Thursday, 26 March 2009

PROFESIONALISME ATAU TAMPANG ATAU NAMA KELUARGA?

Mungkin ada beberapa orangtua yang menganggap sinetron/film sebagai perusak generasi muda karena telah menularkan anti kearifan, semuanya serba instant, lahirlah generasi-generasi mall, membodohi dan membingungkan masayarakat Indonesia. Semuanya mengikuti pasaran. Nilai jual sinetron biasanya dilihat juga oleh pemainnya, mungkin tampangnya dan mungkin pula karena aktingnya. Namun kalau dilihat dari industri seni, maka sinetron/film yang akhir-akhir ini booming sebagai pertanda majunya industri seni di Indonesia, walau tidak sedikit dalam proses kreatif ada kemiripan dengan film/sinema negara lain, apakah ini memang sama atau memang ada unsur plagiat. Tanya saja ke rumput yang bergoyang atau pada buaya yang sedang mandi di kali.

Seorang tukang kayu dilihat dari hasil kerajinannya, seorang pandai besi dilihat dari pedang atau karyanya yang lain, seorang tukang batu dilihat dari daya tahan bangunan yang dibangunnya, seorang dosen dilihat dari bagusnya cara mengajar, tukang becak dilihat dari kehati-hatian dan kecepatan mengayuh, lalu seorang artis penyanyi atau sinetron dilihat dari apanya? Kalau penyanyi ya suaranya, kalau pemain film/sinetron ya aktingnya, tetapi itu menjadi faktor 20 % keberuntungannya tanpa ditunjang penampilan fisik atau nama keluarga.

Baru saja film Dae Jang Geum selesai disiarkan kembali oleh Indosiar. Film itu dimainkan oleh Ms. Lee Young Ae, yang waktu shuting usianya melebihi 30 tahun, padahal Jang Geum di situ berumur 18-25 tahun, hingga dewasa. Saya tidak melihat dia canggung memerankan gadis yang masih remaja. Apakah itu make up atau memang pendalaman karakter Ms Lee yang baik atau memang dia awet muda. Padahal saya melihat sinetron-sinetron/film Indonesia itu kebanyakan perempuan di aats 28 tahun sudah dipasang menjadi Ibu-Ibu yang memiliki anak remaja. Seolah-olah artis-artis Indonesia itu apabila sudah berumur di atas 28 tahun pantasnya jadi Simbok-Simbok, dan yang menjadi anaknya, yang disitu remaja dimainkan anak SD kelas V atau VI. Apakah ini juga profesionalisme atau memamng karir film di Indonesia bagi seorang artis itu terbatas pada umur, karena di Barat, banyak artis-artis yang tua justru dipajang di sana menjadi pemain utama. Dan memang mereka semakin tua semakin matang dalam aktingnya.

Saya melihat film Hareem di Indosiar, di situ saya melihat pemainnya berakting dengan baik, walaupun ceritanya tidak dapat dicontoh banyak kaum lelaki di Indonesia, yaitu kehidupan poligami. Di situ seorang suami sampai tidak tahu isterinya selama itu melakukan kekerasan terhadap isteri yang lainnya. Salah satu isterinya adalah Innayah, gadis remaja yang dipaksa kawin dengan Kanjeng Dasa, seorang juragan kaya raya yang suka poligami. Innayah bersaing dengan isteri yang lain, dia paling lemah dan mudah berdaya. Innayah ini berhasil dimainkan oleh Shandy Aulia. Setahu saya dia itu seorang Kristiani, tapi dia mampu memainkan seorang gadis muslimah dengan baik.

Demikian juga dengan seorang Shandy Nayoan yang memainkan Midun dalam sinetron Sengsara Membawa NIkmat. Dia berhasil memainkan seorang muslim hingga tak seorangpun mengira kalau dia itu Kristen.

Kemudian Pak Benyamin Suaib yang suka main di film-film Betawi, betul-betul dia berakting, bahkan temannya mengatakan kalau dirinya berakting tanpa naskah. Dia pun berakting dengan ciri khas Betawi. Sampai saat ini masih sulit dicari artis-artis yang mampu bermain dengan karakter Betawi itu, dia sulit tergantikan.

Ariel Peter Pan memiliki kans untuk menjadi penyanyi legendaris, tetapi apakah dia mam[u bertahan dengan sebuah permainan besar, yaitu perempuan. Suaranya khas, lagunya hits, disukai penggemar, lalu apakah dia bisa full tnapa permainan dengan perempuan?

Tuesday, 24 March 2009

Sembadane Pemimpin Kayak Pak Harto

Masih merah makam Pak Harto di Astana Giribangun, dan cerita-cerita tentang Pak Harto masih terucap di lidah-lidah rakyat Indonesia. Saya pikir ini amanah bagi saya untuk menyampaikan kepada siapa saja tentang hal ini agar menjadi pelajaran kepemimpinan. Saya mendengar ini dari orang-orang yang memiliki kesan yang baik ataupun tidak baik. Ada plus minusnya lah, semoga yang baik bisa dilestarikan, yang tidak baik dikurangi. Banyak rakyat yang masih sangat simpati dan memuji-muji kebaikan Pak Harto, bahkan ikut menyaksikan ritual pemakaman jenazahnya.

"Yah, memang Pak Harto itu ada korupsinya, tapi dia itu sembada memakmurkan rakyatnya, harga kebutuhan hidup relatif stabil, keamanan terjamin. Sekarang ini uang 10.000 per hari tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Harga terus membumbung. Mampu berswasembada, nasionalisme betul-betul dijaga, kuat-kuat mempertahankan Aceh dan Timor Timur. Setiap tindakan anarkhis langsung ditindak agar tidak mengganggu keamanan"

"Anak-anaknya Pak Harto yang membuat Pak Harto terjebak pada suatu permainan besar, dan anak yang terbaik dari Pak Harto hanya Mbak Tutut Hargiyanti Rukmana, yang lain suka rebutan harta dan main perempuan".

"Wah, pas jamannya Pak Harto, gak mungkin aku jadi PNS, lha wong apa-apa ditentukan orang dalam, kalau ngggak punya kerabat atau nyuap nggak bisa masuk PNS, boro-boro PNS, jadi honorer juga nggak ada yang mbawa, sekarang ini apa-apa test"

"Pas jamannya Pak Harto makmur sih, ning kudune enthuk dhog 10 dadi enthuk dog siji, harusnya dapat telur 10 hanya dapat untung 1"

"Wah, itu lihat rakyat yang ada di sekitar pembangunan waduk Gajah Mungkur, tidak menerima ganti sepeserpun..............."

"Mana ada aliran-aliran agama yang lain yang ada ya hanya Islam, Katolik, Kristen, Budha, Hindu, dan kepercayaan, tidak ada yang sesat...................."

"Setiap orang banyak bicara yang mengganggu ketenangan dan ketentraman, harus ngadepin TNI............."

"Dia mulai jadi presiden ketika zaman gak enak, sampai apa-apa jadi enak, kalau dia mendapatkan imbalan ya wajar.............swasembada dan ekspor beras, Indonesia diakui suaranya di PBB, mengirimkan pasukan perdamaian ke mana-mana, sekali Pancasila tetap Pancasila, semuanya dilabeli Pancasila.............."

"Supersemar ki akal-aklane Pak Harto mesti, untuk mengesyahkan kekuasaannya.........."

"Supersemar benar-benar ada, supersemar sebagai sk agar pak harto dapat menindak PKI secara syah, takutnya kalau tanpa SK, tindakan Pak Harto menghabisi PKI dianggap salah oleh aturan kenegaraan tanpa SK, makanya kalau Pak Harto setengah memaksa Pak Karno dalam tanda tangan dengan sedikit gertak, karena Pak Karno tidak mau diminta cepat-cepat, baru sakit mungkin beliaunya, sedangkan PKI sudah merajalela,..................................."

"Pokoke aku nggak ngerti bab supersemar, tahuku pada zaman Pak Harto, para tani makmur, dapat swasembada pangan, ke mana-mana aman, partainya nggak banyak-banyak........"

"Pak Harto itu sebagai pemimpin Pancasilais banget, Sabang sampai Merauke terjaga, tidak ada yang berani memberontak, upaya pembangunan dan pembinaan daerah terpencil betul-betul dilakukan, berapa juta saja yang uang Indonesia lari ke Timur-Timor, para pejabat Timor Timur yang kaya-kaya..................."

"Pak Harto membuat banyak orang dapat menyelesaikan kuliahnya dengan program beasiswa"

Dan masih banyak lagi kesan-kesan tentang Pak Harto.

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan