Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

Saturday, 5 July 2008

Cikal Bakal Peradaban Merapi

Kalau menyebut Merapi, ada banyak kata kunci yang akan menjelaskannya gunung di tengah Pulau Jawa, milik orang Jawa Tengah dan Yogyakarta, kalau lagi aktif sungguh meresahkan, kalau lagi anggun mempesona, kalau lagi sakit mengeluarkan lendir dan dahak berupa wedus gembel dan lahar, gunung yang sudah tua, labuhan, tempat lahirnya Mbah Maridjan yang rosa, Kaliurang, puncak utaranya Yogya. Merapi terbentuk selama ratusan ribu tahun yang lalu secara periodik. Bahan-bahan material yang terus menggunung, kemudian luruh dengan sendirinya, membentuk perisai Merapi. Setiap Merapi melakukan pembenahan-penyembuhan diri secara alami, akan meresahkan lingkungannya, tetapi ketika masa rehabilitasi itu selesai maka banyak komunitas yang menggantungkan kehidupan di sekitarnya, sehingga lahirnya peradaban yang unggul. Bahan-bahan material yang dilahirkan dari rahim Merapi merupakan kekayaan yang tiada terkira bagi kehidupan. Sungai-sungai sebagai jalan bagi laharnya juga menghasilkan peradaban di sekitarnya. Kalau Yogyakarta masih menjadi hutan-hutan mungkin dulunya masih merupakan kaki Merapi.

Cerita ini terjadi pada sekitar tahun 500 M (berdasarkan prasasti Tuk Mas 500 M). Prasasti Tuk Mas ini berhubungan dengan isi prasasti yang lain (Canggal, Dinoyo, Matyasih, Kelurak, Plaosan Lor, Prambanan, Mungguatan) yang menceritakan Mataram Kuno. Dapat diduga kalau ada perjalanan sambung menyambung antar dinasti di Mataram Kuno.

Data dan berita sebelum masa Mataram Kuno sulit sekali ditemukan. Hanya sebuah prasasti Tuk Mas yang berisi relief kehidupan di dalam gua yang pertama ditemukan. Hal itu belum bisa menjelaskan semua cerita yang ada. Ada cerita besar apa di balik prasasti itu.
Berita Cina Dinasti Tang menceritakan sebuah Kerajaan yang namanya Kaling (kalingga). Problema bahasa meragukan kebenaran cerita. Kehidupan kerajaan itu kira-kira pertengahan abad 7. Kalau tuk mas menceritakan tahun 500 M, itu berarti Kaling telah ada sejak masa itu, hanya saja pada pertengahan Abad 7 itulah Kaling mengalami kejayaan atau ada Kerajaan cikal bakal Mataram Kuno yang lain. Waktu itu kerajaan Tarumanegara (Citarum) sudah jarang diceritakan orang, hanya Holing atau Kalingga.
Ada dugaan kalau Kaling itu merupakan keturunan India, Dinasti Harsya (Kalinga India) yag telah dimusnahkan oleh Kerajaan di India. Imigran dari Kaling, India ini mencoba nasib di wilayah seberang dan membentuk peradaban Kaling di Jawa.
Ada sebuah sumber kalau dulu ada Raja namanya Sanaha. Dalam buku catatan Cina (abad 7-10M) lebih banyak memuata Kerajaan Holing di Jawa. Holing (Kalingga) dinyatakan sebagai kerajaan yang makmur, penghasil beras, emas, gading (barang dagangan). Ibukota kerajaan dipagari kayu dan atap rumai-rumbai. Raja duduk di singgasana gading, istananya bersusun (tinggi), ketika ada pisowanan rakyat duduk di bawah. Rajanya biasanya bercengkerama sambil melihat danau/telaga/lautan di daerah pegunungan pada dataran tinggi Lang Pi go (Dieng). Mungkin yang dimaksud orang Cina tadi adalah rawa Pening atau mungkin Pegunungan Ungaran, masih banyak dugaan. Sering kali utusan Holing datang ke Cina.
Pada waktu itu orang-orang Holing sudah mengenal arak dari endapan air kelapa (mungkin legen) untuk menghangatkan badan. Mereka makan dengan tangan.
Di Kaling juga disebutkan ada Raja perempuan yang sangat sakti, adil, tegas dalam menerapkan disiplin kerajaan. Bagi sipa saja yang mencuri akan dihukum setimpal. Dia tidak mau ada kebatilan di Kerajaan sedikitpun. Mungkin wajarlah kalau di daerah Jawa Tengah banyak bupati perempuan, seperti Ibu Rustriningsih. Waktu itu kira-kira akhir abad 7 M, dia, Simha, Simo, memerintah dengan menegakkan hukum secara tegas, untuk menjaga ketertiban dan ketentraman. Diapun berhasil sehingga tidak seorangpun yang berani menyentuh barang-barang milik orang lain. Cerita ketertiban di Kaling ini tidak dipercayai Raja lain (Ta-che) sehingga dia sengaja mau mencobain warga Kaling. Benar, tidak satupun menyentuh pundi-pundi emas yang dipajang di jalan. Malang tidak bisa ditolak, setelah tiga tahun tidak seorangpun yang menyentuhnya, putra mahkota justru menendang pundi-pundi itu. Betapa Raja Tache tertawa terbahak-bahak berhasil mengerjain Raja perempuan itu mungkin. Ratu Simha dengan tegas menetapkan hukuman mati dipancung kepalanya bagi putra mahkota. Para menteri membujuk Ratu Simha agar tidak menghukum putra mahkota karena tidak mungkin dilakukannya, atau membujuknya agar hukuman diperingan. Hukum harus ditegakkan, jari kaki putra mahkota lah yang dipotong. Menurut catatan perjalanan Itsing (musafir Cina) bahwa pada tahun 644 ada seorang ahli filsafat dari Tionghoa yang bernama Wuining, dia mengunjungi teman sejawatnya yang Jawa tulen, namanya Djnanabadhra. Mereka menterjemahkan naskah Budha Hinayana, ke dalam bahasa Tionghoa.
Penguasa selanjutnya kerajaan di sana yaitu Sanjaya. Sanjaya diceritakan memiliki hubungan dengan Simha, mungkin anak, mungkin saudara. Dalam berita Cina menyatakan bahwa penguasa Mataram Kuno waktu itu beragama Budha, ayahnya beragama Hindu. Ibu dari Sanjaya adalah Raja perempuan yang sangat sakti yang memerintah Holing, yakni Simha. Ada berita lain yang menyatakan dia saudaranya Simha. Tidak pernah ada cerita tentang Sanjaya yang kakinya dipotong oleh Ibunya. Sanjaya-lah peletak dasar Mataram Kuno. (bersambung)

Thursday, 22 May 2008

Mengenang 27 Mei 2006 di Yogyakarta

Berdasarkan berbagai sumber sejarah tentang gempa dan bencana, ditemukan bahwa bencana gempa 27 Mei 2006 di DIY dan Jateng bukanlah bencana pertama yang hebat di Yogyakarta, karena puluhan tahun yang lalu, bahkan ratusan tahun yang lalu telah terjadi gempa dan bencana yang dampaknya juga sangat besar. Bencana tersebut ada yang disebabkan oleh gerak lempengan bumi maupun kegiatan vulkanik Gunung Merapi.
Salah satunya yang terjadi pada tahun 1672 yang mana Merapi menghasilkan awan panas dan lahar hujan yang menelan korban 300 korban jiwa.
Kemudian pada tanggal 10 Juni 1867, pukul 04.30 pagi yang menyebabkan kerusakan dan kerugian di Yogyakarta. Banyak bangunan dan rumah-rumah roboh termasuk Tugu. Ada meninggal dalam gempa itu, yaitu 326 orang Jawa, 50 orang Tionghoa, 15 orang Eropa. Yang terluka 376 dari Jawa, 13 orang Tionghoa, dan 10 orang Eropa. Kerugian yang diderita kira-kira f 672.000. Gempa tersebut diakibatkan oleh kegiatan vulkanik Gunung Merapi.
Pada tahun 1930-1931 berupa letusan normal, aliran lava dan lahar hujan dengan korban 1369 meninggal. Kemudian pada tahun 1961, 1969, 1972/1973, 1994.
Siapa yang akan menyangka bahwa pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu itu akan terjadi gempa atau bencana yang pusatnya justru di arah selatan? Hari yang begitu mencekam. Bumi terasa gelap, gelap gulita. Ketika bangunan runtuh menyatu dengan tanah. Banyak jazad terpisah dari nyawanya ketika itu.

Skenario Tuhan yang di luar rencana manusia.


Berbagai media telah memberitakan tentang kemungkinan terparah dari menaiknya aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Setiap saat mereka memantau perkembangan Gunung Merapi. Penduduk sekitar Merapi pun telah menyingkir ke tempat pengungsian karena Pemerintah telah menyediakan barak pengungsian. Sejak empat bulan terakhir itu, kurang lebih 3.178 jiwa penduduk di Sleman Utara berusaha menghindari ancaman erupi Merapi. Hanya ada satu orang yang tidak mau mengungsi dari kediamannya, yakni Eyang Maridjan (anak-anak suka salah menyebutnya Mbah Marjan, karena ada iklan sirup Marjan), juru kunci Gunung Merapi yang konon telah dipercaya Pak Sultan HB IX untuk menjaga kehidupan Gunung Merapi hingga akhir hayatnya. Tidak seorangpun bisa membujuknya untuk meninggalkan kediamannya. Dengan firasat ilmu titennya dan semboyan "rosa-rosa" dia menjalankan prinsip hidupnya sebagai abdi yang akan konsisten sepanjang hidupnya terhadap titah yang diembannya dari Sang Maha Kuasa dan dari Sultannya.

Berhari-hari warga Yogyakarta terutama di kawasan utara hidup dalam was-was. Mereka mungkin telah membayangkan apa yang terjadi seperti dalam film "Volcanoes". Di mana di suatu daerah yang dulunya adem ayem telah digemparkan oleh ulah seorang anak setengah dewa. Penduduk menganggapnya gadis abnormal, titisan syetan. Untung ada tamu yang datang yang menangkap petunjuk-petunjuk mistik tentang akan meletusnya sebuah Gunung di wilayah tersebut. Mereka tidak percaya karena Gunung itu sudah mati, jadi tidak mungkin meletus. Dilihat dari rentetan lukisan anak gadis tersebut yang tersebar di gua, dapat disimpulkan kalau Gunung tersebut akan meletus pada saat purnama tiba. Kemudian anak gadis tersebut justru dipasung. Ketika tubuh gadis itu bisa terbang, mereka justru menuduh kalau dialah gadis titisan syetan, tetapi kenyataannya memang dia diberi kekuatan supranatural. Akhirnya apa yang disaksikan gadis itu terjadi dan gadis itulah yang pertama kali mengetahui ke mana dan di mana mereka akan menyelamatkan diri dari lava yang jatuh menyebar di sekitar Gunung Mati itu.

Warga Yogyakarta bagian utara khawatir tentang kemungkinan-kemungkinan larinya bebatuan dan lava, bahkan media telah menggambarkan jangkauan maksimal larinya lava. Ternyata kejadiannya lain, justru punggung Gunung ada yang ambrol.

Beberapa anak sekolah disibukkan dengan sholat dhuha di lapangan agar terbebas dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik. Ujian-ujian anak-anak sekolah dan kegiatan lain dirasa kurang tenang. Bahkan beberapa anak yang sekolah di dekat Gunung Merapi (sekitar Pakem) sudah tidak mau berangkat ke sekolah. Mereka takut ketika lagi belajar, Gunung Merapi meletus dan lahar mengalir sampai di depan sekolahnya. Konsentrasi belajar pun terbagi dengan perhatian terhadap Gunung Merapi yang bisa mereka lihat di jendela.

Sebuah sekolah yang baru berdiri di Yogya Utara, yang ingin memadukan pendidikan agama dan pendidikan modern sedang gencar dengan kegiatan pentas untuk mempromosikan sekolahnya ke beberapa desa. Salah satunya acaranya yaitu pentas membacakan arti Al Qur'an dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Melihat apa yang terjadi pada Gunung Merapi, seorang Guru mempunyai ide untuk mendeklamasikan terjemahan Surat Al Zalzalah. Beberapa hari kemudian anak-anak mementaskan pembacaan Surat Al Zalzalah berikut artinya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yang jelas Surat Al Zalzalah dalam Al Quran kurang lebih bercerita tentang keguncangan, yakni hari ketika bumi diguncangkan dengan dahsyatnya, bumi mengeluarkan segala isinya, manusia hanya bertanya-tanya tentang apa yang tidak diketahuinya. Dan pementasan yang mereka lakukan selalu membaca Al Quran : Surat Al Zalzalah, terjemahan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Itu selalu pakai ayat itu, karena mereka sudah hapal.
Di luar nalar ketika seorang anak yang baru tenang-tenangnya belajar tiba-tiba mendengar suara genderang yang membuatnya takut sekali. Dia takut sekali dengan kejadian itu. Dia was-was, kalau terjadi sesuatu padahal dia belum mohon ampunan pada Tuhan. Dia justru membayangkan suatu kiamat.

Beberapa bulan kemudian, pagi 27 Mei 2006 jam 6 kurang sedikit (05.55 WIB) bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah betul-betul diguncangkan dengan kekuatan 5,9 SR (BMG) dengan pusat gempa pada kedalaman 10 Km. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap. Semua berteriak dalam berbagai bahasa, "Oh my God........", "Duh Gusti.........", "Allahu Akbar.....Allahu Akbar" lari-lari ke luar rumah, kemudian bersujud, dan ada yang yang masih tertidur, dan ada yang baru memasak, menyiapkan diri hendak ke sekolah dan atau bekerja. Ada yang memutuskan untuk berangkat bekerja atau bersekolah dan ada pula yang tidak ingin pergi ke mana-mana apalagi setelah ada pengumuman melalui radio yang mengatakan bahwa akan ada gempa susulan. Semuanya melihat ke arah utara, jangan-jangan Merapi benar-benar meletus seperti yang diperkirakan beberapa media dan orang.
Waktu itu ada yang masih di dalam rumah, berbaring menunggu hari agak terang. Beberapa Ibu menyiapkan makanan di dapur. Ada juga yang sudah pergi kerja atau belajar. Akibatnya ya ada yang sempat lari menghindari bahaya, ada yang masih tertinggal.

SMS Estafet yang menyesatkan

Beberapa sekolah sedang mengadakan ujian tengah semester maupun ujian-ujian lainnya, jadi hari itu tidak libur. Guru-guru yang bertanggung jawab pasti datang pada hari itu.

Beberapa waktu kemudian seorang wali murid mengatakan kalau akan ada gempa lagi. Kemudian baru saja bicara begitu dia membawa hp yang ada SMS-nya bahwa telah ada beberapa orang tewas dalam kejadian itu dan air laut sudah bergerak ke utara sambil mbrebes mili (airmatanya mengalir). Spontan saja semuanya panik. Hal itu dipicu oleh situasi di sekitar, banyak kendaraan lari ke arah utara. Wali murid bingung dengan anak-anaknya, guru-guru juga bingung menyelamatkan muridnya. Keringat, air mata, bercucuran. Detak jantung berdetak kencang. Mereka sibuk menyelamatkan diri, terpisah dari keluarga. Ada anak yang hilang. Banyak kendaraan ditinggal sebelum dikunci. Mana waktu itu harus antri BBM. Sampai saat itu rakyat Yogya Utara tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan saudara-saudaranya di arah selatan dan timur, sekitar patahan sesar Opak. Mereka masih bingung dengan isu tsunami. Orang yang di Jetis berkata kalau air sudah sampai Malioboro. Orang yang ada di Jatimulya berkata kalau air sudah sampai Wirobrajan. Banyak orang kebingungan mencari jalan keluar. Padahal ada banyak orang di wilayah selatan yang tidak kena dampak gempa (mukjizat) justru lagi bersantai di dalam rumah. Betapa kagetnya ketika melihat rumah penduduk di sekitarnya ambruk rata dengan tanah. Beberapa station HP off hari itu. Dua pihak yang dianggap sangat berjasa adalah stasiun radio dan Kantor Kepolisian. Dari merekalah kita tahu bahwa pada hari itu telah terjadi gempa hebat yang semoga tidak terulang kembali sampai ribuan tahun yang akan datang. Pusat gempanya ada dari arah selatan. Radio Sonora yang berhari-hari menemani warga Yogyakarta, baik yang di dalam tenda maupun sudah di dalam rumah. Selama berbulan-bulan warga Yogyakarta diserang shock berat, takut masuk rumah sendiri, tidak bisa tidur nyenyak, lebih baik tidur di tenda.
Berbulan-bulan memandang atap langit dan tenda, tidur di atas lantai tanah, makan nasi bungkus atau mie. Tenda adalah rumah kolektif mereka

Berita Kehilangan dan Kerusakan

Di Bantul ada sekitar 4.143 jiwa meninggal, ada 779.287 jiwa mengungsi. Rumah yang rusak total sebesar 71,763, rusak berat 71,372, rusak ringan 66,359.

Di Kota Yogyakarta ada 7.186 rumah yang rusak berat, 14.561 rusak sedang, dan 21.230 rusak ringan. Hal tersebut menyebabkan sekiatr 80.368 mengunsi tinggal di tenda.

Di Sleman, sekitar 95.865 keluarga kehilangan tempat tinggal, lebih dari 246 jiwa melayang, dan 3700 orang luka-luka. Kecamatan Berbah tercatat mengalami kerusakan terparah, disusul Prambanan dan Kalasan.

Kantung-kantung budaya (desa budaya dan desa wisata) yang ada di Kab Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulon Progo yang mengalami rusak, bangunan-bangunan pusaka menjadi lebih cepat rusak, karena sebelum gempa ada beberapa yang sudah rusak, misalnya rumah-rumah Joglo di Kotagede, Masjid Gedhe Mataram, Taman Sari, Komplek Candi Prambanan, Kraton, Tugu, Komplek Makam Imogiri, Puro Pakualaman, Komplek Candi Plaosan, Komplek Candi Lumbung, Komplek Candi Sewu, Kawasan Plered, Malioboro, Makam Bayat, Gerja Ganjuran, Masjid Agung Yogyakarta dan lain-lain.

Sukarelawan

Setelah kejadian itu warga masyarakat lainnya yang kebetulan beruntung, berusaha membantu para korban bencana.
Ibu-Ibu di kampung-kampung lain memasak nasi dengan lauk apa adanya untuk dikirimkan ke kampung korban gempa. Banyak orang yang mengumpulkan dana untuk dikirim di sana. Dari luar negeri berbondong-bondong sukarelawan gempa mengunjungi daerah korban gempa. Mereka ada yang membawa donor dari Negara mereka, ada yang merupakan dokter, ahli bangunan, dan lain sebagainya. Di sekitar rumah penduduk para sukarelawan ada yang mendirikan tenda atau rumah non permanet di sana. Ada pula yang tinggal di rumah teman-teman mereka yang ada di Yogyakarta.
Dari kabupaten Provinsi lain juga berdatangan secara kolektif maupun pribadi membawa truk untuk membersihkan reruntuhan gempa.

Sukarelawan yang Punya "Aji Mumpung"

Beberapa truk datang untuk membantu membersihkan reruntuhan gempa. Mereka bergotong royong dengan penduduk. Di sana ditemukan banyak harta korban gempa. Bisikan haluspun tidak terdengar, selain rasa keberuntungan menemuka barang mahal. Siapa yang menemukan dia yang memiliki. Harta benda tersebut ada yang lari ke kantung, namun bagi yang jujur pasti akan diberikan ahli warisnya. Sukarelawan tadi mengamalkan filosofi "Mu Pek" (ketemu dipek).
Bahkan ada yang pura-pura pinjam motor milik korban bencana, untuk membeli bahan material, lalu dibawa lari betulan.

Keajaiban di Tengah Gempa

Gempa telah menyibukkan banyak orang untuk upaya penyelamatan diri. Suara gaduh dan ribut telah mendorong seorang penderita stroke untuk ikut menyelamatkan diri. Dia berusaha berlari sekencang-kencangnya bahkan setelah isu tsunami segera meraih motor. Setelah kejadian itu dia terkejut melihat dirinya sendiri yang telah sembuh.
Dalam peristiwa itu rumah-rumah di satu desa bisa rata dengan tanah, tetapi ketika ada keajaiban, pasti ada satu atau dua rumah yang bisa terselamatkan, tetap bisa berdiri kokoh di antara reruntuhan itu.

Kisah Lucu Setelah Gempa

Banyak orang yang setelah gempa terjadi, tidak berani tidur di kamar tidur, pasti mereka menggelar kasur atau tikar di kamar depan, khawatir akan ada gempa lagi.
Di suatu rumah bersusun, tinggallah sebuah keluarga, waktu itu seorang anak baru berlari-lari di ruang atas, kemudian yang berada di bawah berteriak-teriak.
Gempa telah menjadikan pendengaran orang-orang Yogya menjadi semakin peka, bahkan ada truk lewat di depan rumah juga lari terbirit-birit ke luar.
Ketika satu sama lain bercerita, maka ada yang geli pada dirinya, oh waktu itu ada yang lagi mandi pakai sabun, sehingga waktu lari-lari keluar belum sempat ambil anduk, ada yang hanya pakai sarung, kemudian lari-lari takut gempa dan tsunami, bahkan ada yang sampai ke gunung hanya pakai sarung.
Setelah kejadian gempa itu, Guru di Sekolah yang baru di atas tadi, mengubah tema deklamasi, karena takut gempa lagi, maka pada pentas-pentas promosi sekolah selanjutnya mengambil Surat dalam Al Quran yang isinya memberi harapan. Contohnya terjemahan Surat At-Tien, Demi buah Tien dan Zaitun, Dan demi kota (Mekah) ini yang aman...................atau Surat An-Nashr yang menceritakan kemenangan dan pertolongan Allah, atau Al Kautsar yang menceritakan nikmat yang banyak.

Wednesday, 14 May 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Ada beberapa orang yang pesimis dengan arti kebangkitan nasional. Benarkah bangsa Indonesia pernah merasakan kebangkitan ? Akan tetapi terbukti pada 20 Mei 1908 telah dirintis organisasi pergerakan nasional yang lebih modern dan nasionalis dibandingkan corak perlawanan terhadap penjajahan sebelum tahun tersebut, karena strategi perang para tokoh-tokohnya selalu bisa dibabat oleh kolonial, baik dengan cara licik maupun agresif terang-terangan. Sebelum tahun-tahun ini tersebutlah, P. Diponegoro, Sultan Agung, P. Mangkubumi, Pattimura, Sultan Hasanudin, P. Antasari, dan sezamannya yang bersifat kedaerahan, emosional, senjatanya tradisional.
Sebelum tahun 1908, bangsa Indonesia yang masih terpisah oleh rasa kedaerahan, setelah kejayaan beberapa kerajaan, dilanda penyakit yang kian meradang yang diakibatkan oleh penjajahan. Krisis-krisis atau kepincangan-kepincangan terjadi mewarnai kehidupan di Indonesia, yaitu krisis pangan, krisis persatuan, krisis moral, krisis jati diri bangsa dan sebagainya.
Krisis pangan, di mana penduduk bisa menghasilkan hasil bumi, tetapi diangkut ke Negeri Belanda. Bangsa Indonesia kaya, tetapi kekayaan itu lari dimakan orang lain. Rakyat dikenai pajak dengan tanaman dan tenaga.
Rakyat Indonesia secara politis dikebiri. Kekuasaan lokal dibatasi, sehingga banyak bangsawan yang tidak berdaya melihat penderitaan di sekitarnya. Pribumi adalah orang berpangkat sekian setelah Orang Eropa dan Cina.
Pada tahun 1900 seluruh bisnis perdagangan dan per-bank-an terutama di tangan orang-orang Belanda, dengan orang-orang Cina sebagai perantara dan lintah darat. Pribumi dibatasi pada perdagangan eceran kecil. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia.
Krisis moral diwarnai dengan banyaknya pejabat kolonial yang korupsi sehingga keuangan Pemerintahan Negeri Jajahan carut marut.
Menjelang tahun 1900 Belanda mulai memandang liberalisme sebagai sistem penjajahan yang kuno. Yang jelas kongsi-kongsi pengusaha perseorangan tidak mau peduli kepada kepentingan pribumi, karena kapitalisme lebih utama. Dalam era Dr. Abraham Kuyper, yang menjadi Perdana Menteri tahun 1901, adalah penulis selebaran yang diterbitkan pada tahun 1880, yang berjudul "Ons Program" dalam mana ia mendesak bahwa pemerintah harus menjalankan politik tanggung jawab kemakmuran orang-orang pribumi. Gagasan ini ia tumbuhkan dalam "Suara dari Mahkota Kerajaan" tahun itu. Dengan demikian telah dilancarkan apa yang dikenal sebagai Politik Etika (Transmigrasi, Edukasi, Irigasi).
Paham sosialis pertama waktu itu yang telah memasuki Parlemen Belanda dan dengan nyaring memproklamirkan doktrin "Pemerintah Hindia untuk Hindia", dengan melihat tujuan terakhir, pemerintahan sendiri. Tetapi kesan yang lebih mengena sasaran adalah yang diluncurkan oleh C.Th.Van Deventer yang bukan saja membuat rancangan program baru bagi partainya, yang memajukan kemakmuran, desentralisasi dan jumlah lebih besar pegawai Indonesia dalam pemerintahan, tetapi tahun 1899 beliau telah menciptakan sensasi baru dalam tata pemerintahan Belanda dengan mengangkat ide dalam sebuah artikelnya yang berjudul "een eereschuld" (sebuah hutang budi). Beliau mendesak Pemerintah Belanda untuk mengembalikan uang yang dipakai Belanda dalam bentuk batig saldo sejak tahun 1867 yang menjadi tanggung jawab parlemen.
Sentimen-sentimen dari para agamawan, jurnalis, kelompok sosialis telah menyebabkan dijalankannya politik yang lebih manusiawi terhadap rakyat negeri jajahan. Tanam Paksa mulai ditinggalkan diganti dengan desentralisasi dan etis untuk kemakmuran pribumi. Kitab Desentralisasi telah menggariskan delegasi dari Den haag ke Batavia, dari Gubernur Jenderal kepada Departemen-Departemen, dan Pejabat-Pejabat Setempat, dari Pejabat-PEjabat Eropa kepada pejabat Indonesia. Juga berarti pendirian organ yang bersifat otonom yang mengelola masalah-masalah sendiri dalam kerjasama dalam pemerintah. Rencana-rencana desentralisasi nternyata berjalan sesuai Kitab yang ada. Pemerintah Belanda di Den Haag belum sepenuhnya melepaskan kekuasaannya di negeri jajahannya. Bagaikan kucing dilepaskan tetapi tetap dirantai, terutama menghadapi Perang Dunia I.
Pada tahun 1905 Deputi Direktur Civil Service, de Graaf mengangkat masalah penggantian orang-orang Indonesia bagi orang-orang Eropa dan penyatuan kedua pelayanan itu, dalam kaitannya dengan usulnya untuk suatu pembaharuan organisasi teritorial Jawa yang akan memberikan kekuasaan yang lebih besar bagi pejabat-pejabat lokal. Sampai tahun 1921 tidak pernah direalisasikan.
Pada tahun 1906 De Graaf dengan Peraturan Desa mempersiapkan suatu Pemerintah Desa, mencakup kepala-kepala kampung dan pejabat desa, dan suatu Permusayawaratan Desa yang berwewenang mengatur lembaga desa dan mempersiapkan syarat-syarat, tindakan-tindakan untuk memperbaiki produksi pertanian dan pemeliharaan ternak, dan untuk mendirikan sekolah-sekolah desa, memberi kredit yang sehat dan memajukan kesehatan umum. Inipun menjadi proyek campur tangan dari Pemerintah Belanda kepada pribumi, sehingga otonomi hanya sebutan saja, kenyataannya tidak ada sama sekali.
Politik etis yang dicanangkan oleh Ratu Juliana untuk dilaksanakan pada rakyat tanah jajahan tidak mengena sasarannya. Diskriminasi dalam edukasi masih saja diperlihatkan. hanya orang-orang tertentu saja yang dapat bersekolah. Itupun untuk membantu kepentingan administrasi Hindia Belanda. Sampai pada saatnya di Hindia Belanda timbul penyakit infeksi, sehingga Pemerintah HB membutuhkan dokter pribumi yang lebih murah. Para pangreh Praja kurang tertarik untuk menyekolahkan anak-anaknya di kedokteran, karena sekolahnya hanya ada di Batavia, dan biaya pemondokan di sana tergolong mahal (ma..hal). Akan tetapi lulusan STOVIA menjadi kaum terpelajar bumiputera tertinggi pada masa itu.
Irigasi juga hanya berlaku bagi tanah-tanah yang berhubungan dengan perkebunan milik penjajah. Transmigrasi juga hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang murah dan rajin pada perkebunan-perkebunan pengusaha Belanda. Akan tetapi para cendekia yang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan modern dari orang-orang Belanda tidak membuang kesempatan. Kepandaian mereka betul-betul digunakan untuk mendobrak tirani penjajahan Belanda, baik secara kooperatif maupun non kooperatif.
Tanda-tanda awal kebangkitan kesadaran nasional mulai memperlihatkan diri di Jawa pada tahun-tahun itu. Pengaruh-pengaruh luar seperti Pemberontakan Boxer di Cina, pemberontakan orang-orang Philiphina menentang Spanyol, dan kebangkitan Jepang tak dapat diragukan memainkan bagiannya, karena mempunyai pengaruh penting pada pikiran kelompok-kelompok ahli sastra di berbagai negeri di Asia Tenggara. Orang-orang Jepang menuntut persamaan hak dengan orang-orang Eropah di Hindia Belanda.
Di Indonesia yang predominan adalah Jawa, dengan 2/3 jumlah berkumpul dalam 1/5 dari seluruh daerah, merupakan gambaran penting tingkat permulaannya. Faktor kebudayaan di sini aktif makin bertambahnya akan kesadaran nilai budaya Jawa.
RA Kartini, putri Bupati/Regen Jepara telah menjadi juara pendidikan bagi para wanita. Akan tetapi dia tidak dapat berjuang lebih banyak lagi karena diapun korban penjajahan yang tiada berdayadan meninggal dalam usia yang masih sangat belia (lahir di Jepara 21 April 1879 dan meninggal di Rembang 17 Juli 1904). Surat-suratnya yang diterbitkan tahun 1911, yang menuntut pembebasan kekuatan semangat seorang pribumi yang mengarah pada pendirian Yayasan Sekolah Kartini bagi wanita.
Fajar baru telah tiba, telah terbit mentari dari ufuk timur, Pada tanggal 7 Januari 1852 telah lahir seorang pemuda bernama dr Wahidin Sudiro Husodo di Mlati, Sleman, Yogyakarta, yang sangat berbudi luhur, peduli kepada nasib rakyat di sekitarnya. Kemudian menjadi dokter di STOVIA. Dia berjuang hingga berusia 65 tahun (Wafat di Yogyakarta 26 Mei 1917). Prihatin dengan kondisi di sekitarnya, penderitaan rakyat, kemiskinan rakyat, pendidikan terbengkalai, tidak ada kebebasan, banyak ketidak adilan, maka dia menganjurkan kepada teman-temannya yang masih muda sekitar 18-22 tahun-an untuk mengadakan perkumpulan pemuda yang lebih modern. Dr. Wahidin Sudira Husada, pensiunan pejabat kedokteran, yang mulai berkampanye untuk kemajuan Jawa pada tahun 1906 yang memandang pendidikan modern menjadi penyelamat bangsa. Akhir tahun 1907 singgah di Jakarta setelah bersafari mencari studiefonds agar anak-anak bumiputera dapat sekolah. Kala itu di STOVIA dia merupakan seorang dokter tua di antara para pelajar STOVIA yang berusia antara 18-22. Sebagai orang yang sudah tua, Dr.Wahidin mampu memberikan sesuatu obor yang menyentuh seorang pemuda yang bernama Soetomo di STOVIA dalam persinggahannya di Jakarta waktu itu. Obor itu lama-lama membakar jiwa pemuda STOVIA kala itu. Yang jelas Dr Wahidin merupakan orangtua yang mampu berdekatan dengan para pemuda dan Dr Soetomo seorang pemuda yang mau mendengar yang tua. Kedua generasi itu hidup dengan latarbelakang kepincangan-kepincangan dalam negeri, terutama dalam bidang pendidikan, pengajaran, perekonomian dan sistem kolonial. Mereka bertemu pada satu visi dan misi untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia melalui pendidikan dan pengajaran. Mungkin Dr Soetomo seorang pemuda yang memiliki EQ, SQ dan IQ yang tinggi sehingga mampu menangkap, cepat tanggap, keberanian apa yang dimaksudkan oleh Dr. Wahidin Sudira Husada.

Melihat kewibawaan, ketenangan, kewaskitaan, tutur kata yang sareh pada sosok Dr Wahidin Sudira Husada sejak pandangan pertama itu, telah mengundang kekaguman seorang Dr. Soetomo. Pada zaman seperti itu telah ada orang yang berpikiran jauh ke depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dokter tua itu menggerakkan para cendekiawan untuk bersama-sama mendirikan Budi Utomo (sebelumnya ada dua bakal nama Ekoprojo dan Budi Utomo), pada 20 Mei 1908, mengorganisir sekolah-sekolah yang berbasis nasionalis. Oleh karenanya 20 Mei 1908 di Indonesia telah lahir sebuah organisasi modern yang bersifat nasional, yaitu Budi Utomo, yang berarti pekerti yang utama. Beliau mendapat ilham dari penyair India, Rabindranath Tagore dan sedikit dari Mahatma Gandhi. Dalam bebrapa minggu saja Budi Utomo telah memperoleh anggota 1.200 orang, 700 di antaranya adalah pegawai negeri. Semestinya sosok tua seperti Dr Wahidin Sudira Husada dan sosok pemuda seperti Dr. Soetomo harus selalu muncul di dalam sejarah bangsa Indonesia.
Gedung eks STOVIA yang berlokasi di Jl. Abdul Rahman Saleh 26, Jakarta Pusat itu kini telah menjadi Museum Kebangkitan Nasional.
Memang ironis, pada 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini krisis ekonomi semakin jelas terasa oleh rakyat Indonesia. Harga BBM dan bahan kebutuhan lainnya akan melonjak kalau tidak ada tangan dan tutur mulia yang memberi kebijakan yang berakibat stabilnya harga-harga bahan kebutuhan rakyat Indonesia. Ini berarti perlu kebangkitan Strategi Operasional Stabilitasi harga pasar kebutuhan di dalam negeri. Krisis moral, kerusuhan, kerusakan, kriminal harus segera disirnakan dengan membangkitkan jiwa-jiwa Pancasila yang telah terlupakan. Bangkitkan jiwa Ketuhanan, bangkitkan jiwa kemanusiaan, bangkitkan jiwa persatuan, bangkitkan jiwa kerakyatan, bangkitkan jiwa keadilan. Indonesia yang dulu dikenal besar, macan Asia, kaya raya harus bangkit. Nilai-nilai luhur yang ada Pancasila akan dapat membangkitkan kreatifitas, inovasi, industrialisasi yang lebih manusiawi dan berbudaya, peduli bagi semuanya.
Bangkit itu memerlukan kemandirian, tidak tergantung orang lain
Bangkit itu memerlukan keyakinan diri dan jati diri
Bangkit itu memerlukan keberanian dan nyali
Bangkit itu memerlukan daya kreatif dan inovatif yang tinggi
Bangkit itu memerlukan kerjasama
Bangkit itu memerlukan jiwa sosial dan ke-Tuhan-an
Bangkit itu memerlukan kesanggupan untuk berubah menjadi lebih baik
Bangkit itu memerlukan komitmen
Bangkit itu memerlukan doa dan ikhtiar

Bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya dan juga kiriman doa bagi para pahlawan Kebangkitan Nasional semoga amal ibadahnya telah menggerakkan generasi muda untuk memajukan bangsa Indonesia diterima menjadi amal jariyah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa :
Untuk Anda-Anda
Penganjur/Penasehat :Dr. Wahidin Sudira Husada
Ketua :Dr. Soetomo
Wakil Ketua :M. Soelaemann
Sekretaris I :Soeuwarno
Sekretaris II :M. Goenawan Mangunkoesoemo
Bendahara :R. Angka
Komisaris : R.M. Goembrek, M. Soewarno, Moh. Saleh dan M. Soeradji
Sumber :
* Keturunan keluarga Pendiri Budi Utomo
* Djoko Suryo : Sejarah Berdirinya Boedi Utomo dalam Dialog Budaya dan Gelar Seni ke-12
* D.G.E Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya : Usaha Nasional, 1988

Wednesday, 16 April 2008

Alexandria, Simbol Kecemerlangan Peradaban Masa Lalu

Alexandria dan Kyoto merupakan contoh keberhasilan pembangunan kota berbudaya di dunia, sehingga termasuk dalam liga kota budaya dunia. Alexandria memiliki kenangan sejarah kegemilangan yang juga masih bertahan hingga sekarang, walaupun mengalami pasang surut dalam sejarah penentuan jatidirinya. Alexandria yang sekarang ini merupakan akumulasi pasang naiknya peradaban yang berusaha dibangkitkan dan diabadikan oleh beberapa person.

Setelah ditemukan oleh Alexander yang Agung atau Iskandar Zulkarnain pada tahun 331 SM, kemudian dibangun dan dijadikan Ibukota Mesir Kuno pada zaman hellenistik yang disimbolkan melalui mercusuar legendaris Pharaos (salah satu keajaiban dunia). Di sinilah terjadi perseteruan Cleopatra dan Mark Antony. Di sinilah pusat pendidikan dunia kuno. Alexander berusaha memadukan unsur-unsur budaya Timur dengan budaya Yunani dan Romawi yang merupakan cikal bakal kebudayaan Barat.

Dibalut pesona pantai Laut Mediterania yang bagaikan surga, bagaikan intan permata / zamrud Mediterania (pearl of Mediterranean). Terhampar di sebelah barat laut delta Nil. Alexandria mulanya merupakan sebuah perkampungan nelayan, bernama Pharaos, kampung ini memiliki pantai yang indah. Alexandria bernama lain Iskandariah.

Ketika Alexander The Great atau yang dalam dunia Islam dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnain, dia tertarik untuk membangun kota ini, “Di sinilah aku akan membangun kota yang sudah kuimpikan sejak lama.” Iskandar Zulkarnain adalah raja yang terkenal dengan julukan ‘Raja Bertanduk’. Petualangan beliau ke timur membawa ide-ide hellenistik yang memadukan dunia Timur dengan dunia Barat. Iskandar sangat terkagum-kagum dengan pesona alam ini, dapat dikatakan sebagai jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak main-main dengan ucapannya, beliau segera mendatangkan ahli tata kota dari Yunani, dan pada musim gugur 332 Sebelum Masehi Alexandria atau Iskandariah mulai dibangun.

Ide-ide Denokrates mampu menyulap Iskandariah dari perkampungan nelayan sebagai kota yang berbalut gemilang peradaban. Peradaban yang tinggi itu dihasilkan dari perpaduan ide-ide dan kerja keras dari banyak person. Selama hampir 1000 tahun menjadi ibukota Mesir hingga penaklukan Islam pada tahun 21 H (621 M). Baru setelah pendirian Kairo oleh penguasa Islam ibukota Mesir dipindahkan dari Alexandria ke Kairo.

Kota kosmopolitan yang berbalut kegemilangan peradaban masa silam dihidupkan kembali oleh banyak person. Salah satunya yang dibangkitkan kembali adalah Perpustakaan Iskandariah. Perpustakaan Iskandariah berdiri atas peran aktif Dinasti Ptolemi yang berkuasa di Mesir pada periode Hellenistik. Ptolemi I (323 - 284 SM) yang bergelar Soter adalah komandan militer dan penulis biografi Iskandar Agung. Ia merupakan sosok yang cinta ilmu. Ptolemi kemudian membangun Mouseion, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan perpustakaan yang mengoleksi berbagai buku. Mouseion diambil dari bahasa Yunani yang berarti tempat beribadah seluruh Tuhan ilmu pengetahuan dan seni. Selain mengoleksi buku-buku berbahasa Yunani, perpustakaan ini dulunya menyimpan berbagai manuskrip Mesir kuno serta sebagian kitab Hindu dan Budha. Mouseion merupakan Universitas Alexandria Kuno di Mesir Kuno. Ahli arkeologi Polish telah menemukan 13 aula kuliah sebuah Universitas Alexandria Kuno di Mesir kuno.

Sampai masa Ptolemi III tercatat sekitar 700.000 buku tersimpan di sana. Dari tradisi kepustakaan ini dari Alexandria muncul ilmuwan-ilmuwan terkenal yang berjasa bagi kesejahteraan manusia di dunia. Muncullah Archimedes, seorang ahli Matematika abad ketiga sebelum Masehi yang menghasilkan banyak penemuan ilmiah; Aristarchis dari Samos, astronom abad ketiga SM, orang pertama yang berspekulasi bahwa planet-planet mengitari matahari, menggunakan trigonometri untuk menghitung jarak dan ukuran matahari dan bulan; Kalimakhus, pujangga dan kepala perputakaan abad ketiga, menyusun indeks pertama untuk perpustakaan Alexandria, sebuah karya yang membangkitkan kesusastraan Yunani Klasik; Euclides, penemu ilmu geometri, matematika dan arsitektur; Dionysus, penemu ilmu dasar bahasa; Erasthostenes, Mr Beta, ahli ilmu falak, sejarah dan filsafat; Hypatia, seorang wanita ahli matematika dan astronomi; Earasthotenes, ahli ilmu bumi dan astronomi.

Setelah selama tiga abad kekuasaan Ptolemi berjaya, perpustakaan mengalami keruntuhan. Pada masa-masa berikutnya Alexandria mengalami kemunduran. Ketika Napoleon mendarat di Alexandria, tempat ini telah menjadi perkampungan nelayan. Dari abad 19 Alexandria mengemban peran baru sebagai pusat ekspansi perdagangan dan pelayaran Mesir. Oleh banyak persona kota ini mulai dibangkitkan kembali. Lukisan tentang zaman keemasan Alexandria telah diabadikan oleh penulis-penulis semacam E.M. Forster dan Cavafy. Atas prakarsa UNESCO bekerjasama dengan pemerintah Mesir dan berbagai organisasi yang mempunyai perhatian terhadap ilmu pegetahuan dan teknologi, muncullah ide untuk menghidupkan kembali perpustakaan ini. Merogoh kocek sebanyak 220 juta dolar Amerika, perpustakaan ini didesain modern.

Dalam bulan Oktober 2002 dibuka kembali perpustakaan masa lalu, di dalamnya berisi sekitar 400.000 buku ditambah sistem komputer modern dan mutakhir memungkinkan pengunjung mengakses koleksi perpustakaan lain, koleksi utama dititikberatkan pada peradaban Mediterania bagian timur. Perpustakaan baru memiliki kapasitas 8.000.000 buku. Perpustakaan ini menyediakan 500 unit komputer untuk memudahkan para pengunjung mencari katalog, dilengkapi ruang konferensi dan pustaka Thaha Husein bagi tuna netra, pustaka anak-anak, museum peninggalan kuno, manuskrip serta 5 lembaga riset.

Selain tradisi keilmuan yang kuat di Alexandria, kita akan melihat banyak tempat yang menebar pesona keindahan. Gedung-gedung bertingkat dibangun di tepi laut. Apabila kita berjalan menyusuri Kanal Mahmudiya yang berhadap-hadapan dengan kawasan industri dan kelas pekerja kita bisa menikmati keindahan Alexandria yang kosmopolitan dan bohemian. Dengan jalan beraspal kuno yang dibatasi kanal dan pepohonan. Kemudian Mercusuar Pharaos yang legendaris yang menjadi bagian dari keajaiban dunia. Museum Sejarah Alam, Kebun Raya Zoologi, Museum Seni Rupa, Istana Antoniad yang terletak di dekat kuburan Roma, Masjid Abu Al Abbas al Mursi (Masjid berbentuk segi enam), Masjid Attarine, Benteng Qeitbey (masjid sekaligus benteng yang terletak di tepi pantai), Masrah Rumani (peninggalan Romawi, ada istana burung), Cotacombs of Kom El Shukafa (tempat penyimpanan mayat) dan Taman Mawar.

Kompleks Muntazah merupakan suatu kompleks taman dikelilingi tembok besar dari selatan, timur dan barat, sedangkan di sebelah utara ada pantai. Area ini pernah dimiliki oleh keluarga Muhammad Ali, penguasa pertengahan abad 19 hingga tahun 1952. Konstruksi dimulai tahun 1892 oleh Raja Abbas H yang membangun istana yang lebih besar, yang kemudian dinamakan Haramlik. Kemudian Raja Farouk membangun sebuah jembatan laut, suatu tempat yang indah untuk menikmati keindahan Alexandria. Taman Muntazah menjadi tempat peristirahatan musim panas bagi Raja Mesir sebelum revolusi 23 Juli 1952 (dari sistem kerajaan ke Republik). Memiliki luas 155,4 ha, taman ini hanyalah taman yang menebar keindahan. Di dalamnya, istana Raja Farouk berarsitektur menawan berdiri kokoh, menghadap Laut Tengah. Istana ini dijadikan istana kepresidenan untuk menyambut tamu-tamu negara.

Alexandria merupakan kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo, dan menjadi ibukota pemerintahan Al Iskandariah. Alexandria memiliki magnet bagi penduduk lain di belahan dunia manapun. Alexandria kota kedua setelah Roma dalam luas dan kekayaan. Dalam warna kehidupannya menunjukkan atmosfer Mediterania daripada Timur Tengah. Kota tersebut merupakan kota perdagangan, kota kosmopolitan dan budaya Bohemian yang dirintis oleh imigran dari Yunani Italia. Banyak manusia berdatangan ke taman impian ini. Pendudukpun menyambut dengan keramahtamahan demi kotanya, mereka rela berjam-jam melukiskan tempat-tempat wisata di Alexandria. Didukung dengan jasa transportasi dan penginapan yang murah. Dapat ditempuh dalam 2 jam dengan kereta api dan 2 setengah jam dengan berbus ria dari Kairo. (ekosuryanti@yahoo.co.id)

Children in Java Tradition

In Javanese tradition we find manythings that details, sakral/pure and mistical. They all become culture heritage for Java (Yogyakarta and Solo specially). In Javanese tradition if many parents have some children with kinds such as below, they must be do a ceremony, is named ruwatan. They must take a bath with rose, jasmine flower and 5 kinds of colours again (seven colours flowers or a park flower). But they can’t do it themself, they need a man who know other world that can’t be looked by our eyes, but just with eyes of mind and heart (is like six sense). In ruwatan tradition they also include wayang shows. So, the ruwatan tradition are held together puppet shows.

ruwat.jpg

The theme of wayang story in ruwatan usually tell about Batara Kala (Kala Goddes). The children who included in these kinds below must get “ruwat for their safeness. But around the time, it is just in tradition that not all people can’t hold this. Many people believe their religion so much, they believe that it don’t need to be done again. We can pray and get protection from our God. If the parents have only one son, it is named ontang anting kid. If the parents have only two son, it is named uger-uger lawang kids.

bayi.jpg

And If the parents have : three male kids, is named cukit dulit kids.

Four male kids, are named saramba kids.

five male kids are named pandhawa lima kids.

only one female kid is named unting-unting kid.

only two female kids are named kembang sepasang kids.

only three female kids are named gotong mayit kids.

If the parents have four children but they all are female, are named sarimpi kids. If the parents have five children but they all are female, are named pancagati.

If the parents have two children, boy and girl, they are named kedhana kedhini. If the parents have two chlidren, girl and boy, are named kedhini kedhana. Three children, boy - girl - son, are named sendhang kaapit pancuran. Three children, girl - boy - girl, are named pancuran kaapit sendhang.

Four children, consist boys and girls, are named keblat papat. Five children, consist sons and daughters, are named sepasar. Five children, consist four daughters and just one son are named ipil-ipil (pipilan). Five children, consist four sons and just one daughter are named padangan. Six children, consist five sons and just one daughter (youngest) are named pandhawa nyandhangi.Two children was born together are kembar. Two children, son and daughter was born together, are named dhampit. Many children, turn son then daughter, son again, then daughter again and so on, are named gilir kacang. But if many children, not in turn, can son first or daughter first born, then son again, then son again, then daughter and so on, in example, are are named lumpat kidang. Many sons and one daughter (youngest) are named grandhel. Many sons and one daughters in middle are named gendhong. Many daughters and one son in the middle are named pathok. Many children, but the number of sons more than the daughters, are named sumarak. Many children, still one is life, are named anggana.

Black all skin kid is cemani. White all skin kid is wungle or bule. Two children with different skin colour are named godhong kasih.Child was born together with risingsun is named julung kembang. Child was born at middle day is named julung sungsang. Child was born near sunset is named julungsarap. Child was born together with sunset is named julung caplok.

Children was born in travelling, are named margana. Children was born in the war, are named wuyungan. Children was born when their mother are in the vehicle, are named wahana. Children was born before their time, are named jempina. Children was born without father are named yatim. Children was no father and mother are named lola. Child was born, but its mum dead, are named konduran.

ruwat-bayi.jpg ruwat-bayi2.jpg

Child who was born with very very curly hair, is like hawaian, named bocah gimbal. This child is also sukerta human, who must cleaned by ruwatan ceremony, it hope the human will never get badness in the life.(ekosuryanti wordpress)

Ki Hajar Dewantara, Profil dan Pemikirannya (1)

Sejarah umat manusia membuktikan bahwa sebutan pahlawan atau bukan bisa dilihat dari mana memandangnya. Bangsa Indonesia selalu menganggap Pangeran Diponegoro sebagai pahlawan yang berhak mendapatkan bintang mahaputera, tetapi bagi Belanda mungkin dianggap pengganggu stabilitas pemerintahan Hindia Belanda saat itu. Dan itu terjadi di sudut mana saja.

Bicara tentang pahlawan, kita memiliki ratusan tokoh besar yang berjasa untuk Indonesia. Banyak di antara mereka yang kebetulan berasal atau pernah ditempa di kawah candradimuka Yogyakarta, antara lain adalah Ki Hajar Dewantoro, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sri Sultan Hamengkubuwono I, dan lain-lainnya.

ensik.tok.indKi Hajar Dewantoro merupakan tokoh nasional, tokoh kemerdekaan, dan tokoh pendidikan nasional. Kita akan mengenal Ki Hajar Dewantara melalui karangan-karangan beliau yang terangkum dalam buku Karya K.H. Dewantara : Bagian pertama, Pendidikan.

Sekilas tentang perjalanan hidup Ki Hajar Dewantoro

Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Jogjakarta, wafat pada tanggal 26 April 1959. Pada tanggal 6 September 1913 sampai 5 September 1919 dibuang oleh Pemerintah Belanda di negeri Belanda.

Pada tanggal 3 Juli 1922 beliau mendirikan Perguruan Taman Siswa dan sampai saat wafatnya terus memimpin perguruan tersebut. Pada tanggal 1 Oktober 1932 memimpin perlawanan menentang “ordonansi sekolah liar” sampai dicabutnya ordonansi tersebut, didukung oleh segenap lapisan masyarakat dan semua partai politik serta organisasi rakyat Indonesia. Pada tanggal 8 Maret 1955 ditetapkan Pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan nasional Indonesia.

Pada tanggal 19 Desember 1956 beliau mendapat gelar doktor kehormatan (honoris causa) dalam ilmu Kebudayaan dari Universitas Negeri Gadjah Mada. Pada waktu wafat beliau diangkat sebagai Perwira Tinggi dengan pemakaman negara secara militer, tepatnya tanggal 26 April 1959.

Pada tanggal 28 Nopember 1959 diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Pada tanggal 16 Desember 1959 pemerintah RI menetapkan hari lahirnya sebagai hari Pendidikan nasional. Baru pada ranggal 17 Agustus 1960 beliau dianugerahi oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan perang RI Bintang mahaputra I. Prestasi Ki Hajar Dewantoro lebih lengkap dengan tanda kehormatan Satya Lancana Kemerdekaan, 20 Mei 1961.

Ki Hajar Dewantoro sudah mulai dan terus menulis sejak hampir setengah abad yang lampau di berbagai surat kabar, majalah, dan brosur-brosur serta penerbitan lain-lain, tersebar di Indonesia dan di Nederland, sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan karya-karya beliau.

Ki Hajar tentang Pendidikan dan pengajaran nasional

Menurut Ki Hajar Dewantara, upaya menjunjung derajad bangsa akan berhasil, apabila dimulai dari bawah. Rakyat sebagai sumber kekuatan, harus mendapatkan pengajaran agar pandai melakukan upaya bagi kemakmuran negeri. Pendidikan anak-anak berarti pendidikan rakyat. Pendidikan harus disesuaikan dengan hidup dan penghidupan rakyat agar lebih berfaedah bagi perikehidupan bersama. Pendidikan harus bisa memerdekakan manusia dari ketergantungan kepada orang lain dan bersandar pada kekuatan sendiri. Pendidikan merupakan tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Berarti pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidikan hanyalah suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita. Hidup tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan atau kehendak kaum pendidik. Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, tentu saja hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak itu ialah segala kekuatan di dalam hidup batin dan hidup lahir anak-anak itu yang ada karena kodrat. Para pendidik hanya dapat menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan-kekuatan itu agar dapat memperbaiki lakunya, (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya.

Misalnya : Seorang petani, dia tidak bisa merubah sifat-sifat dasar padi. Seorang petani hanya dapat menumbuhkan padi dengan memperbaiki tanahnya, memelihara tanamannya, memberi rabuk atau air, memusnahkan hama-hamanya. Ia tidak dapat mengubah kodrat tanaman. Ia tidak dapat merubah tanaman padi menjadi jagung dalam tempo tiga bulan. Pak tani harus takhluk pada kodrat padi. Seorang petani hanya dapat menjadikan padi tersebut tumbuh berkembang dan menghasilkan panen yang besar.

Sekolah Taman Siswa.

Tugas seorang petani hampir sama dengan seorang guru. Pendidikan hanya bisa menuntun pertumbuhan anak didiknya. Pertumbuhan anak-nak tergantung kodrat dan keadaan masing-masing. Anak yang tak baik dasar jiwanya dan tidak mendapat tuntunan pendidikan, dikhawatirkan akan menjadi orang jahat kalau tidak ada tuntunan. Dengan tuntunan tersebut seorang anak akan mendapat kecerdasan yang lebih tinggi dan luas, akan menjauhnya dirinya dari pengaruh jahat, buruk.

Pengaruh-pengaruh tidak baik yang datang kepada anak-anak boleh jadi bersal dari keluarganya. Anak-anak yang serba kekurangan tentu akan menghalangi ambisinya untuk mendapatkan pendidikan, sehingga kecerdasannya tidak bisa tumbuh seperti yang diharapkan. Mungkin juga mungkin perangai dari anggota keluarganya yang kurang menunjukkan keluhuran budi pekerti.

Mengenai perlu tidaknya tuntunan di dalam tumbuhnya manusia, samalah keadaannya dengan soal perlu tidaknya pemeliharaan dalam pertumbuhan tanaman. Misalnya, kalau jagung yang baik dasarnya jatuh pada tanah yang baik, banyak airnya, dan dapat sinar matahari, maka pemeliharaan-pemeliharaan dari Pak Tani akan menambah pertumbuhan dan hasil panen menjadi lebih baik. Kalau tidak ada pemeliharaan, sedangkan keadaan tanahnya tidak baik, atau tempat jatuhnya biji jagung itu tidak baik, kurang sinar matahari, maka tetap saja jagung itu tidak bisa tumbuh dengan baik. Sebaliknya apabila jagung itu bibitnya tidak baik, tetapi selalu dipelihara dengan baik oleh Pak Tani tentu saja hasilnya akan lebih baik daripada biji jagung yang tidak baik lainnya. (hlm 22)

Heroes Messages

1. Pesan Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang :

” Untuk keamanan dan kesentausaan jiwa, kita harus mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang yang mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak akan terperosok hidupnya, dan tidak akan takut menghadapi cobaan hidup, karena Tuhan akan selalu menuntun dan melimpahkan anugrahNya yang tiada ternilai harganya”

(Disampaikan pada saat Nyi Ageng Serang mendengarkan keluhan keprihatinan para pengikut/rakyatnya akibat perlakuan kaum penjajah)

nyi-ageng-serang.jpg

Translate :

Message from Indonesia National Hero, Lady ( Nyi ) Ageng Serang, from Central Java (Islamic Mataram Kingdom)

“For soul safety and tranquility, we must bring ourself closer to our Supreme God, people who bring ourself closer to God, they will never sink in bad life, and will not be afraid be up against many difficulties of life, because God will always guide and shower us with blessing, property which is really valuable in life….”

(It is informed by her when she was hearing apprehensive complaints and sighs of her followers and people caused by colonialist action)

2. Pesan Pahlawan Nasional Jenderal Sudirman:

” Tempat saya yang terbaik adalah ditengah-tengah anak buah saya, Saya akan meneruskan perjuangan ini . Met of zonder Pemerintah TNI akan berjuang terus untuk negeri ini”

(Disampaikan pada jam-jam terakhir sebelum jatuhnya Yogyakarta dan Jenderal Sudirman sesungguhnya dalam keadaan sakit, ketika menjawab peryataan Presiden yang menasehatinya supaya tetap tinggal di kota untuk dirawat sakitnya)

jenderal-sudirman.jpg

The meanings of General Sudirman message : “My best place is between my soldiers, I will remained continou struggle, Indonesian National Troops will be in forever struggle to Indonesia”

He informed at the last hours before Yogyakarta falled down and really he was sick and in bad condition, when he answered Presidet statement who has advised him to remained lived in the city to get nursing for his health.

3. Pesan Pahlawan Nasional Prof. DR. R. Soeharso :

” Right or Wrong is my country, lebih-lebih kalau kita tahu, negara kita dalam keadaan bobrok, maka justru saat itu lah kita wajib memperbaikinya”

The meanings of Prof Dr R Soeharso’s message : Right or wrong is my country, evenless our country in bad situation, so exactly this time we must improve it.” (Statement as a nationalist and patriotist)

(Pernyataan sebagai seorang nasionalis dan patriotis)

4. Pesan pahlawan nasional Prof. Moh. Yamin,SH

” Cita-cita persatuan Indonesia itu bukan omong kosong, tetapi memang benar-benar didukung oleh kekuatan-kekuatan yang timbul pada akar sejarah bangsa Indonesia Sendiri”

(Disampaikan pada Kongres Pemuda II di Jakarta tanggal 27-28 Oktober 1928 yang dihadiri oleh berbagai perkumpulan pemuda dan pelajar, dimana ia menjabat sebagai sekretaris).

muh-yamin.jpg

Message from Mr. Moh Yamin , “Idea to uniting Indonesia is not boasting, but truly supported by powers that was rising from the root of Indonesian history self”. (It is confirmed in Youth Congres II in Jakarta, 27th-28 th of October 1928 which presented by multi youth and students organization, that he was as a secretary)

5. Pesan Pahlawan Nasional Supriyadi :

” Kita yang berjuang jangan sekali-kali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi”

(Disampaikan pada saat Supriyadi memimpin pertemuan rahasia yang dihadri beberapa anggota Peta untuk melakukan pemberontakan melawan pemerintah Jepang)

Message of National Hero Supriyadi : “We, are struggling, don’t ever hope high position, status or salary” (It was confirming when he led secret meeting presented by several PETA (motherland hero) members to revolt attacked Japan colonialist government about in 1942-1945)

supriyadi.jpg

6. Pesan Pahlawan Nasioanal Teuku Nya’ Arif :

” Indonesia merdeka harus menjadi tujuan hidup kita bersama”

(Disampaikan pada pidato bulan Maret 1945, dimana Teuku Nyak Arif menjadi Wakil Ketua DPR Seluruh Sumatra)

7. Pesan pahlawan Nasional Abdul Muis :

” Jika orang lain bisa, saya pun juga bisa, mengapa pemuda pemuda kita tidak bisa, jika memang mau berjuang”

(Menceritakan pengalamannya di luar negeri kepada para pemuda di Sulawesi, ketika Abdul Muis melakuan kunjungan ke Sulawesi sebagai anggota Volksraad wakil SI)

Hero Abdul Muis said,”If other people can do somethings, I also can do, why not with our youth, if they really want to struggle”

8. Pesan Pahlawan Nasional Pangeran Sambernyowo/KGPAA Mangkunegoro I :

- Rumangso melu handerbeni (merasa ikut memiliki)

- Wajib melu hangrungkebi ( wajib ikut mempertahankan)

- Mulat Saliro hangroso wani (mawas diri dan berani bertanggung jawab)

(Merupakan prinsip Tri Dharma yang dikembangkan oleh Mangkunegoro I)

Message of Prince Sambernyowo/KGPAA Mangkunegoro I (Three kindness pronciples):

- feeling to follow as owner

- compulsory to follow in defending

- through introspection and brave to be responsible

9. Pesan Patih Gadjah Mada (Vice King in Majapahit Kingdom)

“Sumpah Palapa, saya tidak akan makan buah palapa sebelum mempersatukan seluruh Nusantara di dalam naungan kerajaan Majapahit”

Vice King of Majapahit Kingdom said in Sumpah palapa that he will never eat Palapa Fruit (bliss, pleasant simbol) before he succeded in uniting all people in Nusantara under Majapahit Kingdom’s protection. Everyone no believe it, but finally he could prove it.

Jalan Lurus Satria (Knight Straight Way)

Oleh : Romo H.R.M. Tirun Marwito Jatiningrat, S.H.

(Artikel ini telah disampaikan dalam Diskusi Kebudayaan yang diselenggarakan oleh BAPEDA Provinsi DIY, 15 September 2005)

Kalau kita membicarakan soal budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebenarnya kita pertama-tama harus menyamakan kesamaan pandangan kita bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta tidak bisa dipisahkan keberadaannya dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang sudah menjadi kodrat sesuai dengan jalannya sejarah. Budaya Ngayogyakarta Hadiningrat adalah budaya Jawa dimana Kraton sebagai pusatnya. Budaya Ngayogyakarta Hadiningrat yang sebenarnya tidak dibatasi dengan Ngayogyakarta secara administrasi seperti sekarang ini, sebagai batas pemerintahan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang malahan mungkin dianggap tidak termasuk daerah otonomi kabupaten atau kota seperti Bantul, Kulon Progo, Sleman, Gunung Kidul serta Kota Yogyakarta, akan tetapi Ngayogyakarta secara budaya adalah sampai pada daerah-daerah yang budayanya mengikuti budaya Ngayogyakarta.

Perlu diketahui menurut administrasi pada tahun 1755 (Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755) wilayah Ngayogyakarta itu termasuk Sokawati, Pajang, Bagelen, Kedu, Madiun, Magetan Grobogan, Caruban, Palitan, Tulung Agung, Mojokerto, Bojonegoro, Kalangbret, Selo Bumi gede, Wirosari. Tetapi oleh karena akibat penjajahan serta kesalahan kita sendiri, wilayah Ngayogyakarta secara administrasi tinggal Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk 4 kabupaten dan 1 kota seperti tersebut di atas.

Sebenarnya budaya Ngayogyakarta itu tersebar dimana saja ada orang Ngayogyakarta (Yogyakarta) sebagai pendukung / penganutnya. Budaya Ngayogyakarta ada yang fisik (tangible culture) dan ada yang non fisik (intangible culture). Selanjutnya yang akan kita bicarakan lebih mendalam adalah yang non fisik (intangible) yang mempunyai nilai filosofi, kearifan tradisional, moral serta etika.

Hamemayu hayuning bawana adalah suatu visi (impian) local yang mempunyai wawasan global yang bersifat universal, dalam bahasa Jawa yang merupakan angan-angan yang ditujui atau diimpikan (ideal) dalam bahasa kekinian berarti memelihara keselmatan dunia atau memelihara kelestarian bumi sebagai satu ekosistem, maka manusia sebagai khalifah pengemban amanah Allah SWT (Khalifatullah) wajib menjaga keseimbangan hubungan antar manusia, hubungan antara manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan penciptanya.

Untuk mewujudkan visi hamemayu hayuning bawana tersebut di atas dilakukan dengan misi local yang mempunyai wawasan global yang bersifat universal yaitu Hamengku Buwana yang merupakan nama Dinasti yang memerintah di Kerajaan Mataram Yogyakarta (Ngayogyakarta Hadiningrat). Nama Hamengku Buwana dalam Bahasa Jawa terdiri dari kata-kata :

Hamengku yang berarti mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan yang dalam bahasa kekinian berarti memberdayakan SDM dan menjunjung tinggi HAM.

Hamangku yang berarti adil, memelihara, melandasi, memberi dorongan atau menjiwai dan mengayomi yang dalam bahasa kekinian berarti memberlakukan azas keadilan, mengayom dan penegakan hokum (law enforcement).

Hamengkoni yang berarti frame work (kuidance) keteladanan pemimpin dan bertanggung jawab yang dalam bahasa kekinian berarti memberi contoh atau teladan dan bertanggung jawab. Bawana yang berarti dunia atau jagad/bawana.

Selanjutnya tugas dan kewajiban para raja-raja Mataram Yogyakarta (Hamengku Buwana) dalam mewujudkan impian, angan-angan atau cita-cita hamemayu hayuning bawana menjadi Hamengku Buwana (Hamengku, Hamangku dan Hamangkoni) yang selanjutnya akan membentuk jiwa satriya yang terpersonifikasikan (terlihat ujudnya) pada sesosok figur perorangan yang mempunyai sikap :

Nyawiji : memposisikan dirinya yang tidak terpisah dari kelompok lingkungannya atau dan memposisikan dirinya yang tidak terpisah dengan Allah SWT Tuhan Yang maha Esa.

Greget : semangat, tidak lemah, dinamis.

Sengguh : jatidiri, percaya diri tetapi tidak sombong dan arogan.

Ora mingkuh : tidak kecil hati, tidak takut menghadapi kesukaran dan penuh tanggung jawab.

Ajaran Sri Sultan Hamengku Buwana I tersebut di atas agar bisa dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau ajarkan lewat gerak tari gaya Mataram Yogyakarta yang sampai saat ini bisa kita saksikan sebagai seni tari yang adiluhung. Arah ajaran Sri Sultan Hamengku Buwana I ini sebenarnya adalah bagian pokok dari ilmu kepemimpinan yaitu jiwa satriya yang bisa terbentuk figur seorang satriya yang digambarkan sebagai pembela kebenaran, pembela kaum dan golongan yang lemah serta bersifat lemah lembut tetapi tegas.

Yang perlu dihayati dan disadari bahwa seorang satriya bukanlah seorang pedagang yang mungkin orientasinya hanya pada untung dan rugi saja. Seorang satriya pengabdiannya hanya pada nusa, bangsa dan negaranya saja. Sikap tersebut bisa membentuk jiwa atau watak satriya, apabila kita mempunyai idealisme, komitmen yang tinggi, integritas moral, serta nurani yang bersih. Figur seorang satriya yang secara batin dibentuk dengan sifat nyawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh tersebut, oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I masih perlu dilengkapi dengan pakaian taqwa (yang benar-benar berujud pakaian sering disebut Mataraman/surjan).

Hal ini tersebut dalam Surat Al a’Raaf ayat 26 yang berbunyi : ”Hai Anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” Diceritakan bahwa sesudah Perjanjian Giyanti 1755, Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwana I) dan Paku Buwana III memandang perlu membedakan pakaian Surakarta dan pakaian Ngayogyakarta. Karena sudah siap dengan konsep pakaian tersebut, Sri Sultan HB I menawarkan konsep tersebut kepada Susuhunan PB III. Susushunan PB III memilih menggunakan konsep Sri Sultan HB I tersebut. Oleh karenanya Sri Sultan HB I memilih pakaian untuk Ngayogyakarta adalah pakaian yang sudah ada pada waktu itu yaitu Pakaian Mataram atau disebut pakaian taqwa yang dasar hukumnya tersebut pada Surat Al A’raaf ayat 26.

Perlu diketahui bahwa ternyata Sri Sultan Hamengku Buwana I pada tahun 1757 M telah mendirikan sekolah dengan bangunannya yang dinamakan, Sekolah Tamanan di dalam Kraton. Adapun pelajaran yang diberikan di Sekolah Tamanan tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Bahasa dan Kesusastraan Jawa Baru dan Jawi

2. Sejarah Kraton di Tanah Jawa

3. Menyanyi Mocopat, Tengan, Gedhe

4. Tata Negara5. UU Sepuluh

6. Angger Predata, Pidana (Hukum Perdata, Hukum Pidana)

7. Mengaji : -Kitab Turutan -Quran dan hadist -Hukum Agama -Tradisi dari Mataram sampai Ngayogyakarta yang berhubungan dengan agama - Parail- Perkawinan dan talak

Di samping itu, ada pelajaran yang bersifat ketentaraan, pertanian dan kebudayaan, yaitu sebagai berikut : 1. Menari (Tarian Putri) 2. Menari (Tarian Putra) 3. Memilih dan menunggang Kuda 4. Latihan berperang (setiap Sabtu di Alun-Alun Utara Jam 16.00 -18.00) 5. Latihan memanah 6. Menatah dan menyungging wayang 7. Membuat dan melaras gamelan 8. Seni bangunan 9. Memelihara segala tanam-tanaman pekarangan, ladang, sawah, perkebunan. 10. Saluran pengairan dan bendungan untuk pertanian rakyat. Apabila kita lihat dengan kaca mata kemajuan pelajaran Sekolah Tamanan ini sudah sangat bagus.

Oleh karena satu dan lain sebab sekolah ini mulai tahun 1830 dikurangi mata pelajarannya. Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB VIII pelajarannya tinggal membaca huruf Jawa dan mengaji (membaca huruf Arab). Pada tahun 1954 ada kerjasama antara Kraton dengan Korem 072 Pamungkas (Uril = Urusan Moril Korem 072) dalam rangka melatih menari bagi para anggota Korem 072.

Latihan diadakan di nDalem Purwodiningratan (Kaneman) dan nDalem Purbonegaran. Pimpinan antara lain : KRT. Joyowinoto, R.M. Salikun. Di sini kelihatan bahwa sebenarnya pihak militer dalam hal ini Korem 072 Pamungkas menyadari pembentukan jiwa/mentaal ksatria pada para anggota militer, seperti yang dimaksudkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I waktu itu.

Sebagai generasi penerus di NKRI yang kita cintai ini dan khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan memantapkan diri sebagai Pusat Budaya Tahun 2020 mau tidak mau harus mengatur strateginya dengan mempertimbangkan dan memperhatikan sejarah kepemimpinan terutama di DIY sendiri. Sri Sultan HB I merupakan pendiri Ngayogyakarta dengan langkah-langkah serta cita-cita ajaran yang sangat mendasar dalam membentuk jiwa dan watak bangsanya. Kemudian cita-cita tersebut dilanjutkan oleh para Hamengku Buwana yang menggantikannya, tentunya segala variasi kepemimpinannya disesuaikan dengan zamannya. Tetapi kalau kita perhatikan ada hal yang sama pada kepemimpinan dari zaman ke zaman tersebut, sehingga bisa bertahan sampai sekarang, yaitu mempertahankan jiwa satriya itu. Kalau kita menyadari sebenarnya dengan adanya penjajahan dari bangsa asing kepada bangsa kita, hikmahnya adalah terbentuknya jiwa satriya tersebut yang tetap membekas sampai akhir zaman. Tanpa kesadaran dari kita semua, jiwa satriya akan menghilang dan tinggal kenangan saja, maka tinggal menunggu ”hancurnya bangsa ini”. Oleh karenanya semestinya seluruh lapisan masyarakat di Indonesia pada umumnya, dan DIY pada khususnya dapat mengaplikasikan nilai-nilai jiwa satriya dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Documentation : ekosuryanti@yahoo.co.id

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan