalnya saja untuk memperlama waktu tinggal para wisatawan di Indonesia, membantu memancing kunjungan dari daerah satu ke lain. Misalnya : ada rombongan dari Australia yang mengunjungi Bali, tidak ada salahnya ditarik ke Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari Borobudur tidak ada salahnya turis dipancing untuk meneruskan ke Prambanan.

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan