Friday, 29 February 2008

HELO TRANS JOGJA (2)

Kalau pada awal-awal peluncuran masih ada celah-celah kosong dari kursi-kursi Trans Jogja, akhirnya berkali-kali saya saksikan Trans Jogja ramai dengan penumpang, sebaliknya angkutan-angkutan lama mulai sepi. Kondisi bus yang disesuaikan dengan lebar jalan, ternyata bersaing dengan mobil-mobil pribadi yang parkir di tepi jalan, dan kepadatan lalu lintas jalan raya masih terasa. Mungkin butuh pengaturan tata guna jalan lagi. Kalau jalan yang lama dirubah lagi, pasti justru mengacau kegiatan lalu lintas jalan, mendingan dibangun jalan alternatif lagi. Trans Jogja juga harus diluncurkan sampai pelosok pedesaan, sehingga bisa menyemarakkan wisata pedesaan di Yogyakarta. Di dekat shelter mestinya dibuat tempat parkir yang akan menambah penghasilan bagi penduduk sekitarnya.
Trayek yang sudah berjalan adalah :
1. Trayek 1a
TERMINAL PRAMBANAN-BANDARA ADISUCIPTO-STASIUN TUGU-MALIOBORO-JEC
RUTE : Terminal Prambanan- S5. Kalasan-Bandara Adisucipto-S3 Maguwoharjo-Janti (lewat bawah)-S3 UIN Kalijaga-S4 Demangan-S4 Gramedia-S4 Tugu-Stasiun Tugu-MALIOBORO-S4 Kantor Pos Besar-S4 Gondomanan-S4 Pasar Sentul-S4 SGM-GEMBIRALOKA-S4 Babadan Gedongkuning-JEC-S4 Blok O-JANTI (lewat atas)-S3 Maguwoharjo-Bandara Adisucipto-S5 Kalasan-Terminal Prambanan
2. Trayek 1b
TERMINAL PRAMBANAN-BANDARA ADISUCIPTO-JEC-KANTOR POS BESAR-PINGIT-UGM
RUTE :Terminal Prambanan - S5. Kalasan-Bandara Adisucipto-S3 Maguwoharjo-Janti (lewat bawah)-S4 Blok O- JEC-S4 Babadan Gedongkuning-Gembiraloka-S4 SGM-S4 PasarSentul-S4 Gondomanan-S4 Kantor Pos Besar-S3 RS PKU Muh.-S3 Pasar Kembang- S4 Badran- Bundaran Samsat-S4 Pingit-S4 Tugu-S4 Graamediaa-Bundaran UGM-S3 Colombo-S4 Demangan-S3 UIN Kalijaga-JANTI-S3 Maguwoharjo-Bandara Adisucipto-S5 Kalasan-Terminal Prambanan
3. Trayek 2a
TERMINAL JOMBOR-MALIOBORO-BASEN-KRIDOSONO-UGM-TERMINAL CONDONGCATUR
RUTE : Terminal Jombor -S4 Monjali-S4 Tugu-Stasiun Tugu-Malioboro-Kantor Pos besar-S4 Gondomanan-S4 Jokbetengwetan-S4 Tungkak- S4 Gambiran-S4 Basen-S4 Rejowinangun-S4 Babadan Gedongkuning-Gembiraloka-S4 SGM-S3 Cendana-S4 Mandalakrida-S4 Gayam-Flyover Lempuyangan-Kridosono-S4 Dutawacana-S4 Galeria-S4 Gramedia-Bundaran UGM-S3 Colombo-Terminal Condongcatur- Kentungan-Monjali- Terminal Jombor
4. Trayek 2b
TERMINAL JOMBOR-TERMINAL CONDONGCATUR-UGM-KRIDOSONO-BASEN-KANTOR POS BESAR-WIROBRAJAN-PINGIT
RUTE :Terminal Jombor-S4 Monjali-S4 Kentungan-Terminal Condongcatur-S3 Colombo-Bundaran UGM-S4 Gramedia-Kridosono-S4 Dutawacana-Flyover Lempuyangan-S4 gayam-S4 Mandalakrida-S3 Cendana-S4 SGM-Gembiraloka-S4 Babadan Gedongkuning-S4 Rejowinangun-S3 Basen-S4 Tungkak-S4 Jokbetengwetan-S4 Gondomanan-S4 Kantor Pos Besar-S3 RS PKu Muh.-S4 Ngabean-S4 Wirobrajan-S3 BPK-S4 Badran-Bundaran Samsat-S4 Pingit-S4 Tugu-S4 Monjali-Terminal Jombor
5. Trayek 3a
TERMINAL GIWANGAN-KOTAGEDE-BANDARA ADISUCIPTO-RINGROAD UTARA-MM UGM-PINGIT-MALIOBORO-POJOK BETENG KULON
RUTE : Terminal Giwangan-S4 Tegalgendu-S3 HS Silver-Jl Nyi Pembayun-S3 Pegadaian Kotagede-S3 Basen-S4 Rejowinangun-S4 babadan Gedongkuning-JEC-S4 Blok O-Janti (lewat atas)-S3 Janti-S3 Maguwoharjo-Bandara Adisucipto-S3 Maguwoharjo- Ringroad Utara-Terminal Condongcatur-S4 Kentungan-S4 M.M. UGM-S4 Mirotakampus-S3 Gondolayu-S4 Tugu-S4 Pingit-Bundaran Samsat-S4 Badran-S3 Pasarkembang-Stasiun Tugu-Malioboro-S4 Kantor Pos Besar-S3 RS PKU Muh.-S4 Ngabean-S4 Joktengkulon-S4 Plengkunggading-S4 Tungkak-S4 Wirosaban-S4 Tegalgendu-Terminal Giwangan
6. Trayek 3b
TERMINAL GIWANGAN-JOKTENG KULON-PINGIT-MM UGM-RINGROAD UTARA-BANDARA ADISUCIPTO-KOTAGEDE
RUTE : Terminal Giwangan-S4 Tegalgendu-S4. Wirosaban- S4. Tungkak-S4. Plengkunggading-S4. Joktengkulon-S4. Ngabean-S3.RS.PKU Muh.-S3. Pasar Kembang- S4. Badran-Bundaran Samsat-S4 Pingit-S4 Tugu-S3 Gondolayu-S4 Mirota Kampus-S4. MM UGM- S4 Kentungan-Terminal Condongcatur-Ringroad Utara-S3 Maguwoharjo-Bandara Adisucipto-S3 Maguwoharjo-JANTI (lewat bawah)-S4 Blok O- JEC-S4. Babadan Gedongkuning-S4 Rejowinangun-S3 Basen-S3 Pegadaian Kotagede-Jl Nyi Pembayun-S3 HS Silver-S4 Tegalgendu-Terminal Giwangan
Trans Jogja tidak berhenti sembarangan. Tempat berhenti sengaja dirancang khusus. Di dalam ruang berkaca, lebih tinggi dari permukaan trotoar. Di halte itulah para penumpang membeli tiket. Lokasi Pos (Point of Sales)
1. Halte Bandara Adisucipto

2. Halte Terminal Jombor
3. Halte Laksda Adisucipto Ambarukmo Plaza
4. Halte Terminal Giwangan
5. Halte Senopati Taman Pintar
6. Halte Tentara Pelajar Samsat
7. Halte Jalan Kaliurang Kopma UGM
8. Halte Sudirman Bethesda
Sudah dibuat kira-kira 76 shelter, setelah melalui negoisasi dengan pemilik tempat. Penentuan shelter dilakukan dengan survei, melalui pertimbangan bahwa lokasi tersebut tidak mengganggu lalu lintas, ketersediaan lahan.
Jenis-jenis tiket yang ditawarkan :
1. Tiket Single Trip
Penumpang dapat membeli di semua halte, yang bisa dipakai sekali jalan paling jauh 60 menit seharga Rp. 3000,-
2. Tiket Regular Umum
Penumpang dapat membeli langsung di halte bertanda POS/CARD CENTER Dinas Perhubungan Provinsi DIY. Harga beragam, satu perjalanan seharga Rp 2.700,-. Pilihan nominal pulsa/isi ulang : Rp 15.000,-; Rp 25.000,-; Rp 50.000,-; dan Rp 100.000,-
3. Tiket Regular Pelajar
Pelajar mendaftar secara kolektif melalui sekolah masing-masing. Petugas dari Dinas Perhubungan DIY akan menghubungi ke sekolah. Tiket perdana bernilai Rp 15.000,- dan bisa diisi ulang seharga Rp 15.000,-; Rp 25.000,-; Rp 50.000,-; dan Rp 100.000,-.
Cara mengisi ulang tiket regular dapat dilakukan dengan membawa tiket regular ke tempat halte yang bertanda POS. Petugas akan memeriksa dan mengisi pulsa sesuai pesanan. Apabila rusak, tiket dibawa ke halte bertanda POS, nanti akan diperiksa dan diperbaiki petugasnya.Penumpang setelah naik di sebuah halte, dengan menyiapkan tiket yang telah dimiliki, kemudian kartu ditap pada mesin tiket secara otomatis, pintu GateAccess TJ pun terbuka. Untuk tiket biasa dapat dimasukkan ke dalam mesin tersebut agar Gate Access terbuka.
Bagi yang belum pernah naik, mudah saja, cukup membeli tiket di halte (bagi yang belum punya yang regular), kemudian menge-tap tiket ke dalam mesin tiket, Pulsa akan berkurang Rp 2.700,-, untuk pelajar Rp 2.000,- sehingga Gate Access terbuka. Kunci Rotari Pintu akan terbuka, silahkan masuk. Walaupun penumpang naik turun halte sampai beberapa kali kalau durasinya kurang dari 60 menit, maka pulsa tiket tidak akan berkurang.
Trans Jogja tidak akan berhenti di sembarang tempat tidak seperti bus-bus lainnya. Sopir tidak ditarget untuk memberi setoran, tetapi dihitung per jam operasi. jadi tidak ada yang memaksa mereka untuk ugal-ugalan di jalan.
Pemerintah memberikan subsidi kira-kira 32 milyar rupiah atau @ Rp 2000 untuk setiap tiketnya. Seharusnya tiket berharga Rp 5.000, dengan subsidi tersebut menjadi Rp 3000,-. Lumayan. Sopir dan kernet tidak menerima bayaran dari penumpang, tetapi digaji berdasarkan berapa jam mereka mengoperasikan Trans Jogja. Mereka tidak perlu mengejar setoran dengan membiarkan Trans Jogja berdesak-desakan. Semestinya sopir dan kernet bisa menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang. Untuk penanganan copet, memang perlu kekompakan antara operator dan penumpang bus, sehingga ada pencegahan dan pemberantasan. Beberapa waktu yang lalu ada copet yang berani masuk di Trans Jogja, hampir saja copet itu lepas, akan tetapi dengan kepedulian sesama penumpang, copet tersebut berhasil dibekuk. Memang kepedulian antara para penumpang sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi kriminalitas dalam bus kota. Untungnya Trans Jogja hanya berhenti pada shelter-shelter yang memang didesign tinggi. Sebelum copet lari bisa terjerembab dulu.
Untuk info lebih lanjut bisa menanyakan ke Dishub DIY atau BAPEDA Provinsi DIY.

Friday, 22 February 2008

HELO, TRANS JOGJA

Mulai minggu ini Pemerintah Daerah Provinsi DIY me-launching bus Transjogja. Mungkin hal ini telah menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai kalangan sejak isu peluncuran bus ini. Selama ini bus-bus lama saja sudah memenuhi badan jalan, ditambah kendaraan pribadi yang tiap tahun melonjak tajam kenaikannya. Kenapa harus TransJogja, apakah ingin bersaing dengan Jakarta? Jalan selama ini sudah sesak dan banyak polusi udara, kok ditambah bus lagi, apa tidak semakin semrawut dan polusi di mana-mana. Bagaimana nasib para kru bus yang lama, apa tidak menimbulkan kecemburuan sosial, apa tidak menyalakan gairah untuk demo? Pokoknya pertanyaannya macam-macam. Banyak kalangan yang mempertanyakan hal tersebut. Akan tetapi, begitu TransJogja diluncurkan banyak yang ingin mencoba di hari ujicoba peluncuran TransJogja, ada yang pura-pura akan menghafalkan jalur, ada yang pura-pura mangayubagya TransJogja, say hello TransJogja. Tidak alasan bepergianpun ikut-ikutan naik. Dalam ujicoba tersebut setiap penumpang hanya dikenakan tarif Rp 1000, padahal seharusnya Rp 3000.
Peluncuran Trans Jogja merupakan salah satu pelayanan publik dari Pemerintah di bidang transportasi yang memang menunjang sarana kebutuhan hidup masyarakat Yogyakarta. Hadirnya TransJogja sudah digagas sejak lama sebagai perenungan dengan berbagai kondisi saat ini. Tujuan dari penyediaan Transjogja tersebut antara lain untuk mengurangi beroperasinya kendaraan pribadi, menjamin keamanan dan kenyamanan, menjaga ketertiban lalu lintas, mengurangi polusi, mengurangi kemacetan. Lalu apakah semua itu terjawab dengan adanya TransJogja. Tanya saja kepada rumput yang bergoyang atau debu yang beterbangan.
Selama ini kondisi dan pelayanan angkutan umum sudah tidak memadai untuk kebutuhan keandalan, kenyaman, keamanan, keindahan lingkungan, dapat dikatakan buruk. Daya muat angkutan umum juga kecil, banyak copet. Setiap hari para pelajar membawa kendaraan pribadinya, sehingga dalam sehari berapa kendaraan pribadi yang beroperasi? Selama ini setiap hari beroperasi sekitar 591 berbagai kendaraan. Bus umum itu berhenti di sembarang tempat, padahal di tepi jalan sudah digunakan untuk parkir mobil-mobil pribadi.
Trans Jogja yang diluncurkan dalam Minggu ini didesign sesuai dengan lebar badan jalan, ukurannya sedang menyesuaikan lebar jalan. Daya muat 22 penumpang duduk, dan 19 penumpang berdiri dengan fasilitas gantungan tangan. Di dalamnya juga dilengkapi peralatan keamanan. Ac dan tempat duduk yang nyaman. Untuk saat ini dari 54 TransJogja yang ada yang beroperasi baru 49 bus. TransJogja baru menyediakan 3 jalur pulang balik dengan 6 trayek, yakni 1a, 1b, 2a, 2b, 3a, 3b. Masing-masing trayek dilayani 8 bus dengan headwait 15 menit.
Trayek 3a Terminal Prambanan - Bandara Adicucipto, Stasiun Tugu- Malioboro - JEC, beroperasi dengan rute Terminal Prambanan - S5 Kalasan-Bandara Adisucipto - S3 Maguwoharjo - Janti (lewat bawah) - S4 Kantor Pos Besar - S4 Gondokusuman - S4 Pasar Sentul - S4 UGM - GEMBIRALOKA - S4 Babadan, GedongKuning - JEC - S4 Blok ) - JANTI (lewat atas) - S3 Maguwoharjo - Bandara Adisucipto - S5 Kalasan - TERMINAL PRAMBANAN.
Trayek 1 B : TERMINAL PRAMBANAN - BANDARA ADISUCIPTO - JEC - KANTOR POS BESAR - PINGIT - UGM, beroperasi pada rute : Terminal Prambanan - S5 Kalasan - Bandara Adisucipto - S3. Maguwoharjo - JANTI (lewat bawah) - S4 Blok o, JEC - S4 Babadan Gedongkuning - GEMBIRALOKA - S4 SGM - S4 Pasar Sentul - S4 Gondomanan - S4 Kantor Pos Besar - S3 RS PKU Muhammadiyah - S3 Pasar Kembang - S4 Badran - Bundaran Samsat - S4 Pingit - S4 Tugu - S4 Gramedia - BUNDARAN - UGM - S3 Colombo - S4 Demangan - S3 UIN Kalijaga - JANTI - S3 Maguwoharjo - Bandara Adisucipto - S5 Kalasan - TERMINAL PRAMBANAN.
Trayek 2A TERMINAL JOMBOR - MALIOBORO - BASEN - KRIDOSONO - UGM - TERMINAL CONDONGCATUR
Trayek 2 B TERMINAL JOMBOR - TERMINAL CONDONGCATUR- UGM - KRIDOSONO - BASEN - KANTORPOS BESAR - WIROBRAJAN - PINGIT
(bersambung)

Wednesday, 20 February 2008

Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-7


Aktualisasi Filosofi Kepemimpinan Jawa
dari Serat Piwulang & Gelar Seni
“Sawiji, Greget, Sengguh, Ora-Mingkuh”
--Sri Sultan HB I
MERUJUK pandangan Pangeran Suryodiningrat, seorang empu senitari Kraton, yang ditulis seniman tari Ben Suharto, definisi Tari Gaya Yogyakarta terangkum dalam tiga konsep inti, yaitu wiraga, wirama dan wirasa, di mana dua aspek yang pertama lebih bersifat lahiriah, sementara unsur yang terakhir: wirasa, lebih pada makna batiniah.
Oleh sebab itu ada pembedaan antara Tari Yogyakarta dengan Joged Mataram, yang mengibaratkan wadah dan isi --berbeda namun saling melengkapi dalam satu kesatuan harmoni. Tari Yogyakarta lebih bertumpu pada olah-tubuh menyesuaikan ritme irama gamelan, sedangkan Joged Mataram merupakan olah-batin yang wholistic sekaligus holistic[1]--menyangkut dimensi yang luas dan adiluhung.
Konsekuensinya, selain menuntut kemampuan teknik menari yang prima dan utuh, juga mensyaratkan penguasaan total pada aspek batiniahnya. Pencapaian tataran tertinggi ini hanya dapat diraih melalui kerja keras dan ketekunan, yang juga dapat dijadikan rujukan etos kerja dalam usaha meningkatkan kualitas budaya bangsa [2].
Filosofi Joged Mataram
Joged Mataram sebagai aspek batiniah Tari Gaya Yogyakarta, memiliki makna yang paradoksal, sebagaimana umumnya idiom-idiom Jawa.
Dengan menggali konsep aselinya yang diciptakan oleh Sri Sultan HB I, Pangeran Suryobrongto, seorang pujangga tari yang lain, mengungkapkan bahwa pada intinya Joged Mataram mengandung empat unsur, yang masing-masing unsurnya memuat makna yang dualistis. Ke empat unsur itu adalah, ”sawiji” --konsentrasi atau penjiwaan total tanpa menjadi tak sadarkan diri atau in-trance, “greget” --semangat atau dinamika batin tanpa menjadi kasar, “sengguh” --penuh percaya diri namun low profile, tanpa menjadi sombong, dan “ora mingkuh”--pantang mundur dengan tetap menjaga disiplin diri. Mengapa disebut paradoksal, karena jika salah dalam mengekspresikan ”sengguh”, misalnya, seorang penari bisa terkesan tinggi hati, yang tidak mencirikan karakter khas Joged Mataram.
Seorang penari yang mampu menguasai empat baku senitari itu dengan sempurna, dapat dikatakan secara kultural-spiritual dia sudah mencapai pada tataran ”manunggaling kawula-Gusti” --manembah-nya insan kepada Sang Khalik, oleh menyatunya penguasaan lahir-batin, karakter yang juga dipersyaratkan bagi seorang Pemimpin
Filosofi Kepemimpinan Jawa
Betapa sentral dimensi kepemimpinan dalam khasanah budaya Jawa, sastra piwulang banyak menulis tentang ajaran kepemimpinan, yang sering diekspresikan dalam gelar seni tari.
Sultan Agung
Prinsip-prinsip keagung-binatharaan dalam sosok kepemimpinan Jawa, sesungguhnya juga bersumber dari ajaran-ajaran sebelumnya sejak zaman Singasari. Mengutip salah satu paparan Ngarsa Dalem [3], dikatakan bahwa Sultan Agung Hanyokrokusumo mengembangkan konsep kepemimpinan dalam: “Sang Aji Bathara Buwana” lewat: “Serat Sastra-Gendhing”, yang memuat Tujuh Amanah.
Butir pertama, “Swadana Maharjeng-tursita”, seorang pemimpin haruslah seorang intelektual, berilmu, jujur dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi dengan pihak lain atas dasar prinsip kemandirian. Kedua, “Bahni-bahna Amurbeng-jurit”, selalu berada di depan asung tuladha dalam membela keadilan dan kebenaran. Ketiga, “Rukti-setya Garba-rukmi”, bertekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.
Keempat, “Sripandayasih-Krami”, bertekad menjaga sumber-sumber kesucian agama dan kebudayaan, agar berdaya manfaat bagi masyarakat luas. Kelima, “Galugana-Hasta”, mengembangkan seni-sastra, seni-suara dan seni-tari guna mengisi peradaban bangsa. Keenam, “Stiranggana-Cita”, sebagai pelestari dan pengembang budaya, pencetus sinar pencerahan ilmu dan pembawa obor kebahagiaan ummat manusia. Dan yang terakhir, butir ketujuh, “Smara-bhumi Adi-manggala”, tekad juang lestari untuk menjadi pelopor pemersatu dari pelbagai kepentingan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu, serta berperan dalam perdamaian di mayapada.
Sri Sultan HB I
Selain konsep Sultan Agungan, Sri Sultan HB I, pendiri Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, juga mewariskan pelajaran kepemimpinan kepada kita tentang “Astha-wilapa-sari”, yakni: delapan denyut kebajikan insani yang membatasi kekuasaan, sekali pun seorang Raja [4].

Pertama, “Redi-tinamping”, pola pikir filosofis seorang Raja merupakan cerminan pribadinya. Maka yang wigati, setiap saat harus mau melakukan introspeksi di tengah-tengah kawula-alit sebagai pendukung kekuasaannya. Kedua, “Jiwan-danarta”, seorang Raja besar hakikatnya juga seorang interpretator dan visioner besar, maka wajib menafsirkan fenomena apa pun yang terlihat di depan mata.

Ketiga, “Lir-ginelar”, patron kebijakan seorang Raja hendaknya selalu disentuh oleh sistem mufakat di antara kerabat besar pendukung tahta.
Keempat, “Pitraya-inyika”, sebagai seorang Raja yang Gung Binathara hendaknya lebih banyak mendermakan harta-benda untuk kawula yang papa dan renta di dusun-dusun, sebagai wujud amal dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kelima, “Andaya-wilang”, harus tanggap ing sasmita terhadap pergolakan “lati” dan rasa “ewuh-pakewuh”-nya para sarjana dan kaum ulama terhadap tindakan Sang Raja.
Keenam, “Surya-sribhawanti”, hendaknya menjadi tokoh pelindung budaya, adab, agama, persaudaraan ummat dan cita-cita kemerdekaan. Ketujuh, “Rohartaya”, hendaknya selalu insyaf, bagaimana memanfaatkan peradaban Barat bagi kepentingan bangsa dan negara, dan kedelapan, “Traju-trisna”, seorang Raja hendaknya berlaku adil, arif-bijaksana dan tidak mabuk sanjung-puji.
Sang Amurwabumi
Jika mencermati gelar tari Bedhaya Sang Amurwabumi, di sana juga tersirat pesan yang mensimbolisasikan spirit patriotisme dan filosofi kepemimpinan yang mengekspresikan watak ”setia pada janji, tabah dan kokoh namun toleran, selalu berbuat baik dan sosial”.
Dalam Serat Pararaton dari pernikahan Sang Amurwabumi dengan Prajnaparamita dapat kita tangkap isyarat, bahwa garis kesinambungan kepemimpinan tidak cukup dengan hanya mengandalkan kelangsungan darah, melainkan masih diperlukan syarat rumasuk-nya wahyu sebagai bukti lulusnya laku. Keturunan bukan semata-mata dipahami secara biologis atas dasar pewarisan, namun lebih berdimensi kultural-spiritual yang intinya tekad nyawiji. Secara lebih kongkrit, kelestarian eksistensi suatu bangsa dalam proses suksesi atau pun regenerasi, bukan sekadar demi menjunjung prestise, namun harus dibuktikan dengan kadar kualitas budaya bangsa itu sendiri dalam berprestasi.
Ajaran Hasta Karma Pratama yang diturunkan kepada Sang Prajnaparamita oleh Mpu Parwa merupakan kerangka acuan seorang Pemimpin dalam melakukan apa saja yang harus sejatinya benar, terdiri atas delapan langkah, yaitu: (1) Pandangan yang benar, (2) pikiran yang benar, (3) bicara yang benar, (4) tingkah-laku yang benar, (5) kehidupan yang benar, (6) usaha yang benar, (7) ingatan yang benar, dan (8) samadi.
Sedangkan untuk mendukung kualitas kepemimpinan, seorang Pemimpin harus mengamalkan ajaran ”Dasa Paramita”, yaitu: (1) Dhana --kemurahan hati, (2) Sila --laku utama, (3) Ksanti --ketenangan dan kesabaran, (4) Virya --keberanian, (5) Dhyana --samadi, agar selalu tunduk-patuh kepada Sang Pencipta, (6) Prajnya --kewaspadaan, (7) Upaya-kausalya --usaha dan sarana, (8) Pranidhana --ketetapan hati, (9) Bala --kewibawaan kekuasaan, dan (10) Juana --ilmu pengetahuan.
Ajaran Lainnya
Ajaran kepemimpinan lain, misalnya “Serat Wulang Jayalengkara” menyebutkan, seorang penguasa haruslah memiliki watak “Wong Catur”, yakni: retna, estri, curiga dan paksi.
Retna atau permata, wataknya adalah pengayom dan pengayem, karena khasiat batu-permata adalah untuk memberikan ketenteraman dan melindungi diri. Watak estri atau wanita, adalah berbudi luhur, bersifat sabar, bersikap santun, mengalahkan tanpa kekerasan atau pandai berdiplomasi. Sedangkan curiga atau keris, seorang pemimpin haruslah memiliki ketajaman olah-pikir.
Dalam menetapkan policy dan strategi di bidang apa pun harus mendasarkannya atas data dan informasi yang benar. Terakhir simbol paksi atau burung, mengisyaratkan watak yang bebas terbang kemana pun, serta dapat bertindak independen tidak terikat oleh kepentingan satu golongan, sehingga pendapatnya pun bisa menyejukkan semua lapisan masyarakat.
Ini sekadar menunjukkan contoh, betapa kayanya piwulang para leluhur, selain yang sudah teramat masyhur, yang termuat dalam ajaran Astha-Brata. Atau kepemimpinan ideal yang berwatak Pandawa-Lima, yang dikawal dengan kesetiaan dan keikhlasan sosok Semar beserta anak-anaknya Di mana deskripsi, derivasi dan penjabaran serta aplikasinya dalam suatu kepemimpinan aktual mengundang kajian para budayawan dan cendekiawan kita.
Pepeling bagi Pemimpin
Dalam hal ini, menarik untuk dikaji ulasan lakon: “Petruk Dadi Ratu” [5]. Berbeda dengan pemahaman umum, bahwa lakon itu mengibaratkan seorang “kere munggah bale” yang ber- “aji-mumpung”, atau sebuah dagelan satire, tetapi sesungguhnya adalah skenario “mencoke wahyu marang kawula”. Di saat Abimanyu sakit, pergilah ketiga wahyu yang dimilikinya: wahyu-maningrat –yang menebarkan benih keratuan—wahyu-cakraningrat –yang menjaga keberadaannya sebagai ratu—dan wahyu-widayat –yang melestarikan hidupnya sebagai ratu.
Ketiga wahyu itu hinggap pada diri Petruk, yang menamakan dirinya sebagai Sang Prabu Wel-Geduwel-Beh yang bertahta di kerajaan Lojitengara. Untuk mengukuhkan diri sebagai raja, ia masih membutuhkan dampar Astina, warisan Palasara, pendiri Astina. Konon, ia tidak akan terjungkal dan dapat menduduki dampar, setelah Petruk memangku Abimanyu, yang bersamaan dengan itu Abimanyu pun sembuh dari sakit yang dideritanya. Dalam episode Bharatayudha: “Abimanyu Gugur”, Petruklah yang menggendong jenazah Abimanyu, dan Petruk pulalah yang membakar mayatnya menuju alam kasampurnan.
Kedua lakon itu mengandung makna sekaligus pepeling, bahwa:
1. Seorang Raja yang ingin tetap kedunungan (dihinggapi) wahyu, haruslah berada dipangkuan (didukung) Rakyat. Tidak seperti Dasamuka yang lalim, dan Duryudana yang serakah, kendati pun berkuasa, namun sesungguhnya mereka tidaklah pernah berhasil bertahta di dampar yang sebenar-benarnya, yakni dampar Rakyat itu! Karena hanya ada satu tahta Palasara: ”Tahta Rakyat”.
2. Sampai moksha pun, Raja tergantung Kawula. Hanya Rakyatlah yang dapat menyempurnakan hidup Raja dan menuliskan sejarahnya. Memang, yang namanya Rakyat itu ada di sepanjang zaman. Sementara Raja, tidaklah abadi. Ia bertahta hanya dalam masa tertentu. Sedangkan Rakyat terus ada. Buktinya, Semar dan Petruk serta panakawan lainnya tetap ada sepanjang zaman, ikut menjaga penguasa dari masa ke masa. “Kawula iku ana tanpa wates, Ratu kuwi anane mung winates”.
Jika membuka serat: “Niti Raja Sasana”, untuk mempertahankan kewibawaan di mata rakyat, setiap pemegang kekuasaan haruslah “satya-wacana” atau “satunya kata dengan perbuatan”. Apalagi karena sekarang ini, terlalu banyak keteladanan verbal ketimbang keteladanan aktual. Demikian juga, lebih sering kita mendengar ungkapan simbolik daripada transparansi informasi.
Karena sekarang ini banyak dari kita, baik penguasa maupun masyarakat, senantiasa mencari makna-makna simbolik di hampir segala peristiwa. Sampai batas tertentu simbolisme itu perlu dan baik, asal tidak over-simbolisasi yang tidak mengakar pada realitas. Karena hal ini tidak akan melahirkan tindakan guna mencapai makna yang nyata dari simbol-simbol yang kita ciptakan sendiri itu. Kita menaruh kekhawatiran besar, jika kemudian yang menjadi penting adalah ungkapan-ungkapan simbolik itu sendiri, terutama dari pemimpin yang menjadi panutan perilaku budaya masyarakat.
Dialog Budaya & Gelar Seni
Dalam kerangka pikir seperti itu, bertepatan dengan suasana Peringatan Hari Pahlawan, maka Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-7 akan mengangkat tema “Kepemimpinan” (yang implisit di dalamnya terkandung aspek “Kepahlawanan”), dengan menghadirkan narasumber Sardono W. Kusumo, Rektor Institut Kesenian Jakarta, Kyai HM Nasruddin Anshoriy, Pengasuh PesanTrend “Ilmu Giri”, RM Dinu Satomo, BA, Pengageng II “Sri Wandawa” Kraton Yogyakarta yang menekuni Tari Gaya Yogyakarta & Joged Mataram.
Dialog dipandu oleh Indra Tranggono, Penulis & Kritikus Seni, bersama Hari Dendi. Gelar Seni berupa “Guntur Segara” (ciptaan Sri Sultan HB I), yang menggambarkan etos keprajuritan Mataram-Yogya, diselingi Seni Akapela Mataraman, musik mulut karya Pardiman Jayanegara, dengan Stage Manager Bondan Nusantara & Drs. Sumaryono, MA dan latar “gamelan ringkes” dari siswa-siswi SMKI Yogyakarta. Secara rutin setiap selapanan digelar di Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Pemerintahan DIY pada malam Slasa Wage, 13 November 2007, jam 19.00-22.00.
Renungan Kita
Sejalan dengan proses dialektika, di mana selalu terjadi pergeseran nilai-nilai zaman, maka apa yang terungkap pada masa-masa yang kemudian, adalah terbentuknya sintesa-sintesa baru tentang konsep kepemimpinan dalam suatu setting sistem kenegaraan yang amat berbeda dengan jagat pewayangan atau pun masa Mataram dulu.
Meski demikian, kita tetap mendambakan sosok kepemimpinan ”Sang-Aji” yang melekat pada dirinya kesempurnaan karakter seorang ”Satriya-Pinandhita”, yang mungkin hanya dapat kita raih melalui mimpi-mimpi kita. Dan memang, sungguh kita sedang berada di ujung jalan, atau di permulaan jalan baru, yang mungkin saja masih panjang ...

Yogyakarta, 5 November 2007
Komunitas Budaya
“YogyaSemesta”,

Hari Dendi

[1] Ben Suharto, "Tari Dalam Pandangan Kebudayaan", Jurnal Seni, BP ISI Yogyakarta,
No. I/01, Mei 1991.
[2] Sri Sultan HB X, ”Sang Amurwabumi: Sosok Kepemimpinan Patriotik”, Orasi Budaya, Gelar Budaya Yogya, Jakarta Hilton, 24 November 2000.
[3] Sri Sultan HB X, ”Pengembangan Makna Budaya Kraton & Ajaran Kepemimpinan Tradisional”, Pekan Temu Budaya 1997 dalam rangka Akhir Dasa Warsa Kebudayaan 1988-1997, Yogyakarta,
4 November 1997.
[4] Suryanto Sastroatmodjo, ”Di Riak Ombak Laut Selatan: Sri Sultan HB X Seorang Budayawan”, Serangkum Percik-Percik Renungan, Naskah belum diterbitkan.
[5] I Kuntara Wiryamartana & Sindhunata, “Tahta Raja di Pangkuan Rakyat”, Majalah BASIS,
Januari-Februari, 1996.

Tuesday, 19 February 2008

Gunung Kidul, permata yang tersembunyi di Provinsi DIY


Bicara tentang Gunung Kidul, ...........hmmmmmm, sering diidentikkan dengan daerah asalnya Inem Pelayan Seksi. Pasti bila kita berada di kota besar, bertanya kepada banyak pembantu rumah tangga di sana, pasti ada yang menjawab dari Gunung Kidul. Padahal kalau kita bertanya tentang orang-orang sukses di kota-kota besar, juga ditemukan Gunung Kidul. Kalau ditanyakan kambing mana yang sangat lezat untuk dijadika sate, pasti salah satunya Gunung Kidul, itu sudah tradisi.


Gunung Kidul, merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerahnya bergunung-gunung, karena memang berada pada deretan Pegunungan Selatan atau juga Pegunungan Sewu. Daerah ini merupakan perbukitan batugamping (limestone) dan bentang alam karst yang tandus dan kekurangan air permukaan, dengan bagian tengah merupakan cekungan Wonosari (Wonosari Basin) yang telah mengalami proses tektonik sehingga yang tampak dataran tinggi Wonosari. Kalau kita membayangkan Gunung Kidul dari jarak kota Yogyakarta, mungkin yang ada adalah gambaran :


- panasnya, keringnya udara, kalau musim kemarau panjang-Saking panasnya kadang-kadang tanah pun menjadi tampak kemerah-merahan, dari jauh tampak redcenter.

- Jalannya menakutkan, membuat hati berdebar-debar, berliku-liku, zig-zag, banyak kendaraan besar lalu lalang, atau sebaliknya di pelosoknya nyaris tidak ditemukan angkutan yang memadai, sehingga penduduknya untuk pergi ke pasar harus jalan kaki, atau naik ojek. Sebelum colt masuk kampung, hampir semua orang jalan kaki kalau hendak pergi ke kota. Dulu ada jalan yang di bawahnya curam nyaris seperti hidung seorang punakawan Pendawa Lima, maka dinamakan Irung petruk. Sebelum dibangun Pemerintah daerah, semua orang yang lewat jalan tersebut harus mengucap, "nDerek langkung, Mbah, atau Bismillah.." mulutnya komat-kamit membaca segala doa, sambil tangannya mengelus-elus dada.

- Gersang, tandus, jarang kena hujan, sulit mandi

- Gelap, tidak ada lampu penerangan, sepi, tidak ada angkutan satupun

Tapi, itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu. Gunung Kidul dulu dengan kini berubah. Pembangunan di daerah ini sangat berhasil. Ketika saya masih kanak-kanak kerapkali pergi ke sana. Jalannya masih belum rata. Alamnya masih agak liar. Kalau pergi ke sana selalu berombongan.

Ada cerita juga, konon pada zaman pendudukan Jepang, kalau mendengar suatu daerah memiliki kekayaan, pasti akan segera diduduki untuk diambil kekayaannya. Oleh karenanya Pemerintah kita dulu mengambil kebijaksanaan untuk meminimkan data-data mengenai Gunung Kidul, padahal kalau kita mau membuka mata, membuka hati, membuka telinga, pasti ada yang istimewa di Gunung Kidul. Banyak putra daerah yang sukses di perantauan. Walau banyak juga inem lahir dari sana. Kenapa banyak yang memilih Inem dari sana, katanya karena rajin-rajin.

Gunung Kidul dapat dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Potensi alamnya yang bergunung-gunung, ada juga bukit hijaunya, hutan jati, hutan Wanagama, terasering, rumah-rumah batu alami, pagar-pagar batu made in sendiri. Lika-liku jalanan aspal, dengan penerangan yang memadai, hutan-hutan di sekelilingnya, tanah-tanah merah kalau dikombinasikan akan menjadi sesuatu yang indah. Belum juga pantai Rengekan...(renehan), Baron......Kalau Pantai-pantainya dikelola oleh Pemda Provinsi DIY maupun Pemkab Gunung Kidul dengan profesional tentu akan menemukan pantai surga di Provinsi ini.



Tanah kosongnya yang masih luas akan membuka kawasan cagar ternak di DIY. Produksi ternak di Gunung Kidul termasuk besar. Kenapa justru ternak yang besar, karena di daerah kering sulit sekali dikembangkan tanaman pangan. Di tengah isu makanan-makanan binatang hasil kloning, kita di DIY memiliki wilayah cagar ternak yang alami. Banyak kandang-kandang ternak di samping rumah penduduk. Bagaimana lagi kalau hasil pangan padi sulit diandalkan, apalagi kalau musim kemarau panjang, lenih baik penduduk beternak yang hasilnya bisa diperhitungkan nantinya kalau ada kebutuhan mendesak, apalagi kalau musim hari raya haji.








Sapi dan Kambing Jawa yang mereka budidayakan mengandung daging yang berkualitas tinggi. Ternak mereka bisa diberi ransum tanaman-tanaman lahan kering di sekitarnya. Kabupaten Gunung Kidul dapat dijadikan daerah ketahanan budaya ternak tradisional.

Industri jarak juga sudah mulai dibudidayakan di sana.

Kebutuhan air yang dulu dirasa sulit, kini sudah tercukupi karena sudah banyak dibangun bak penampungan air. Warna coklat air pun berubah menjadi bening.

Tempat-tempat yang bisa dijadikan tujuan kita apabila mengadakan serangkaian kunjungan di sana :

Pantai Baron

Lebih enak naik kendaraan pribadi daripada naik kendaraan umum. Untuk mencapai Pantai Baron terlebih dahulu masuk ke ibukota Kabupaten Gunung Kidul, kota Wonosari yang terletak lebih dari 40 km dari kota Yogyakarta. Jarak antara Wonosari dengan pantai Baron lebih kurang 20 km, dengan kondisi jalan beraspal, melintasi bukit-bukit kapur Pegunungan Seribu, ladang terasering yang tampak batu-batu cadasnya, jalan berliku-liku, hutan Wanagama. Transportasi umum Yogyakarta - Wonosari berupa bus dan microbus tersedia dalam jalan cukup dengan tarif sekitar Rp. 5.000 untuk setiap orang.

Pantai Baron merupakan teluk diapit dinding bukit hijau dengan pohon-pohon kelapa. Teluk ini juga merupakan muara dari aliran sungai di bawah batu karang, yang airnya cukup jernih.

Tempat inilah tempat berkembangnya budaya pesisir. Baron merupakan tempat pangkalan perahu-perahu nelayan.

Di sana sering diadakan kegiatan berkemah dan lintas alam yang melintasi bukit-bukit yang mengeliligi teluk pantainya.

Pantai Kukup

Setelah ke Pantai Baron, kita bisa langsung ke Pantai Kukup, 1 km dari Pantai Baron. Goaa-goa Karang yang teduh, ikan hias laut.

Pantai Krakal

Pantai Krakal terletak 6 km dari Pantai Kukup, dan 65 km dari pusat kota Yogyakarta. Pantai Krakal terkenal landai dan berpasir putih. Angin laut sangat sejuk dan ombaknya cukup besar. Pantai ini akan dibangun menjadi kawasan pantai dan perkampugan wisatawan. Batu-batuan karang yang ada di sana merupakan bekas binatang karang yang hidup di air laut saat itu.

Pantai Wedi Ombo dan Rongkop

Pantai-pantai ini terletak di ujung timur di DIY. Dari kota Yogyakarta sekitar 80 km. Pada bukit-bukit karang banyak didiami burung camar laut.

Friday, 15 February 2008

Ketika Sejarah menjadi Produk Hiburan Umum (9)

*******Belajar pada Kesuksesan Serial Korea Selatan "Dae Jang Geum"********
Sinopsis Serial Dae Jang Geum
Berhasil dari investigasi mereka, Lady Han dan Jag Geum mempersembahkan makanan dengan pasta kacang yang rasanya sudah kembali seperti sedia kala untuk Raja Jung Jong. Raja memujinya, "Bagaimana kalian bisa mengubah rasa pasta kacang kedelai ini menjadi seperti semula, padahal katanya rasanya hambar...."
"Yang mulia, hidangan dengan pasta ini sengaja saya tambahkan saripati bunga agar memberikan aroma yang enak pada makanan ini, semoga yang mulia dapat menikmatinya.."
Jang Geum telah menambahkan saripati pada pasta tersebut. Oleh karenanya Raja mengumumkan betapa pentingnya menggunakan saripati bunga.
Nyonya Choi dan Geum Young menjadi gusar dengan kesuksesan Jang Geum.
********
Jang-Geum berpamitan kepada Nyonya Han untuk pergi ke Ladang Obat-obatan untuk mendapat perawatan dari Dokter Istana di sana. Jang-Geum pergi ke sana menemui Doctor Jung Woon Baek yang sedang mengadakan penyelidikan perawatan dengan menggunakan sengatan lebah. Jang Geum memohon kepadanya untuk membantu mengobati kelumpuhan lidahnya, karena sebagai dayang istana lidah pengecap sangat penting. Min Jung-Ho dan pasukannya juga datang untuk menyembuhkan orang-orangnya yang kulitnya memar dan lengannya yang lemah.
"Saya baru mencoba metode perawatan yang baru, jadi maaf Tuan Min Jung Ho, saya belum bisa mempraktekkannya" kata dokter
Min Jung Ho maklum dengan hal tersebut.
Jang Geum meminta dokter untuk menjadi kelinci percobaannya, tetapi dokter tidak mau, hanya saja dia berjanji akan membantu Jang Geum.
"Kumohon Tuan, biarpun hanya kelinci percobaan, tidak apa-apa, Tuan, asal lidah saya kembali seperti sedia kala......"
"Tidak, Nona Seo Jang Geum, ini soal mati hidup, nggak bisa main-main......."
Jang-Geum dan Min Jung-Ho pulang kembali bersama-sama. Min bercerita kepada Jang Geum tentang seseorang yang kehilangan pendengarannya, tetapi menjadi dokter, untuk menghibur Jang Geum.
Dia bilang,"Jika aku bercerita tentang sesuatu hal yang baik mungkin nanti ini akan menjadi menjijikan. Kalau saya bilang menyesal, mungkin nanti tidak ada harapan lagi." Jang Geum siap mendengarkan kata-kata Min Jung Ho.
************
Di hari lain Min Jung Ho memberikan banyak buku kepada Jang-Geum. Geum-Young melihatnya ketika dia berjalan di depan perpustakaan. Jang Geum membuka buku-buku tersebut dan di dalamnya ada pantun peribahasanya, "Sebuah pohon kecil belum juga tumbuh, hanya sebatang bambu berdiri, kadang-kadang bayangannya muncul, matahari terbenam menambah indahnya pemandangan" (maksudnya untuk menumbuhkan sebuah pohon perlu kerja keras..........kesunyian dari sebuah pohon dewasa, ini hanya sementara karena matahari akan memberikan kehangatan.").
Yong-Non memata-matai Jang-Geum and memperlihatkan kepada Geum-Young buku-buku pengobatan yang dibaca Jang-Geum.
********
Nyonya (Lady) Han meminta Jang-Geum untuk membuat kue beras kering. Yong Non bilang kepada Geum-Young kalau Nyonya Han menyuruhnya membuat makanan tanpa harus mencicipinya.
*********
Perawat istana menyatakan Nyonya Jung telah sehat kembali. Nyonya Choi dan Nyonya Choi meminta Nyonya Jung Sang Gong untuk mengawasi perayaan memasak besar-besaran besok. Nyonya Jung menyuruhya untuk bersiap-siap, ini akan menjadi tantangan kedua bagi mereka.
Ketika perawat istana menanyakan apakah gangguan lidah Jang-geum sudah sembuh, Jang Geum hanya bilang iya, karena dia tahu Nyonya Choi menguping dan Jang Geum segera meninggalkannya.
Nyonya Choi bertanya kepada perawat tersebut ada apa dengan Jang Geum. Dari situlah ia tahu kalau lidah Jang Geum agak terganggu.
********
Geum-Young ikut-ikutan mempraktekkan metode memasak Lady Han tanpa harus mencicipinya. Nyonya Choi mendekat dan bertanya sedang membuat apa. Geum Young hanya mengatakan kalau dia juga mendapatkan buku-buku kesehatan seperti yang dibaca Jang Geum. Nyonya Choi secara diam-diam menanyai Yong-Ro, sejak kapan Jang Geum membaca buku-buku kesehatan. Nyonya Choi menjadi ingat dengan apa yang dibicarakan perawat istana kemarin.
Nyonya Choi juga bertanya kepada Yun Saeng, sejak kapan Jang Geum membaca buku-buku kesehatan. Yun Saeng menjawab sejak insiden kelumpuhan Pangeran.
********
Persiapan pesta memasak segera dimulai. Nyonya Han dan Nyonya Choi menjelaskan contoh-contoh bahan makanan yang harus dipersiapkan oleh para dayang istana. Para dayang secara bergiliran mempersembahkan makanannya kepada keduanya. Jang Geum meghidangkan nasi yang dikukus di atas batang bambu (nasi bambu).
Nyonya Choi mulai membuat ulah agar para dayang menunjukkan kemampuan mencicipi makanan. Mereka harus saling mencicipi makanan satu sama lain. Satu persatu dayang diharuskan menunjukkan kemampuan ketajaman lidah mereka, dari Yun Noh, kemudian Yun Saen, kemudian Geum Young, lalu Jang Geum. Mereka semua disuruh melukiskan rasanya. Berdasar pengetahuannya tentang semua bahan-bahan makanan Jang Geum menjelaskan rasa makanan. Nyonya Choi kemudian menyurh semua meninggalkannya, kemudian memanggil Chan-Ee.
Nyonya Jung segera mengumumkan hasil persiapan kontes memasak, antara Geum Young dan Jang Geum, mana yang terbaik. Nyonya Choi menyatakan kalau Jang Geum terbaik, tetapi sayang tidak bisa mencicipi dengan baik, karena walaupun makanan Yong Non asin, tetapi Jang Geum tidak bisa merasakannya.
Nyonya Jung memanggil Jang Geum ke depan. Jang Geum ditunjukkan tiga mangkuk air dengan rasa yang berbeda. Jang Geum mencicipi larutan dalam mangkuk pertama, itu air gula, kalau yang kedua adalah air garam. Nyonya Jung menyatakan ini hanya satu trick mengetes ketajaman lidah.
"Nyonya Jung, walau Jang Geum tidak bisa merasakan makanan, tetapi dia punya keahlian dan kearifan dalam memasak...dia bisa memasak apapun" bela Nyonya Han.
"Oh, nggak bisa, seorang dayang dapur istana harus pandai merasakan semua bahan makanan, kalau enggak dia tidak bisa bertahan di dapur istana. Saya pingin bukti lagi, bila dia mampu maka akan dibiarkan, tetapi bila Jang Geum tidak bisa, maka Nyonya Han patut dipersalahkan..." gertak Nyonya Choi.
Nyonya Jung meminta Nyonya Han untuk tidak bilang kepada Jang Geum dulu. Jang Geum berkata kepada Nyonya Han kalau dia akan mencoba test yang diajukan Nyonya Choi.
Nyonya Choi berpesan kepada Geum Young agar jangan hanya mencontoh Jang Geum dan harus bersandar kepada kemampuan sendiri.
********
Jang-Geum datang lagi ke kebun obat-obatan untuk memohon kepada Doctor Jung Woon Baek untuk menguji metode pengobatan dengan sengatan lebah padanya. Dokter tidak menyetujuinya, karena khawatir justru membuat kesalahan. Jang Geum bercerita kalau ini sangat mendesak dan ingin apapun dilakukannya demi kesehatannya. Dokter itu menggunakan metode akupunktur pada lengan Jang Geum untuk menenangkannya, kemudian menggunakan sengatan lebah untuk mengorek-ngorek lidahnya. Berhasil atau tidak pengobatan ini tidak bisa sekarang disaksikan. Dokter Jung juga memberikn obat bila badannya demam atau sakit. Jang Geum hanya bertanya apa perawatan tadi memberi efek samping, kalaulah ia pasti obat tersebut bisa mengatasinya.
Sementara itu Gang Duk Gu pergi membawa pesanan untuk Raja. Bersamanya turut isterinya yang selalu cerewet menanyakan bayaranya.
********
Jang-Geum mulai merasa badannya membengkak, tetapi dia tidak mau mencoba obat penawarnya, takut perawatannya justru tidak berhasil. Jang Geum pergi ke dapur untuk mencoba lidahnya. Nyonya Choi berkata kalau tesnya sekarang.
Seorang Dayang membawa bahan-bahan yang dikirim Gang Deok Gu. Jang Geum dengan sukarela memasaknya. Gang Deok Gu mengolah madu, kemudian digunakan untuk membuat bubur kepada Raja. Jang Geum mendapat hati babi untuk mengembalikan lidahnya. Jang Geum mencium baunya, dan aromanya kuat.
Jang Geum bertanya kepada Gang Deok Gu seperti apa rasanya daging ikan paus, karena dia ingin memasaknya dalam test nanti. Gang Deok Gu menjawab kalau rasanya seperti ikan laut, tetapi bukan ikan laut, kalau dikatakan mirip daging sapi, juga bukan, tetapi ........ternyata kepala pengawal menghentikannya, dan mengingatkan agar kembali pada pekerjaan, walau akhirnya dia mengatakan kalau rasanya seperti daging sapi. Jang Geum berlarian ke halaman Istana untuk mengambil catatan resep masakan peninggalan Ibunya.
Saudara Nyonya Choi, Choi Pan Sul mengirimkan resep memasak daging paus.
Nyonya Jung berkata agar Nyonya Choi, Nyonya Han, Geum Young dan Jang Geum memasak berdampingan, baru datang daging pausnya. Dalam test memasak hari itu masing-masing kelompok menyiapkan masakan yang berbeda dengan bahan pokok daging.
Hasil masakan mereka dicicipi oleh Nyonya Jung. Nyonya Jung menyetujui masakan Nyonya Choi dan Geum Young dipersembahkan ke Raja Jung Jong. Demikian pula dengan makanan Nyonya Han dan Jang Geum. Nyonya Choi memprotesnya.
Referensi :

Thursday, 14 February 2008

Wanita Jiwa Satriya dalam Cerita Wayang

Banyak tokoh wanita yang harum namanya di dunia, bahkan memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Kita lihat saja Siti Khatijah, Siti Aisyah, Maryam, Bilqis, dalam perjalanan hidup masa lalu, Cut Nya' Dien, Christina Martha Tiahahu, Ra Kartini, Ratu Elizabeth I, Ratu Rania, Lady Diana, Hillary Clinton, Q. Aquino. Mereka telah mewakili zamannya, dan kaumnya untuk mendharma baktikan hidupnya demi kesejahteraan dunia.
Dalam dunia pewayangan, yang berinduk dari Ramayana dan Mahabharata, dikenal banyak wanita yang memang berjiwa satriya. Satriya di sini bukan berarti pandai berperang, tetapi memiliki ketahanan mental spiritual yang melebihi satriya. Kita sebut saja, ada Dewi Shinta (isteri Rama), Dewi Wara Sembadra (isteri Arjuna), Dewi Drupadi (isteri Pendhawa), Srikandhi (isteri Arjuna).
Dewi Shinta
Dewi Shinta merupakan tititsan bidadari yang bernama Dewi Sri. Tokoh ini menjadi fokus utama dalam kisah Ramayana. Dewi Shinta merupakan Putra Prabu Riskala di Negara Darawati.
Raja Darawati semula hatinya sangat bersedih karena belum juga memiliki putra, ia kemudian berendam di dalam air. Ketika berendam itu, dia melihat dari kejauhan tampaklah ada sinar kemerah-merahan dari sebuah gendaga yang terapung. Prabu Riskala terkejut setelah mengetahui kalau di dalam gendaga itu ada bayi yang sangat jantik jelita, dinamailah dirinya Dewi Shinta. Menurut versi lain Shinta merupakan putra Prabu Janaka di Negara Mantilireja. Shinta merupakan isteri Ramabadra/Ramawijaya dari Negara Ayodya, dari perkawinan itu menghasilkan dua putra yang bernama Lawa (Rawabatlawa) dan Kusa (Ramakusa).
Dewi Shinta dilukiskan sebagai sosok wanita yang bertabita halus, dengan posisi muka luruh, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) dan bermulut salitan. Ada penggambaran sinom yang terurai di dahinya dengan mahkota gundulan berhias jamang sadasaler, sumping mangara dengan cunduk bintulu (gelapan alit). Rambut ngore gendong, badan putren dengan sampir bermotif kembangan. Ia mengenakan kelatbahu naga pangangrang, gelang calumpringan, binggel sebagai gelang kaki. Putren ini ditampilkan dengan muka dan badan gemblaeng. Wanda : Rangkung, sedet dan Padasih.
Seperti janji Batara Wisnu dengan Dewi Sri, jika telah menitis ke bumi akan selalu berdampingan. Oleh karena itu berdasarkan bisikan dewa bahwa putranya adalah titisan Dewi Sri, maka Prabu Janaka mengadakan sayembara mementang busur. Sayembara itu dimenangkan Ramawijaya/Ramabadra. Kemudian Dewi Shinta diboyong ke Ayodya.
Di Ayodya terjadi intrik-intrik yang dilakukan selir, Dewi Kekayi. Dia ingin anaknya menjadi Raja, sehingga dengan daya upaya mengusir Rama.
Ketika Ramawijaya, Dewi Sinta, dan Raden Lesmana berada di atas Dandaka, mereka telah dimata-matai oleh Sarpakenaka dan Dasamuka. Keduanya mempunyai akal bulus untuk memisahkan Shinta dari Lesmana dan Rama. Dasamuka memerintahkan Marica untuk menjadi kijangemas. Girang bukan kepalang melihat kijangmas itu menarik Shinta untuk memegangnya, sehingga Ramawijaya mengejarnya. Oleh karena Shinta khawatir dengan keadaan Ramawijaya, maka dia mengutus Lesmana untuk mencarinya.
Pada saat Rama dan Lesmana pergi, Dasamuka menyamar jadi pengemis tua, hanya dengan cara inilah dia bisa menembus lingkaran sakti Lesmana. Shinta berhasil diculik Dasamuka dibawa ke Alengka.
Di Alengka Dasamuka berdaya upaya agar Dewi Shinta bersedia melayani nafsunya, tetapi berulangkali Dewi Shinta berhasil menolaknya. Sampai pada akhirnya Anoman datang, yang memberi pertolongan.
Setelah perang antara Ramawijaya cs melawan Dasamuka cs, Ramawijaya meragukan kesucian Dewi Shinta. Oleh karenanya Dewi Shinta masuk ke lautan api. Atas karunia Batara Endra, maka Dewi Shinta tidak hangus dan dinyatakan suci.
Dewi Srikandhi
Dewi Wara Srikandi adalah putra Prabu Drupada raja Pancalareja dengan permaisurinya Dewi Gandawati. Ia merupakan istri Arjuna yang mendapat tugas sebagai penjaga keselamatan dan ketentraman kasatriyan Madukara. Dalam perkawinan itu dia tidak mendapatkan putra. Dewi Wara Srikandi memiliki saudara kandung bernama Dewi Drupadi yang menjadi isteri Prabu Puntadewa. Tokoh Putren ini menyukai keprajuritan terutama dalam memainkan senjata panah. Oleh karenanya dia suka diidolakan.
Dewi Wara Srikandi dalam penampakannya wayang kulit dilukiskan sebagai tokoh dengan penampilan branyak (lanyap) dengan posisi muka langak, bermata liyepan, berhidung lancip (walimiring) dan bermulut salitan. Ia bermahkota gundulan dengan sinom yang menghiasi dahinya mengenakan jamang sadasaler dengan sumping prabangyungyung. sarira weweg (padat berisi) rambut ngore gendrong, mengenakan busana putren dengan smekan gadung mlati, pinjong dengan dodot bermotif semen jrengut seling gurda dan samparan kain panjang bermotif kawung. Tokoh ini banyak memakai atribut seperti kelatbahu dan gelang, tetapi ditampilkan polos. Dewi Wara Srikandi bermuka dan berbadan gembleng, wanda golek, nenes, patrem. Ada kalanya tampil dengan busana prajurit saat menjadi Senapati Agung dalam Perang Baratayudha.
Keinginan kuatnya untuk menguasai keahlian keprajuritan telah membuatnya belajar tidak mengenal waktu. Sebagai akibatnya itu hubungan Raden Arjuna dan Dewi Wara Sembadra menjadi renggang. Arjuna jatuh cinta padanya. Sebelum dinikahi Arjuna, Srikandi minta syarat agar dicarikan perempuan yang lebih pandai darinya yang bisa mengunggulinya. Dengan saksi Prabu Kresna Dewi Larasati berhasil mengalahkannya. Oleh karenanya Dewi Srikandhi dijadikan isteri kedua. (Ini mungkin sisi kejelekan dari Srikandi).
Dalam Perang Baratayudha, dia diangkat menjadi Senopati Agung yang melawan Resi Bisma.
Dewi Wara Sembadra
Dewi Wara Sembadra adalah putri Prabu Basudewa Raja Mandura dengan Permaisuri Dewi Badraini. Ia memiliki dua saudara laki-laki, yakni Raden Kakrasana atau Prabu Baladewa, dan Raden Narayana atau Prabu Kresna di Dwarawati. Ia menikah dengan Arjuna dan berputra Raden Abimanyu. Dia merupakan titisan Dewi Sri. Wataknya setia, suka menolong, hambeg para marta dan sebagainya. Lahirnya bersamaan dengan Arjuna, kemudian dipertunangkan. Dewi Wara Sembadra memiliki nama lain Dewi Mrenges, Rara Ireng, dan Bratajaya. Ketika ditinggalkan Dewi Sri, dia menjadi sakit-sakitan, tetapi begitu Dewi Sri kembali padanya, Wara Sembadra sembuh. Raden Arjuna sendiri memiliki beberapa isteri, antara lain Dewi Wara Sembadra, Dewi Larasati, Dewi Ulupi, Dewi Srikandi, Dewi Dresanala, Dewi Jiwambang, Dewi Wilutama, Endang Manuhara.
Dewi Drupadi
Dewi Drupadi putri Prabu Drupada Raja Cepala, Ia diperisteri Prabu Puntadewa, Raja Astina, kemudian berputra Raden Pancawala.
Dewi Drupadi dilukiskan sebaya wayang kulit dengan karakter luruh, posisi muka tumungkul, dengan mata liyepan, hidung lancip, mulut salitan.
Ketika ada di dalam perjamuan makan antara Pandhawa dan Kurawa, hampir saja dia hendak dipermalukan oleh keluarga Kurawa. Hampir saja busananya ditarik sehingga kelihatan tubuhnya, tetapi dengan bantuan Prabu Kresna, busananya menjadi kian tebal, karena ternyata kain yang membungkus badan Dewi Drupadi menjadi panjang, kian panjang, seolah-olah tidak akan ada ujung pangkalnya. Padahal Dewi Drupadi sudah khawatir dengan posisinya saat itu. Akan tetapi rambutnya berhasil diuraikan, sehingga dia bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum bersampokan darah Dursasana.
Sumber : Sunarto dan Sagio, Wayang Kulit Gaya Yogyakarta, Pemprov DIY, 2004

Ketika Sejarah Menjadi Produk Hiburaan Umum (8)

******Study dari Kesuksesan Drama Serial Dae Jang Geum atau Jewel in The Palace dari Korea Selatan*******
Dayang Dapur Istana senior telah menentukan asistennya dalam kontes memasak nanti. Lady Choi memilih Geum Young. Lady Han memilih Jang Geum meskipun tahu kalau lidahnya Jang Geum tidak bisa berfungsi lagi. Yeon Saeng mendukung Jang Geum. Jang Geum mohon kepada Lady Han agar memilih yang lain, karena tidak mau mengecewakannya. "Nyonya, saya mohon, carilah asisten yang lain, karena ini menyangkut hidup matinya Nyonya, bahkan kerajaan ini, lidah saya masih sulit dipakai...". Lady Han menandaskan,".....Sadarlah kamu bahwa kamu memiliki hal yang lain, kekhususan dari yang lain, kalau hanya memasak mungkin semua dayang dapur istana bisa melakukan dengan baik, tetapi kamu memiliki talenta soal hidangan dan pengetahuan tentang makanan yang tidak dimiliki oleh yang lain, bahkan Lady Han, Lady Choi atau Geum Young sekalipun....". Lady Han meminta agar besok mulai berlatih. Jang-Geum jadi ingat masa kecilnya ketika Ibunya menjelaskan tentang bagaimana cara mempersiapkan makanan dan perpaduan makanan.
*********
Latihan dimulai. Lady Han menyuruh Jang Geum mengukus udang dan bahan-bahan lain. "Tapi, Nyonya....." Jang Geum selalu ragu untuk melakukan perintah Lady Han. Dia merasa belum pernah melakukannya dan tidak bisa mencicipinya. Jang Geum membuat hidangan istana, sedangkan Lady Han melihatnya. "Aku tidak menyuruh untuk mencicipinya, tapi lakukanlah dengan keyakinan akan pengetahuannya...". Lady Han menegaskan"Pokoknya kamu harus melakukan apa yang kusuruh, masalah rasa itu nanti...."
********
Di tempat lain Lady Choi melatih Geum Young. Dia ingin mewariskan resep turun temurun keluarga Choi dengan diam-diam."
Lady Choi pergi ke kamar Yong Non (Ling Lo) and Chang-Ee (Yeol-I) yang sedang bermain mahjong. Choi bicara empat mata dengan Yong-Non untuk memata-matai apa yang dilakukan Jang Geum dan Yon Seang setiap saat, apa saja. Tentu saja dengan hadiah uang.
********
Menjelang kontes pemilihan Dayang Kepala yang baru, di Istana ada krisis. Semua tempayan yang untuk menyimpan pasta kacang menjadi hambar, meskipun menggunakan garam dan air yang sama. Ini masalah serius, karena menjadi pertanda buruk bagi kerajaan. Lady Jung memerintahkan kepada Lady Choi dan Lady Han untuk menginvestigasi penyebab hilangnya rasa pasta kacang Istana. Ini sebagai ujian pertama menjadi Dayang Kepala.
Lady Choi menyuruh Geum Young untuk meminta bantuan saudara laki-lakinya. Darinya ia tahu kalau garam telah ditukar oleh Perdana Menteri Oh. Choi Pan Sul khawatir kalau kecurangan mereka dalam perdagangan garam Kerajaan tersebut terkuak karena Lady Han dan Jang Geum sedang melakukan investigasi, sehingga dia menyuruh orang-orangnya agar segera mengganti garam-garam yang biasanya.
Lady Han mengajak Jang Geum keliling kota menjajagi bahan-bahan asli untuk pembuatan pasta kacang di Istana.
********
Di jalan mereka bertemu dengan Kang Deok Gu and Na Ju Daek yang akan ke istana membawa anggur buat Jang Geum. Jang Geum bercerita tentang perubahan rasa pasta kacang di Istana.
*******
Di tempat lain, Geum-Young berkata kepada Lady Choi kalau dia tidak mengerti kenapa rasa pasta kacang bisa berubah tidak seperti biasanya.
*******
Di dapur Istana Chan-Ee tergopoh-gopoh bertanya kepada Lady Jung kenapa rasa garamnya berbeda-beda, ketika dia menyimpan garam dalam keadaan basah dan kering. Ini memberi petunjuk bagi Lady Jung.
*******
Ketika malam hari Min Jung-Ho dan orang-orangnya menjaga istana, mereka melihat bayangan yang sedang berlari. Ternyata ayah angkat Jang Geum, Gang Deok Gu menyelinap ke dalam Istana di mana tempayan-tempayan pasta kacang disimpan. Dia sedang berdoa di sana. Min memerintahkan penangkapan Gang. Ketika hendak disergao dia meminta waktu untuk menjelaskan semuannya. Gang Deok Gu dibawa kepada Lady Jung, kemudian dia menjelaskan"Nyonya dan Tuan Min, saya ini ayah angkatnya Jang Geum, Saya mendengar kabar kalau pasta istana berubah dari biasanya, makanya saya ingin membantu Jang Geum mengembalikan rasa pasta kacang seperti biasanya..."
Min Jung Ho memaafkan Gang Deok Gu dan menyuruhnya pergi.
"Tuan, Jang Geum itu pintar bukan ?, itu menurun dari Bapaknya, kacang jatuh tak jauh dari kulitnya......."
*********
Lady Han and Jang-Geum tiba di desa dimana para penduduknya sedang mengumpulkan tempayan-tempayan pasta kacang/kedelai di bawah sebuah pohon. Mereka perhatikan betapa penduduk desa masih yakin kalau tempat penyimpanan di bawah pohon bia memberi rasa lebih enak pada pasta. Penduduk juga memberi tahu tempat lain yang juga bisa memfermentasikan kacang sangat baik. Keduanya ditunjukkan ke rumah itu, dan memang rasanya lebih enak.
*****
Dayang Sekretaris Kerajaan Lady Jae Jo Sang Gong mengomeli Lady Jung Sang Gong karena insiden pasta kacang ini dan menkhawatirkan makanan esok hari. Lady Choi menyatakan kalau dia punya pasta yang enak yang bisa dipakai besok.
******
Di altar istana, Perdana Menteri Oh menginformasikan kepada Raja tentang kebakaran semak-semak. Menurut Dayang Sekretaris Kerajaan ini mungkin karena rasa dari pasta kacang tahun ini. Raja membantah.
*******
Lady Han and Jang-Geum mengatakan kalau mereka mengetahui kenapa rasa pasta bisa berubah dan Jang Geum siap memberitahukan pada Dewan Dayang Istana.

Tuesday, 12 February 2008

Ketika Sejarah Menjadi Produk Hiburan Umum (7)

****Study dari Drama Serial dari Korea Selatan "Jewel in The Palace" atau "Dae Jang Geum"****
Setelah kasus gagalnya intrik-intrik meracuni dan mengguna-nggunai (santet) terhadap Permaisuri Raja Jung Jong agar tidak memiliki Putra Mahkota kelak, sehingga kerabat Choi cs masih bercokol dalam Dinasti Chosun (Joseon), Perdana Menteri terkesan buru-buru menutup, menetralisir kasus ini, karena bila kasus ini diinvestigasi lebih lanjut, justru akan menjadi bumerang bagi pelakunya.
Dayang Istana Lady Han Sang Gong mendatangi kamar Jang-Geum untuk mengetahui apa yang dicari Jang Geum. Dia menyuruh Yeon-Seung menunjukkan di mana biasanya Jang Geum berlatih memasak. Di istana Raja Jung Jong bertanya kepada Lady Jung kenapa semuanya tampak murung. Lady Jung tidak bisa menjawab.
********
Pertarungan dua kubu dayang istana telah terjadi.
Lady Jung dan Lady Han yang berpihak kepada Dae Jang Geum karena sudah tahu karakternya sejak kecil yang baik. Mereka berdua mencium bau busuk dari akal bulus Lady Choi.
Ketika di kamar Lady Han bertanya tentang kebenaran kejadian malam itu, tetapi Jang Geum hanya meneteskan air mata di depan orang yang sudah seperti Ibunya itu, dulu dia pernah bercerita tentang rahasia yang menyebabkan orangtuanya meninggal, sehingga dia tidak mau berkata apapun. Lady Han Sang Gong juga meneteskan airmatanya. Dia ingat ketika sahabatnya diracun dan dibiarkan mati sebagaio korban, dan dia khawatir kalau Jang Geum akan seperti itu juga.
*******
Lady Jung Sang Goon memutuskan melupakan peristiwa itu untuk menyelamatkan Geum Young dan Dae Jang Geum. Lady Choi memberitahu Geum Young, memang lebih baik dia tidak bicara lagi tentang serbuk maut itu kepada seorangpun.
******
Kasus baru muncul lagi. Hal ini karena ayah angkat Jang Geum, Gang Deok Gu (pembuat anggur dan juga juru masak istana) telah menipu para pengawal istana sehubungan dengan bola-bola obat herbal. Padahal dia ditangkap dengan alasan yang berbeda. Kepala pengawal mengatakan bahwa Pangeran menjadi kian parah karena obat ramuan Gang Deok Gu. Dia dituduh telah membunuh Pangeran sehingga tangan dan kaki seorang anak tidak bisa digerakkan. Dokter istana tidak bisa menemukan sumber racun dan tidak bisa pula mengobatinya. Raja menjadi sangat khawatir, dan Kang Duk Gu terancam hukuman mati.
Jang-Geum bekerja keras siang dan malam untuk menyembuhkan penyakit Pangeran dan mencoba membebaskan ayah angkatnya dari hukuman mati.
Dia mencicipi dan mencoba setiap bahan dan resep makanan untuk mendiagnosis penyakit Pangeran. Usaha kerasnya berhasil, dia yakin kalau penyebab makanan beracun karena kombinasi gingseng dengan bubur kedelai yang kekurangan minyak. Jang-Geum membuktikan diri dengan memakan makanan tersebut. Oleh karenanya Pangeran bisa disembuhkan, sehingga Kang Duk Gu dibebaskan dari hukuman karena terbukti bukan ramuan obat palsunya yang menyebabkan Pangeran menjadi lumpuh. Kang Duk Gu mengucapkan terima kasih atas bantuan Jang Geum.
*******
Pada hari ulang tahun Dayang Sekretaris Kerajaan Dinasti Chosun (Joseon) sudah tradisi diadakan pesta-pesta. Pada saat itu Dayang Kepala Istana merasakan kesehatannya menurun, sehingga dimungkinkan dia akan meninggalkan jabatannya. Dengan tergopoh-gopoh dia menyiapkan makanan untuk dihadiahkan kepada Dayang Sekretaris Kerajaan yang saat itu dijabat Jae Jo Sang Gong. Lady Jung tampak pucat, tetapi ia paksakan juga keadaannya. Kebetulan ada Jang Geum yang membantunya, padahal lidah pengecap Jang Geum agak terganggu. Dia tidak sadar mungkin dia memberikan penyedap atau bahan tertentu yang berlebihan. Dia sempat menyuruh temannya untuk membantu mencicipinya, tetapi temannya sadar kalau Jang Geum memiliki lidah pengecap lebih tajam dari dirinya. Hari itu terasa aneh sekali. Keadaan aneh juga dirasakan oleh Lady Jung. Lady Choi dianggap telah memberikan hadiah yang memuaskan Dayang Sekretaris, dia berhasil mencari muka. Lady Jung yang tampak kepayahan hanya diacuhkan. Lady Jung yakin kalau bukan makanan yang menyebabkan dia diacuhkan oleh banyak dewan dayang saat itu, tetapi lebih pada sikapnya yang memihak kepada Jang Geum dan tidak mau disetir oleh mereka.
Lady Choi menyelidiki keadaan kesehatan Lady Jung kepada Tim Kesehatan Istana, terbukti kaki Lady Jung melemah. Lady Choi segera menghubungi kakak laki-lakinya agar membantu menyingkirkan Lady Jung agar dia dapat menjadi Dayang Kepala.

*******
Jang Geum sendiri sejak mencoba racun saat menyelidiki penyakit Pangeran, menjadi kian aneh dengan indera pengecapnya. Dia mencoba mencari tahu pada perawat tentang indera perasanya yang tidak bisa mencicipi rasa makanan. Perawat hanya memintanya untuk menunggu, mungkin efek racun masih beluym hilang. Jang-Geum mencari tahu obatnya dengan meminjam buku pada Min Jung Ho.
******
Dayang Istana Lady Choi menyogok pelayan Dayang Sekretaris Kerajaan Lady Jae Jo Sang Gong untuk meyakinkan pada majikannya agar segera ada penggantian Kepala Dayang dengan dalih kesehatan, dan mau mempromosikannya menjadi penggantinya.
Akan tetapi, dengan jujur Kepala Dayang Istana, Lady Jung berkata kepada Raja Jung Jong kalau dirinya sudah tua dan sakit-sakitan, perlu kiranya Raja mempersiapkan penggantinya. Lady Jung tidak mau Dapur Istana dikuasai oleh orang seperti Lady Choi, sehingga dia mengusulkan kepada Raja agar diadakan kontes memasak di antara para Dayang Senior. Ini tentu lebih fair nantinya. Dewan Dayang menjadi marah dengan perilaku Lady Jung. Kenapa bukan Lady Choi.
*****
Lady Jung mendorong agar Lady Han bersedia menggantikannya nanti, sehingga dia harus berjuang keras agar menang kontes. Lady Jung percaya kepada kemampuan Lady Han dan hanya dialah yang tidak bisa disetir oleh kekuatan jahat.
Lady Han hanya bersedih, khawatir, ini tugas yang sangat berat, karena harus menghadapi serigala. Jang Geum meyakinkan Lady Han. Ini demi Lady Jung. Akan tetapi Lady Han membutuhkan Jang Geum menjadi asistennya, karena ketajaman lidah dan kemampuannya. Jang Geum nggak percaya, kenapa harus dirinya. Dengan jujur Jang Geum berkata kalau lidah perasanya telah terkena efek racun dari gingseng dan bubur kedelai. "Nyonya, saya tentu saja mendapat kehormatan untuk membantu Nyonya, tapi ini lihatlah lidah saya tidak bisa mencicipi makanan, ini sudah 10 hari lamanya, dikhawatirkan ini akan selamanya......." rajuk Jang Geum sambil meneteskan air matanya. Lady Han memaksa,"Jang Geum tolong, hanya kamu yang aku percaya di sini, aku percaya pada kemampuanmu, kita harus cari cara, cari tabib di mana saja...".
Diam-diam Lady Han dan Jang Geum mencari tahu kepada dokter di luar istana mengenai penyakitnya. Hampir semuanya menyatakan kalau hal tersebut sulit disembuhkan, mungkin butuh waktu 10 hingga 20 tahun.
"Nyonya Han, tolong dengarkan saya, semua tabib sudah kita datangi, tapi semuanya tidak memberi harapan, carilah asisten yang lain, Nyonya...." rajuk Jang Geum lagi.
Lady Han berkata,"Aku butuh kamu...."
Dalam perjalanan pulang, mereka melihat penjual ikan yang buta di pasar. Untuk mengetahui kesegaran ikan dengan merabanya.
******
Siang dan malam Jang Geum mencicipi semua jenis makanan, apa saja untuk mengembalikan ketajaman lidahnya. Jang Geum menangis ke luar. Lady Han mencari ke mana Jang Geum. Lady Han menangis melihatnya, tetapi tetap tegas. Jang Geum dilatih untuk tidak mengandalkan lidahnya lagi, seperti halnya pedagang ikan tidak perlu melihat untuk mengetahui ikan mana yang paling segar. Akan tetapi Jang Geum suka terpancing untuk mencicipi makanannya. Lady Han hanya menyuruh mengikuti petunjuknya, masalah rasa itu dirinya.
****
Dalam suatu pertemuan, Kepala Dayang Lady Jung meminta dua dayang senior berbakat memilih asistennya. Lady Han memilih Dae Jang Geum, Lady Choi memilih Geum Young.
*****
Dan pertarungan dimulai. Lady Choi suka memata-mati latihan mereka berdua.

Ketika Sejarah Menjadi Produk Hiburan Umum (6)

Sinopsis "Jewel in The Palace" atau"Dae Jang Geum"
Para dayang istana mendapat perintah untuk menyertai kegiatan Raja Berburu di gunung untuk menyiapkan hidangan raja. Seorang dayang melakukan kesalahan dalam menyiapkan bahan-bahan masakan yang menimbulkan dirinya keracunan, juga dayang lainnya, termasuk Dayang Kepala Lady Han. Oleh karenanya Lady Han memerintahkan Geum-Young untuk mengambil alih peranannya sebagai komando penyiapan hidangan Raja selepas berburu dan Jang Geum juga harus membantunya.
Ketika ada seorang utusan raja yang menyampaikan agar para dayang istana mengganti menu makanan semula menjadi sup mie dingin, Geum-Young and Jang-Geum menjadi panik, karena tidak banyak waktu untuk mempersiapkan semua makanan, sementara Lady Han harus istirahat karena sakit. Geum Young menyiapkan sup, tetapi ternyata bahan-bahannya kurang sehingga rasanya hambar, sedangkan waktunya sudah mepet. Jang Geum muter-muter sambil berpikir, dia berlari-lari mencari sumber air panas dengan menenteng satu ember besar. Dia mendapatkan air gunung yang segar, tetapi pergelangan kakinya terluka saat kembali. Dengan terpincang-pincang Jang Geum kembali ke markas. Orang-orang di markas sudah panik. Begitu sampai di markas, Geum-Young and Jang-Geum membuat sup mie dingin dengan air panas yang menambah rasa sup menjadi segar. Begitu Raja dan para jenderalnya kembali, makanan dihidangkan.
Semua menikmati makanan, dan semuanya memuji kecekatan dan keahlian Dae Jang Geum dan Keum-Young dalam membuat sup mie dingin. Jang Geum merasa kalau dirinya diperhatikan oleh Min-Jung Ho. Kemudian Jang-Geum berlatih menulis dan Min Jung-Ho terpikir oleh kuas berantai yang ada mata pisaunya peninggalan orangtua Jang-Geum. Kuas itu tertinggal di sampingnya saat dia terluka. Ketika hendak ditunjukkan ke Jang-Geum ternyata ada di baju yang satunya.
Tentu saja Geum Young yang angkuh sebagai keturunan Choi bertanya-tanya, dan gurat cemburu pada cinta lamanya. Keum-Young dan Min Jung-Ho beradu pandang dan sedikit bicara. Keum Young teringat masa-masa dulu ketika bersama Min-Jung Ho. Betapa menyesalnya dia telah mengusir Min Jung Ho dari hadapannya karena dirinya telah menjadi gadis istana, milik Raja dan bukan untuk pria lain. Geum-Young heran darimana Jang-Geum and Jung-Ho saling mengenal satu sama lain. Jang Geum hanya menyatakan kebetulan saja saat Min Jung Ho lewat di Kebun Istana untuk mengantar surat. Min Jung Ho telah menolongnya ketika Jang Geum membutuhkan banyak bacaan.
*******
Hari itu Jang-Geum and Yeon Saeng dikirim ke sub-divisi Dapur Istana untuk sementara karena tenaga mereka dibutuhkan di sana. Itulah yang diharapkan Jang Geum karena Jang Geum penasaran dimanakah Ibunya menyembunyikan buku resepnya. Jang Geum malam-malam pergi ke sana. Yeon-Seng yang sekamar heran ada apa dengan Jang Geum.
Diam-diam Dayang Istana Lady Choi memberikan Geum-Young sebuah sutera jimat untuk disembunyikan di dapur. Di dalamnya ada mantra-mantra jahat untuk Permaisuri Raja Jung Jong yang sedang mengandung agar jenis kelaminnya tidak laki-laki. Dia diharapkan akan merubah jenis kelamin. Geum Young yang idealis tidak mau, tetapi Lady Choi terus memaksanya untuk menyelinap di dapur dengan segera sebelum orang lain tahu.
Di dapur Yeon-Seng melihat Geum-Young pergi ke dapur menyembunyikan kantong dan daun-daun. Kemudian dia melihat Jang Geum juga ke dapur untuk cari sesuatu. Yeon Seng justru memberi tahu tentang apa yang dilakukan Geum-Young. Tiba-tiba buku Ibunya Jang-Geum jatuh dari balok atap dan Jang Geum mengambilnya dan segera lari.
Pagi harinya para dayang istana menemukan sutera jimat yang tidak tersimpan dengan baik, seorang dayang melihat Jang Geum dan Geum Young telah datang malam itu ke tempat tersebut. Jang-Geum ditanyai berkali-kali tetapi tidak mau menjawab, karena dulu gara-gara dirinya bicara rahasia, Bapaknya mati terbunuh, kemudian menyusul Ibunya. Terpaksa Jang Geum tidak bicara sepatah katapun walaupun harus dimasukkan penjara yang gelap.
Kepala Dayang Dapur Istana Lady Jung kemudian menyelidiki apa maksud dari jimat tersebut. Yeon Seng menerangkan bahwa Geum Young telah menyembunyikan sesuatu di dapur dan Jang Geum kelihatan sedang mencari sesuatu. Lady Jung bertanya kepada Geum Young apa yang telah disembunyikannya di dapur dan bertanya kepada Jang Geum tentang apa yang dicarinya. Geum-Young mengelak mengakui dan Jang Geum pun demikian. Jang Geum memilih diam seribu basa. Kemudian keduanya dikurung ke dalam suatu ruangan. Lady Jung menekankan agar mereka segera menjelaskan apa yang terjadi sebelum yang lain tahu, tetapi mereka masih bersikeras. Lady Jung berjanji kalau besok pagi akan dikirim tim investigasi hingga mereka bicara.
Ketika mereka berdua di dalam kurungan, mereka saling melempar kesalahan."Kamulah pelakunya bukan?" tanya Jang Geum. Geum Young bilang,"Tidak tahu, kamulah pelakunya". Selanjutnya Lady Jung siap membawanya untuk dihukum. Keduanya dibawa oleh Lady Jung ke pengadilan, tetapi Atasan dari Dayang Kepala Lady Jung Sang Gong melarangnya dan lebih baik melupakan kejadian ini, karena hanya akan menguak intrik-intrik yang direncanakan kelompok mereka. Lady Jung Sang Goon curiga ada keanehan dengan kasus ini. Demikianlah Perdana Menteri Oh Kyum Ho mencoba untuk menetralisir hal-hal ini.*****
Referensi :
Telenovela Jewel In The Palace, Indosiar
Koleksi foto Jang Geum Google, Yahoo, Msn
dan sebagainya

Monday, 11 February 2008

Belajar Bahasa Jawa (1)

Tidak semua penduduk di Yogyakarta berasal dari Jawa, karena memang Yogyakarta menjadi taman dunia, ada banyak etnis tinggal di Yogyakarta. Di sekolah-sekolah ada pelajaran muatan lokal bahasa Jawa. Pantaslah banyak keluarga yang tidak sanggup mendampingi anak-anaknya belajar bahasa Jawa. Anehnya kesulitan mendampingi putra-putri belajar bahasa Jawa tersebut juga dialami oleh keluarga Jawa. Banyak sekali kosa kata yang tidak dikenal mereka, karena bahasa Jawa telah menjadi bahasa yang ketiga setelah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Anak-anakpun gengsi dan kesulitan berbahasa Jawa, tetapi di sekolah dihadapkan pada hal-hal semacam tersebut. Berlatarbelakang oleh peristiwa tersebut saya tuliskan beberapa materi yang sering menjadi bahan LKS di sekolah-sekolah.
Bahasa Jawa telah menjadi asing bagi tuannya, menjadi bahasa ke sekian setelah Bahasa asing dan bahasa lainnya. Tulisan ini hanya ingin membantu keluarga-keluarga yang mungkin anak-anaknya mempunyai pekerjaan rumah tentang materi ini.
Jenenge Anak Kewan
Anak ayam : kuthuk
Anak anjing (maaf soalnya bahasa Jawanya sering dipakai untuk mengumpat) : kirik
Anak babi : gembluk
Anak bandeng : nener
Anak banyak : blengur
Anak bantheng : wareng
Anak baya : krete
Anak bebek : meri
Anak brati : tongki
Anak bulus : ketul
Anak cacing : lur
Anak cecak : sawiyah
Anak celeng : genjik (jagar)
Anak dara : piyik
Anak emprit : indhil
Anak gajah : bledug
Anak gagak : engkah
Anak gangsir : tlondho
Anak iwak : beyongan (kocolan)
Anak jangkrik : gendholo
Anak jaran : belo
Anak kadhal : tobil
Anak kancil : kenthi
Anak kebo : gudel
Anak kemangga : criwi
Anak kendhela (kinjeng) : senggrut
Anak kethek : kenyung (munyuk)
Anak kidang : kompreng
Anak kodhok : precil (cebong)
Anak kutuk : kotesan
Anak kucing : cemeng
Anak laler : set
Anak lawa : lampret
Anak lele : jebrisan (lendhi)
Anak lemut : uget-ugetAnak lintah : pacet
Anak lutung : kowe
Anak macan : gogor
Anak manuk : piyik
Anak merak : uncung
Anak menthog : endhel (minthi)
Anak menjangan : kompreng
Anak ngangrang : kroto
Anak pitik : kuthuk
Anak sapi : pedhet
Anak singa : dibal
Anak tawon : gana
Anak tikus : cindhil
Anak tuma : kor
Anak ula : kisi
Anak urang : grago
Anak warak : plencing
Anak wedhus : cempe
Anak welut : udhet
Anak yuyu : beyes
Jeneng Kewan Blasteran/ turunan
Turunane pitik biyasa karo kate, jenenge wareng
Turunane pitik biyasa karo pitik alas jenenge bekisar
Turunane pitik biyasa karo beklisar jenege bekikuk
Turunane bebek karo menthog jenege brati
Turunane jaran karo kuldi jenenge bihal
Swarane Kewan
Kirik swarane njegok, mbaung
Babon swarane petok-petok
Banyak swarane pating krengah
Cecak swarane ngecek
Dara swarane mbekur
Gangsir swarane ngenthir
Gajah swarane ngempret
Gemak swarane melung
Jago swarane kluruk
Jalak swarane ngoceh
Jaran swarane mbengingeh
Jangkrik swarane ngerik
Kebo swarane ngowek
Kethek swarane mere
Kidang swarane mbekik
Kodhok swarane ngorek
Kombang swarane mbrengengeng
Kucing swarane ngeong
Kuthilang swarane ngoceh
Kuthuk swarane kiyik-kiyik
Kutut swarane manggung
Macan swarane mbaung, nggero
Menco swarane ngoceh
Menjangan swarane mbekik
Merak swarane nyengungong
Pitik swarane petok-petok
Sapi swarane mbengah
Wedhus swarane ngembek
Ula swarane ngakak/ngisis
* Sumber : Abikusno, Pepak Basa Jawa, Surabaya : Penerbit Express, 1990

Ketika Sejarah menjadi Produk Hiburan Umum (5)

Dae Jang Geum berjuang menembus pagar diskriminasi kelas dan diskriminasi gender. Dia telah dianggap menjadi anak buronan, anak budak, anak orang miskin. Mungkin pada zaman dulu di manapun juga perempuan semacam ini akan mendapat banyak perlawanan. Selepas dari hukumannya dari Kebun Istana karena terbukti atas segala jasa-jasanya membudidayakan tanaman kualitas ekspor, di istana dia dihadapkan pada persiapan ujian memasak yang merupakan ujian untuk ke sekian kalinya untuk memenuhi pesan-pesan Ibunya. Betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya seorang diri sebagai seorang anak perempuan. Dia harus banyak belajar dari seniornya maupun membaca buku-buku.
Saat itu, dayang istana sedang sibuk ujian memasak yang terdiri dua babak. Siapakah yang berhak menyandang sebagai gadis gedongan/gadis istana. Pertama-tama mereka diuji pengetahuan mereka tentang berbagai jenis makanan/bahan makanan dengan tanyajawab. Babak kedua mereka harus mempraktekkan keahlian memasaknya. Bahan-bahan yang disediakan sangat terbatas. Siapa yang menebak duluan pasti berhak memilih bahan yang cocok dan baik kualitasnya lebih duluan, yang terakhir hanya akan menerima sisanya. Selama ujian babak kedua, Tim Istana mengajukan sebuah pertanyaan dalam bentuk pantun teka-teki, "Baju tetapi bukan baju, kepala tetapi bukan kepala, manusia tetapi bukan manusia, apakah itu?" Geum-Young dapat menjawab duluan, sedangkan yang lain belum sempat mendapatkan jawaban yang baik sebelumnya waktunya habis. Jawabannya adalah kue bola karena mirip kepala, memakai baju, tapi bukan seorang manusia). Jang Geum belum siap menjawab, karena waktu ada pelajaran tersebut tidak ada di istana.
Kemudian gadis-gadis itu menyimpan semua bahan yang diambil oleh masing-masing. Beberapa gadis membantu mengawasi. Jang-Geum menjadi anak kesayangan salah satu supervisornya. Tanpa terduga bahan tepung milik Jang-Geum telah dicuri seseorang. Jang-Geum bimbang, dia tidak akan bisa membuat kue bola tanpa ada tepung. Tidak ada satupun yang mengaku ataupun percaya ada yang mencuri tepungnya. Betapa dia kalang kabut. Kemudian dia memergoki seorang gadis sedang membuat sup kue bola di dapur. Keduanya saling adu pendapat, Kebetulan ada pengawal yang mendengar, kemudian datang dan bertanya apa yang terjadi. Salah satu di antaranya adalah Min Jung-Ho, seorang Pengawal Istana. Gadis itu mencuri karena Ibunya akan meninggalkan istana setelah ujian tersebut karena faktor usia dan kesehatan, agar nanti tidak meninggal di istana. Gadis itu tidak akan melihatnya lagi, makan kesukaan Ibunya adalah kue bola, sehingga dia ingin mempersembahkan makan malam yang lezat buat Ibunya. Pengawal istana terkejut karena ada gadis istana memiliki Ibu di dalam istana, padahal ini dilarang oleh istana. Ibunya Geum-Young sendiri juga tidak jelas identitas keluarganya. Mereka semua memutuskan untuk merahasiakan kasus ini, ternyata Ibunya gadis tersebut masih menjadi salah satu Kepala Dayang istana Dinasti Chosun yang memang pelayan istana yang baik. Jang Geum pergi dari dapur itu tanpa tepung. Malam itu dia berpikir bagaimana membuat kulit kue bola tanpa menggunakan tepung. Dia mencoba dengan menggunakan kubis kukus. Salah seorang yuri menyukai kreasinya, tetapi yang lain tidak dan dianggap telah melanggar aturan main.
Ketika Kepala Utama Dayang istana Lady Zheng (Lady Jung) mengumumkan nama-nama yang berhasil dalam ujian. Gadis yang tidak disebut berarti tidak boleh tinggal di istana lagi. Betapa terkejutnya beliau ketika tidak satupun nama Suh Jang-Geum di dalamnya, padahal jelas-jelas makanannya sangat enak dan kreatif. Sebaliknya dari itu. Untungnya Permaisuri menghadiri acara tersebut dan mencicipi makanan tersebut. Ternyata enak dan sungguh-sungguh kreatif. Kebetulan ada Ibu dari gadis pencuri tepungnya yang menyatakan bahwa Jang-Geum kehilangan bahan bakunya karena kesalahannya, sehingga Jang Geum lulus dan berhak tinggal di istana menjadi juru masak istana.
Jang Geum segera menyampaikan kabar gembiranya kepada keluarga yang mengadopsinya, makam Ibunya, di sana dia berkata akan menjadi juru masak yang terbaik, dan akan mencari resep masakan buatan Ibunya yang diselipkan di salah satu dapur istana Dinasti Chosun.
Sementara itu Min Jung-Ho menebak-nebak dan mencari siapa perempuan dengan ayam emas itu yang telah menyelamatkannya dari maut saat itu. Dia juga mengelilingi kota sampai juga ke rumah orangtua angkat Jang-Geum Kang Duk Gu dan isterinya, juragan anggur. Isteri Kang Duk Gu melarang memberitahukan jatidiri Jang-Geum, khawatir akan membahayakan hidup mereka dan khususnya Jang Geum.
Referensi : daejaggeum.blogsome.com
Indosiar
Koleksi foto Google, Yahoo, Msn

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan