Wednesday, 4 November 2009

Penjual Koran itu Bilang : "Glo Munyok Chino"

"GLO MUNYOK CHINO"

Seorang penjual koran menunjukkan gambar orang China yang menjadi biang permafiaan korupsi, Anggodo Widjoyo, namanya juga Anggodo, berarti menggoda dengan uang..............dalam dunia pewayangan dinamakan kera. Kemudian dia bicara,"Glo Munyok China", dalam dunia pewayangan termasuk kera bagus, prajuritnya Prabu Ramawijaya, tetapi dalam dunia keuangan begitulah.

Itulah ungkapan seorang penjual koran, "Glo Munyok Chino" Fenomena korupsi bagaikan persatuan permafiaan, yang kena satu kena semuanya, dan juga bagaikan amalan berjamaah (nau dzu billah). Duit telah menjadi Raja.

Kalau yang korupsi keturunan Cina, maka rakyat menyebutnya munyok China

Kalau yang korupsi dosen dengan dana penelitian, maka mahasiswa menyebutnya munyok dosen.

Kalau yang korupsi keturunan Jawa, maka rakyat menyebutnya munyok Jawa.

Kalau yang korupsi pegawai, maka rakyat menyebutnya munyok pegawai.

Kalau yang korupsi kepala sekolah, maka rakyat menyebutnya kepala sekolah munyok.

Kalau yang korupsi mahasiswa terhadap uang kuliah dari orangtuanya, maka dijuluki rakyat munyok mahasiswa.

kalau yang korupsi rakyat sendiri dengan mengaku-aku miskin padahal tidak miskin agar dapat BLT, jankesmas, jamkesos, raskin, maka dijuluki rakyat munyok.

Kalau munyok yang korupsi, harusnya pisangnya dibagi dengan teman-temannya, tetapi dimakan sendiri maka dijuluki munyuk-munyuk. hi...hi...hi

India, ibukota Film di Asia ????

Masih ingat zamannya TPI tiap hari memutar film India, macem-macem ceritanya, Pyar Ka, Kuch Kuch Hota Hai, Najin, ................................................................................banyak sekali judul. Hampir tiap hari Ibu-Ibu dan para remaja putri menonton film India. Bagaimana dengan Bapak-Bapaknya yang di kantor. Kayaknya India sangat produktif dalam pembuatan film-film. Karena film-film India membanjiri layar tidak terhitung rasanya. India dan Indonesia, berapa banyak film India yang dinikmati bangsa Indonesia melalui layar TV, dan berapa banyak film Indonesia ditonton orang India. Berapa ya perbandingannya, mungkinkah 50 :50; barangkali 5 : 95. Sayang belum pernah membaca penelitian itu.

Ketika melihat penggemar Shah Rukh Khan yang diundang ke Toronto, ribuan..........memadati area itu. Shah Rukh Khan dkk mampu memukau para penonton.

India dan Hongkong seolah-olah bersaing di dalam industri perfilman dunia. Merekalah yang mampu menembus pasaran luar negeri dengan luas. Film-film India mampu menyuguhkan penokohan, cerita, bahasa, tarian, musik, lagu secara terpadu dalam sebuah film. Jadi kalau menonton film India paling tidak kita dapat melihat drama musikal, gerak lagunya, sedih atau senangpun menyanyi. Rasa seni orang India tercurah di sini. Ada kritik terhadap pemerintahan, kepolisian, kampus dalam olahan seni film India. Bahkan rasa nasionalisme itu tertuang dalam film itu, bahwa walaupun putra putri India kuliah di LOndon, tetapi ke-India-annya tidak boleh hilang, perempuan harus memakai kain sari, menyanyi lagu India, tradisi dan wersternisasi dikombinasikan.

Banyak bintang yang ternama di sana : Shah Rukh Khan, Amir Khan, Saif Ali Khan, Salman Khan, Mithun Cakhrabarti, Sri Devi, Neelam, Kajol, Rani Mukherjee, dan masih banyak lagi. Dunia Bollywood dikuasai oleh keluarga Khan dan Kapoor.

Indonesia sekarang juga mulai bangkit kembali, film Indonesia sering mendapat penghargaan dalam festival film internasional, tetapi secara pasarannya apakah sudah seluas film India dan Hongkong, sinetron-sinetron Indonesia, siapa yang menikmati, film Indonesia dalam dunia Jakartawood yang isinya insan-insan film di Indonesia...........................................