Friday, 24 October 2008

Never Ending Kancil (2)

Picture 1. www.aaronshep.com
Selamat dari mulut sang buaya, kancil lari tunggang langgang. Nafasnya terengah-engah. Sang macan mengintipnya dari rerimbunan, menunggu saat yang tepat. Kancil berhenti sejenak di bawah rumpun bambu. Dia menata kembali nafasnya yang berdetak kencang. Tiba-tiba macan muncul di hadapannya,"Sudah kutunggu-tunggu, Cil, sudah beberapa hari aku tidak makan.....Tidak seorangpun kutemui, semuanya pada takut lewat sini................"
"Eiiit, maksudmu aku ke sini mau mengantar nyawa ya, sayang aku ke sini karena diutus Kanjeng Nabi Sulaiman untuk menunggu serulingnya yang disimpan di hutan ini, tidak seorangpun boleh membunyikannya..............."
"Cil, gini kita negoisasi saja, aku pinjam seruling itu, kamu bebas................." rayu Sang Macan.
"Enggak boleh, nanti aku disalahkan lagi, sudahlah........................" kata kancil mau pergi.
"Pilih nih, aku makan atau kau tunjukkan cara membunyikan seruling itu..." sahut macan.
"Ya udah, acaranya, kamu julurkan saja lidah kamu di tengah-tengah rumpun bambu itu, terus nanti pasti ada angin lewat, pasti serulingnya berbunyi indah sekali, kayak suara surgawi-lah....."
"Masak iya sih, Cil kamu membual ya..."
"Masak sih, Kancil mau mbohongin teman............." jawab kancil.
Macan terperdaya kata-kata kancil. Kancil pelan-pelan meninggalkan tempat itu, sedangkan macan segera menjulurkan lidahnya di antara bambu-bambu itu. Angin datang dan bambu-bambu tadi mengeluarkan bunyinya, tetapi malang lidah Macan terjepit.
Kancil melanjutkan journey-nya ke belahan hutan yang lain. Dilihatnya ada binatang kecil yang ada rumahnya, namanya keong.
Picture from www.bergoiata.org
"Halah keong, jalanmu kok lambaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat banget, makanya kalau jalan jangan bawa rumahnya, ke mana -mana kok bawa rumah...............Lihat nih, jalanku cepat sekali, tadi saja aku sudah mengalahkan buaya dan Macan, hmmmmmmmmmm, apalagi kamu, sudah kecil, menjijikkan sekali...................." ejek kancil.
"Cil, aku sudah dari sana-Nya, kayak gini, jangan mengejek dong, sama-sama makhluk Tuhan lho, nanti kalau dihukum, jangan menyesal lho................." jawab keong, "Cil, aku akan membuktikan kalau kami tidak akan kalah lomba lari denganmu, walaupun jalan kami pelan-pelan.
Kancil setengah tidak percaya,"Masak sih, Keong menantang Kancil lomba lari........, tapi oke, besok ya..."
Sore itu juga keong mengumumkan kepada teman-temannya karena tadi telah diejek kancil, dan dengan terpaksa dia menantang kancil lomba lari tanpa sepengetahuan teman-temannya. Teman-temannya justru mendukung dan siap membantu. Sore itu juga mereka berkoordinasi dan distribusi tugas. Mereka menghubungi link-link yang di tempat yang jauh.
Fajar pun datang, keong segera datang menemui kancil. Keduanya lomba lari. Setiap berlari sekian meter kancil memanggil keong dan keong yang berada di baris depannya menjawab.
"Keong..............."
"Kukkk" jawab keong.
Setiap sekian meter lagi, kancil memanggil keong dan keong di baris depannya menjawabnya. Kancil merasa terkalahkan. Dia berusaha sekencang-kencangnya berlari hingga tidak tahu kalau di depannya ada lubang. Segera dia masuk lubang situ. Matanya berkaca-kaca, kenapa dia harus menantang keong bertanding, padahal dia itu kecil, eh kok malah kalah.
Di atas sana tampak ada gajah yang lagi nengok-nengok ke bawah,"Cil, ada apa, kok kamu berada di sumur itu........."
"Loh kamu nggak tahu apa, kalau mau kiamat, lihat itu langit yang kemerahan, aku takut, makanya aku bersembunyi di sini........" jawab kancil.
"Cil, mbok aku ikut ke situ............."
"Waduuuuh......."
*Kancil / mousedeer merupakan cerita rakyat yang diklasifikasikan cerita fabel yang sangat populer. Cerita ini saya dedikasikan untuk Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Calon Bapak dan Ibu, Para Remaja, dan Anak-Anak, bahwa di Indonesia, agar menjadi buah cerita, bahwa kita mempunyai Kancil. Tidak hanya Doraemon dari Jepang, juga Naruto.

Monday, 20 October 2008

Never Ending Kancil (1)

Selain Bapakku, yang gemar bercerita adalah Nenekku (dia itu menganut dinamisme dan animisme, dan kejawen, hayo). Bapakku dan Nenekku sama-sama senang mendongeng. Mereka secara bergantian mendongengiku cerita fabel, kancil, Ande-Ande Lumut, Bawang Merah Bawang Putih, Ayam Jantan dan Kambing, dan masih banyak lagi cerita rakyat yang dapat aku kenal sampai sekarang, walau lupa-lupa ingat. Mereka bumbui cerita-cerita itu tiap malam, hingga aku ketagihan untuk selalu didongengin hampir tiap malam sehabis belajar menjelang bobok. Kalau tidak mendongeng, ya membacakan cerita dari Djaka Lodang untukku dan saudaraku, tapi kayaknya saudaraku kurang perhatian soal cerita-cerita ini. Cerita yang yang tak pernah berakhir adalah kancil, hampir tidak pernah berakhir, aku selalu menunggu endingnya bagaimana, pokoknya lama sekali.

Never Ending Kancil

Kancil binatang yang sangat survival terhadap lingkungannya, kecerdasannya mengakibat dia berhasil menghadapi lawan-lawannya, membantu kawannya, mengerjain lingkungannya dan menang dari seleksi alam.

Diceritakan bahwa suatu hari pagi-pagi yang indah, embun di sana sini, kancil berjalan menyusuri tepi hutan, ternyata hamparan air yang mengalir deras di sebuah sungai di depannya. Keinginannya untuk mengembara di kampung seberang terhalang banjir.

Kancil berpikir bagaimana caranya agar dapat menyeberangi banjir. Baru saja berpikir, tiba-tiba raja sungai, buaya datang,"Heiiiii, Cil, Dari mana Mau kemana?"

"Dari tadi mau ke seberang sana, tapi banjir................" jawabnya.

"Halah, ngapain ke sana, mendingan membuat hatiku bergembira.........................." kata buaya.

"Maksud dikau apa?" tanya kancil mencoba membaca raut muka buaya yang mulai aneh dan air liurnya meleleh.

"Aku sudah berhari-hari hanya makan lumut sungai, dan ikan-ikan kecil, aku mau yang berdaging, nah yang berdaging khan kancil, mau khan menolong temanmu ini, katanya mau masuk surga menemani Kanjeng Nabi Sulaiman.................." bujuk buaya.

"Huzzz, jangan menyangkut-nyangkutkan dengan beliau, pamali, oke, teman, aku mau kamu makan, tapi kamu tau khan, daging kancil itu langka, kenyal, enak, kalau teman-temanmu tidak kebagian, nanti mereka bakal makan kamu lho......................."

Tinggal sekali siulan tak lama kemudian buaya mengajak teman-temannya untuk mendengar omongan kancil.

"Saudara-saudaraku para buaya, salah seorang temanmu akan mengajak kalian berpesta atas dagingku, karena itu aku harus menghitung kalian satu persatu, berbarislah semuanya, cepat, sebelum aku berubah pikiran, karena nanti tidak akan ada lagi binatang berdaging yang mau lewat sini..................." kata kancil.

"Oke!", "oke", jawab mereka sambil bersiap berjajar sampai ke tepi seberang.

Kancil mulai menghitung,"satu...dua.....tiga....lima............................"

"Salah Cil, setahuku dari Guru para buaya sehabis tiga itu ya empat..............." sahut seekor buaya.

"Yupp, oke, kita ulang ya, satu dua tiga,............................................" Kancil menghitung hingga ke seberang, setelah itu dia lari tunggang langgang.

Di dekat rumpun bambu dia beristirahat karena kecapekan. Baru aja menghirup udara segar, tiba-tiba harimau datang. Dapat diibaratkan lepas dari mulut buaya, terjebak di mulut harimau.

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan