Thursday, 22 May 2008

Mengenang 27 Mei 2006 di Yogyakarta

Berdasarkan berbagai sumber sejarah tentang gempa dan bencana, ditemukan bahwa bencana gempa 27 Mei 2006 di DIY dan Jateng bukanlah bencana pertama yang hebat di Yogyakarta, karena puluhan tahun yang lalu, bahkan ratusan tahun yang lalu telah terjadi gempa dan bencana yang dampaknya juga sangat besar. Bencana tersebut ada yang disebabkan oleh gerak lempengan bumi maupun kegiatan vulkanik Gunung Merapi.
Salah satunya yang terjadi pada tahun 1672 yang mana Merapi menghasilkan awan panas dan lahar hujan yang menelan korban 300 korban jiwa.
Kemudian pada tanggal 10 Juni 1867, pukul 04.30 pagi yang menyebabkan kerusakan dan kerugian di Yogyakarta. Banyak bangunan dan rumah-rumah roboh termasuk Tugu. Ada meninggal dalam gempa itu, yaitu 326 orang Jawa, 50 orang Tionghoa, 15 orang Eropa. Yang terluka 376 dari Jawa, 13 orang Tionghoa, dan 10 orang Eropa. Kerugian yang diderita kira-kira f 672.000. Gempa tersebut diakibatkan oleh kegiatan vulkanik Gunung Merapi.
Pada tahun 1930-1931 berupa letusan normal, aliran lava dan lahar hujan dengan korban 1369 meninggal. Kemudian pada tahun 1961, 1969, 1972/1973, 1994.
Siapa yang akan menyangka bahwa pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu itu akan terjadi gempa atau bencana yang pusatnya justru di arah selatan? Hari yang begitu mencekam. Bumi terasa gelap, gelap gulita. Ketika bangunan runtuh menyatu dengan tanah. Banyak jazad terpisah dari nyawanya ketika itu.

Skenario Tuhan yang di luar rencana manusia.


Berbagai media telah memberitakan tentang kemungkinan terparah dari menaiknya aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Setiap saat mereka memantau perkembangan Gunung Merapi. Penduduk sekitar Merapi pun telah menyingkir ke tempat pengungsian karena Pemerintah telah menyediakan barak pengungsian. Sejak empat bulan terakhir itu, kurang lebih 3.178 jiwa penduduk di Sleman Utara berusaha menghindari ancaman erupi Merapi. Hanya ada satu orang yang tidak mau mengungsi dari kediamannya, yakni Eyang Maridjan (anak-anak suka salah menyebutnya Mbah Marjan, karena ada iklan sirup Marjan), juru kunci Gunung Merapi yang konon telah dipercaya Pak Sultan HB IX untuk menjaga kehidupan Gunung Merapi hingga akhir hayatnya. Tidak seorangpun bisa membujuknya untuk meninggalkan kediamannya. Dengan firasat ilmu titennya dan semboyan "rosa-rosa" dia menjalankan prinsip hidupnya sebagai abdi yang akan konsisten sepanjang hidupnya terhadap titah yang diembannya dari Sang Maha Kuasa dan dari Sultannya.

Berhari-hari warga Yogyakarta terutama di kawasan utara hidup dalam was-was. Mereka mungkin telah membayangkan apa yang terjadi seperti dalam film "Volcanoes". Di mana di suatu daerah yang dulunya adem ayem telah digemparkan oleh ulah seorang anak setengah dewa. Penduduk menganggapnya gadis abnormal, titisan syetan. Untung ada tamu yang datang yang menangkap petunjuk-petunjuk mistik tentang akan meletusnya sebuah Gunung di wilayah tersebut. Mereka tidak percaya karena Gunung itu sudah mati, jadi tidak mungkin meletus. Dilihat dari rentetan lukisan anak gadis tersebut yang tersebar di gua, dapat disimpulkan kalau Gunung tersebut akan meletus pada saat purnama tiba. Kemudian anak gadis tersebut justru dipasung. Ketika tubuh gadis itu bisa terbang, mereka justru menuduh kalau dialah gadis titisan syetan, tetapi kenyataannya memang dia diberi kekuatan supranatural. Akhirnya apa yang disaksikan gadis itu terjadi dan gadis itulah yang pertama kali mengetahui ke mana dan di mana mereka akan menyelamatkan diri dari lava yang jatuh menyebar di sekitar Gunung Mati itu.

Warga Yogyakarta bagian utara khawatir tentang kemungkinan-kemungkinan larinya bebatuan dan lava, bahkan media telah menggambarkan jangkauan maksimal larinya lava. Ternyata kejadiannya lain, justru punggung Gunung ada yang ambrol.

Beberapa anak sekolah disibukkan dengan sholat dhuha di lapangan agar terbebas dari kemungkinan-kemungkinan yang tidak baik. Ujian-ujian anak-anak sekolah dan kegiatan lain dirasa kurang tenang. Bahkan beberapa anak yang sekolah di dekat Gunung Merapi (sekitar Pakem) sudah tidak mau berangkat ke sekolah. Mereka takut ketika lagi belajar, Gunung Merapi meletus dan lahar mengalir sampai di depan sekolahnya. Konsentrasi belajar pun terbagi dengan perhatian terhadap Gunung Merapi yang bisa mereka lihat di jendela.

Sebuah sekolah yang baru berdiri di Yogya Utara, yang ingin memadukan pendidikan agama dan pendidikan modern sedang gencar dengan kegiatan pentas untuk mempromosikan sekolahnya ke beberapa desa. Salah satunya acaranya yaitu pentas membacakan arti Al Qur'an dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Melihat apa yang terjadi pada Gunung Merapi, seorang Guru mempunyai ide untuk mendeklamasikan terjemahan Surat Al Zalzalah. Beberapa hari kemudian anak-anak mementaskan pembacaan Surat Al Zalzalah berikut artinya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Yang jelas Surat Al Zalzalah dalam Al Quran kurang lebih bercerita tentang keguncangan, yakni hari ketika bumi diguncangkan dengan dahsyatnya, bumi mengeluarkan segala isinya, manusia hanya bertanya-tanya tentang apa yang tidak diketahuinya. Dan pementasan yang mereka lakukan selalu membaca Al Quran : Surat Al Zalzalah, terjemahan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Itu selalu pakai ayat itu, karena mereka sudah hapal.
Di luar nalar ketika seorang anak yang baru tenang-tenangnya belajar tiba-tiba mendengar suara genderang yang membuatnya takut sekali. Dia takut sekali dengan kejadian itu. Dia was-was, kalau terjadi sesuatu padahal dia belum mohon ampunan pada Tuhan. Dia justru membayangkan suatu kiamat.

Beberapa bulan kemudian, pagi 27 Mei 2006 jam 6 kurang sedikit (05.55 WIB) bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah betul-betul diguncangkan dengan kekuatan 5,9 SR (BMG) dengan pusat gempa pada kedalaman 10 Km. Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap. Semua berteriak dalam berbagai bahasa, "Oh my God........", "Duh Gusti.........", "Allahu Akbar.....Allahu Akbar" lari-lari ke luar rumah, kemudian bersujud, dan ada yang yang masih tertidur, dan ada yang baru memasak, menyiapkan diri hendak ke sekolah dan atau bekerja. Ada yang memutuskan untuk berangkat bekerja atau bersekolah dan ada pula yang tidak ingin pergi ke mana-mana apalagi setelah ada pengumuman melalui radio yang mengatakan bahwa akan ada gempa susulan. Semuanya melihat ke arah utara, jangan-jangan Merapi benar-benar meletus seperti yang diperkirakan beberapa media dan orang.
Waktu itu ada yang masih di dalam rumah, berbaring menunggu hari agak terang. Beberapa Ibu menyiapkan makanan di dapur. Ada juga yang sudah pergi kerja atau belajar. Akibatnya ya ada yang sempat lari menghindari bahaya, ada yang masih tertinggal.

SMS Estafet yang menyesatkan

Beberapa sekolah sedang mengadakan ujian tengah semester maupun ujian-ujian lainnya, jadi hari itu tidak libur. Guru-guru yang bertanggung jawab pasti datang pada hari itu.

Beberapa waktu kemudian seorang wali murid mengatakan kalau akan ada gempa lagi. Kemudian baru saja bicara begitu dia membawa hp yang ada SMS-nya bahwa telah ada beberapa orang tewas dalam kejadian itu dan air laut sudah bergerak ke utara sambil mbrebes mili (airmatanya mengalir). Spontan saja semuanya panik. Hal itu dipicu oleh situasi di sekitar, banyak kendaraan lari ke arah utara. Wali murid bingung dengan anak-anaknya, guru-guru juga bingung menyelamatkan muridnya. Keringat, air mata, bercucuran. Detak jantung berdetak kencang. Mereka sibuk menyelamatkan diri, terpisah dari keluarga. Ada anak yang hilang. Banyak kendaraan ditinggal sebelum dikunci. Mana waktu itu harus antri BBM. Sampai saat itu rakyat Yogya Utara tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan saudara-saudaranya di arah selatan dan timur, sekitar patahan sesar Opak. Mereka masih bingung dengan isu tsunami. Orang yang di Jetis berkata kalau air sudah sampai Malioboro. Orang yang ada di Jatimulya berkata kalau air sudah sampai Wirobrajan. Banyak orang kebingungan mencari jalan keluar. Padahal ada banyak orang di wilayah selatan yang tidak kena dampak gempa (mukjizat) justru lagi bersantai di dalam rumah. Betapa kagetnya ketika melihat rumah penduduk di sekitarnya ambruk rata dengan tanah. Beberapa station HP off hari itu. Dua pihak yang dianggap sangat berjasa adalah stasiun radio dan Kantor Kepolisian. Dari merekalah kita tahu bahwa pada hari itu telah terjadi gempa hebat yang semoga tidak terulang kembali sampai ribuan tahun yang akan datang. Pusat gempanya ada dari arah selatan. Radio Sonora yang berhari-hari menemani warga Yogyakarta, baik yang di dalam tenda maupun sudah di dalam rumah. Selama berbulan-bulan warga Yogyakarta diserang shock berat, takut masuk rumah sendiri, tidak bisa tidur nyenyak, lebih baik tidur di tenda.
Berbulan-bulan memandang atap langit dan tenda, tidur di atas lantai tanah, makan nasi bungkus atau mie. Tenda adalah rumah kolektif mereka

Berita Kehilangan dan Kerusakan

Di Bantul ada sekitar 4.143 jiwa meninggal, ada 779.287 jiwa mengungsi. Rumah yang rusak total sebesar 71,763, rusak berat 71,372, rusak ringan 66,359.

Di Kota Yogyakarta ada 7.186 rumah yang rusak berat, 14.561 rusak sedang, dan 21.230 rusak ringan. Hal tersebut menyebabkan sekiatr 80.368 mengunsi tinggal di tenda.

Di Sleman, sekitar 95.865 keluarga kehilangan tempat tinggal, lebih dari 246 jiwa melayang, dan 3700 orang luka-luka. Kecamatan Berbah tercatat mengalami kerusakan terparah, disusul Prambanan dan Kalasan.

Kantung-kantung budaya (desa budaya dan desa wisata) yang ada di Kab Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulon Progo yang mengalami rusak, bangunan-bangunan pusaka menjadi lebih cepat rusak, karena sebelum gempa ada beberapa yang sudah rusak, misalnya rumah-rumah Joglo di Kotagede, Masjid Gedhe Mataram, Taman Sari, Komplek Candi Prambanan, Kraton, Tugu, Komplek Makam Imogiri, Puro Pakualaman, Komplek Candi Plaosan, Komplek Candi Lumbung, Komplek Candi Sewu, Kawasan Plered, Malioboro, Makam Bayat, Gerja Ganjuran, Masjid Agung Yogyakarta dan lain-lain.

Sukarelawan

Setelah kejadian itu warga masyarakat lainnya yang kebetulan beruntung, berusaha membantu para korban bencana.
Ibu-Ibu di kampung-kampung lain memasak nasi dengan lauk apa adanya untuk dikirimkan ke kampung korban gempa. Banyak orang yang mengumpulkan dana untuk dikirim di sana. Dari luar negeri berbondong-bondong sukarelawan gempa mengunjungi daerah korban gempa. Mereka ada yang membawa donor dari Negara mereka, ada yang merupakan dokter, ahli bangunan, dan lain sebagainya. Di sekitar rumah penduduk para sukarelawan ada yang mendirikan tenda atau rumah non permanet di sana. Ada pula yang tinggal di rumah teman-teman mereka yang ada di Yogyakarta.
Dari kabupaten Provinsi lain juga berdatangan secara kolektif maupun pribadi membawa truk untuk membersihkan reruntuhan gempa.

Sukarelawan yang Punya "Aji Mumpung"

Beberapa truk datang untuk membantu membersihkan reruntuhan gempa. Mereka bergotong royong dengan penduduk. Di sana ditemukan banyak harta korban gempa. Bisikan haluspun tidak terdengar, selain rasa keberuntungan menemuka barang mahal. Siapa yang menemukan dia yang memiliki. Harta benda tersebut ada yang lari ke kantung, namun bagi yang jujur pasti akan diberikan ahli warisnya. Sukarelawan tadi mengamalkan filosofi "Mu Pek" (ketemu dipek).
Bahkan ada yang pura-pura pinjam motor milik korban bencana, untuk membeli bahan material, lalu dibawa lari betulan.

Keajaiban di Tengah Gempa

Gempa telah menyibukkan banyak orang untuk upaya penyelamatan diri. Suara gaduh dan ribut telah mendorong seorang penderita stroke untuk ikut menyelamatkan diri. Dia berusaha berlari sekencang-kencangnya bahkan setelah isu tsunami segera meraih motor. Setelah kejadian itu dia terkejut melihat dirinya sendiri yang telah sembuh.
Dalam peristiwa itu rumah-rumah di satu desa bisa rata dengan tanah, tetapi ketika ada keajaiban, pasti ada satu atau dua rumah yang bisa terselamatkan, tetap bisa berdiri kokoh di antara reruntuhan itu.

Kisah Lucu Setelah Gempa

Banyak orang yang setelah gempa terjadi, tidak berani tidur di kamar tidur, pasti mereka menggelar kasur atau tikar di kamar depan, khawatir akan ada gempa lagi.
Di suatu rumah bersusun, tinggallah sebuah keluarga, waktu itu seorang anak baru berlari-lari di ruang atas, kemudian yang berada di bawah berteriak-teriak.
Gempa telah menjadikan pendengaran orang-orang Yogya menjadi semakin peka, bahkan ada truk lewat di depan rumah juga lari terbirit-birit ke luar.
Ketika satu sama lain bercerita, maka ada yang geli pada dirinya, oh waktu itu ada yang lagi mandi pakai sabun, sehingga waktu lari-lari keluar belum sempat ambil anduk, ada yang hanya pakai sarung, kemudian lari-lari takut gempa dan tsunami, bahkan ada yang sampai ke gunung hanya pakai sarung.
Setelah kejadian gempa itu, Guru di Sekolah yang baru di atas tadi, mengubah tema deklamasi, karena takut gempa lagi, maka pada pentas-pentas promosi sekolah selanjutnya mengambil Surat dalam Al Quran yang isinya memberi harapan. Contohnya terjemahan Surat At-Tien, Demi buah Tien dan Zaitun, Dan demi kota (Mekah) ini yang aman...................atau Surat An-Nashr yang menceritakan kemenangan dan pertolongan Allah, atau Al Kautsar yang menceritakan nikmat yang banyak.

Wednesday, 14 May 2008

100 Tahun Kebangkitan Nasional

Ada beberapa orang yang pesimis dengan arti kebangkitan nasional. Benarkah bangsa Indonesia pernah merasakan kebangkitan ? Akan tetapi terbukti pada 20 Mei 1908 telah dirintis organisasi pergerakan nasional yang lebih modern dan nasionalis dibandingkan corak perlawanan terhadap penjajahan sebelum tahun tersebut, karena strategi perang para tokoh-tokohnya selalu bisa dibabat oleh kolonial, baik dengan cara licik maupun agresif terang-terangan. Sebelum tahun-tahun ini tersebutlah, P. Diponegoro, Sultan Agung, P. Mangkubumi, Pattimura, Sultan Hasanudin, P. Antasari, dan sezamannya yang bersifat kedaerahan, emosional, senjatanya tradisional.
Sebelum tahun 1908, bangsa Indonesia yang masih terpisah oleh rasa kedaerahan, setelah kejayaan beberapa kerajaan, dilanda penyakit yang kian meradang yang diakibatkan oleh penjajahan. Krisis-krisis atau kepincangan-kepincangan terjadi mewarnai kehidupan di Indonesia, yaitu krisis pangan, krisis persatuan, krisis moral, krisis jati diri bangsa dan sebagainya.
Krisis pangan, di mana penduduk bisa menghasilkan hasil bumi, tetapi diangkut ke Negeri Belanda. Bangsa Indonesia kaya, tetapi kekayaan itu lari dimakan orang lain. Rakyat dikenai pajak dengan tanaman dan tenaga.
Rakyat Indonesia secara politis dikebiri. Kekuasaan lokal dibatasi, sehingga banyak bangsawan yang tidak berdaya melihat penderitaan di sekitarnya. Pribumi adalah orang berpangkat sekian setelah Orang Eropa dan Cina.
Pada tahun 1900 seluruh bisnis perdagangan dan per-bank-an terutama di tangan orang-orang Belanda, dengan orang-orang Cina sebagai perantara dan lintah darat. Pribumi dibatasi pada perdagangan eceran kecil. Banyak orang asing yang datang ke Indonesia.
Krisis moral diwarnai dengan banyaknya pejabat kolonial yang korupsi sehingga keuangan Pemerintahan Negeri Jajahan carut marut.
Menjelang tahun 1900 Belanda mulai memandang liberalisme sebagai sistem penjajahan yang kuno. Yang jelas kongsi-kongsi pengusaha perseorangan tidak mau peduli kepada kepentingan pribumi, karena kapitalisme lebih utama. Dalam era Dr. Abraham Kuyper, yang menjadi Perdana Menteri tahun 1901, adalah penulis selebaran yang diterbitkan pada tahun 1880, yang berjudul "Ons Program" dalam mana ia mendesak bahwa pemerintah harus menjalankan politik tanggung jawab kemakmuran orang-orang pribumi. Gagasan ini ia tumbuhkan dalam "Suara dari Mahkota Kerajaan" tahun itu. Dengan demikian telah dilancarkan apa yang dikenal sebagai Politik Etika (Transmigrasi, Edukasi, Irigasi).
Paham sosialis pertama waktu itu yang telah memasuki Parlemen Belanda dan dengan nyaring memproklamirkan doktrin "Pemerintah Hindia untuk Hindia", dengan melihat tujuan terakhir, pemerintahan sendiri. Tetapi kesan yang lebih mengena sasaran adalah yang diluncurkan oleh C.Th.Van Deventer yang bukan saja membuat rancangan program baru bagi partainya, yang memajukan kemakmuran, desentralisasi dan jumlah lebih besar pegawai Indonesia dalam pemerintahan, tetapi tahun 1899 beliau telah menciptakan sensasi baru dalam tata pemerintahan Belanda dengan mengangkat ide dalam sebuah artikelnya yang berjudul "een eereschuld" (sebuah hutang budi). Beliau mendesak Pemerintah Belanda untuk mengembalikan uang yang dipakai Belanda dalam bentuk batig saldo sejak tahun 1867 yang menjadi tanggung jawab parlemen.
Sentimen-sentimen dari para agamawan, jurnalis, kelompok sosialis telah menyebabkan dijalankannya politik yang lebih manusiawi terhadap rakyat negeri jajahan. Tanam Paksa mulai ditinggalkan diganti dengan desentralisasi dan etis untuk kemakmuran pribumi. Kitab Desentralisasi telah menggariskan delegasi dari Den haag ke Batavia, dari Gubernur Jenderal kepada Departemen-Departemen, dan Pejabat-Pejabat Setempat, dari Pejabat-PEjabat Eropa kepada pejabat Indonesia. Juga berarti pendirian organ yang bersifat otonom yang mengelola masalah-masalah sendiri dalam kerjasama dalam pemerintah. Rencana-rencana desentralisasi nternyata berjalan sesuai Kitab yang ada. Pemerintah Belanda di Den Haag belum sepenuhnya melepaskan kekuasaannya di negeri jajahannya. Bagaikan kucing dilepaskan tetapi tetap dirantai, terutama menghadapi Perang Dunia I.
Pada tahun 1905 Deputi Direktur Civil Service, de Graaf mengangkat masalah penggantian orang-orang Indonesia bagi orang-orang Eropa dan penyatuan kedua pelayanan itu, dalam kaitannya dengan usulnya untuk suatu pembaharuan organisasi teritorial Jawa yang akan memberikan kekuasaan yang lebih besar bagi pejabat-pejabat lokal. Sampai tahun 1921 tidak pernah direalisasikan.
Pada tahun 1906 De Graaf dengan Peraturan Desa mempersiapkan suatu Pemerintah Desa, mencakup kepala-kepala kampung dan pejabat desa, dan suatu Permusayawaratan Desa yang berwewenang mengatur lembaga desa dan mempersiapkan syarat-syarat, tindakan-tindakan untuk memperbaiki produksi pertanian dan pemeliharaan ternak, dan untuk mendirikan sekolah-sekolah desa, memberi kredit yang sehat dan memajukan kesehatan umum. Inipun menjadi proyek campur tangan dari Pemerintah Belanda kepada pribumi, sehingga otonomi hanya sebutan saja, kenyataannya tidak ada sama sekali.
Politik etis yang dicanangkan oleh Ratu Juliana untuk dilaksanakan pada rakyat tanah jajahan tidak mengena sasarannya. Diskriminasi dalam edukasi masih saja diperlihatkan. hanya orang-orang tertentu saja yang dapat bersekolah. Itupun untuk membantu kepentingan administrasi Hindia Belanda. Sampai pada saatnya di Hindia Belanda timbul penyakit infeksi, sehingga Pemerintah HB membutuhkan dokter pribumi yang lebih murah. Para pangreh Praja kurang tertarik untuk menyekolahkan anak-anaknya di kedokteran, karena sekolahnya hanya ada di Batavia, dan biaya pemondokan di sana tergolong mahal (ma..hal). Akan tetapi lulusan STOVIA menjadi kaum terpelajar bumiputera tertinggi pada masa itu.
Irigasi juga hanya berlaku bagi tanah-tanah yang berhubungan dengan perkebunan milik penjajah. Transmigrasi juga hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang murah dan rajin pada perkebunan-perkebunan pengusaha Belanda. Akan tetapi para cendekia yang mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan modern dari orang-orang Belanda tidak membuang kesempatan. Kepandaian mereka betul-betul digunakan untuk mendobrak tirani penjajahan Belanda, baik secara kooperatif maupun non kooperatif.
Tanda-tanda awal kebangkitan kesadaran nasional mulai memperlihatkan diri di Jawa pada tahun-tahun itu. Pengaruh-pengaruh luar seperti Pemberontakan Boxer di Cina, pemberontakan orang-orang Philiphina menentang Spanyol, dan kebangkitan Jepang tak dapat diragukan memainkan bagiannya, karena mempunyai pengaruh penting pada pikiran kelompok-kelompok ahli sastra di berbagai negeri di Asia Tenggara. Orang-orang Jepang menuntut persamaan hak dengan orang-orang Eropah di Hindia Belanda.
Di Indonesia yang predominan adalah Jawa, dengan 2/3 jumlah berkumpul dalam 1/5 dari seluruh daerah, merupakan gambaran penting tingkat permulaannya. Faktor kebudayaan di sini aktif makin bertambahnya akan kesadaran nilai budaya Jawa.
RA Kartini, putri Bupati/Regen Jepara telah menjadi juara pendidikan bagi para wanita. Akan tetapi dia tidak dapat berjuang lebih banyak lagi karena diapun korban penjajahan yang tiada berdayadan meninggal dalam usia yang masih sangat belia (lahir di Jepara 21 April 1879 dan meninggal di Rembang 17 Juli 1904). Surat-suratnya yang diterbitkan tahun 1911, yang menuntut pembebasan kekuatan semangat seorang pribumi yang mengarah pada pendirian Yayasan Sekolah Kartini bagi wanita.
Fajar baru telah tiba, telah terbit mentari dari ufuk timur, Pada tanggal 7 Januari 1852 telah lahir seorang pemuda bernama dr Wahidin Sudiro Husodo di Mlati, Sleman, Yogyakarta, yang sangat berbudi luhur, peduli kepada nasib rakyat di sekitarnya. Kemudian menjadi dokter di STOVIA. Dia berjuang hingga berusia 65 tahun (Wafat di Yogyakarta 26 Mei 1917). Prihatin dengan kondisi di sekitarnya, penderitaan rakyat, kemiskinan rakyat, pendidikan terbengkalai, tidak ada kebebasan, banyak ketidak adilan, maka dia menganjurkan kepada teman-temannya yang masih muda sekitar 18-22 tahun-an untuk mengadakan perkumpulan pemuda yang lebih modern. Dr. Wahidin Sudira Husada, pensiunan pejabat kedokteran, yang mulai berkampanye untuk kemajuan Jawa pada tahun 1906 yang memandang pendidikan modern menjadi penyelamat bangsa. Akhir tahun 1907 singgah di Jakarta setelah bersafari mencari studiefonds agar anak-anak bumiputera dapat sekolah. Kala itu di STOVIA dia merupakan seorang dokter tua di antara para pelajar STOVIA yang berusia antara 18-22. Sebagai orang yang sudah tua, Dr.Wahidin mampu memberikan sesuatu obor yang menyentuh seorang pemuda yang bernama Soetomo di STOVIA dalam persinggahannya di Jakarta waktu itu. Obor itu lama-lama membakar jiwa pemuda STOVIA kala itu. Yang jelas Dr Wahidin merupakan orangtua yang mampu berdekatan dengan para pemuda dan Dr Soetomo seorang pemuda yang mau mendengar yang tua. Kedua generasi itu hidup dengan latarbelakang kepincangan-kepincangan dalam negeri, terutama dalam bidang pendidikan, pengajaran, perekonomian dan sistem kolonial. Mereka bertemu pada satu visi dan misi untuk memajukan kehidupan bangsa Indonesia melalui pendidikan dan pengajaran. Mungkin Dr Soetomo seorang pemuda yang memiliki EQ, SQ dan IQ yang tinggi sehingga mampu menangkap, cepat tanggap, keberanian apa yang dimaksudkan oleh Dr. Wahidin Sudira Husada.

Melihat kewibawaan, ketenangan, kewaskitaan, tutur kata yang sareh pada sosok Dr Wahidin Sudira Husada sejak pandangan pertama itu, telah mengundang kekaguman seorang Dr. Soetomo. Pada zaman seperti itu telah ada orang yang berpikiran jauh ke depan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dokter tua itu menggerakkan para cendekiawan untuk bersama-sama mendirikan Budi Utomo (sebelumnya ada dua bakal nama Ekoprojo dan Budi Utomo), pada 20 Mei 1908, mengorganisir sekolah-sekolah yang berbasis nasionalis. Oleh karenanya 20 Mei 1908 di Indonesia telah lahir sebuah organisasi modern yang bersifat nasional, yaitu Budi Utomo, yang berarti pekerti yang utama. Beliau mendapat ilham dari penyair India, Rabindranath Tagore dan sedikit dari Mahatma Gandhi. Dalam bebrapa minggu saja Budi Utomo telah memperoleh anggota 1.200 orang, 700 di antaranya adalah pegawai negeri. Semestinya sosok tua seperti Dr Wahidin Sudira Husada dan sosok pemuda seperti Dr. Soetomo harus selalu muncul di dalam sejarah bangsa Indonesia.
Gedung eks STOVIA yang berlokasi di Jl. Abdul Rahman Saleh 26, Jakarta Pusat itu kini telah menjadi Museum Kebangkitan Nasional.
Memang ironis, pada 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini krisis ekonomi semakin jelas terasa oleh rakyat Indonesia. Harga BBM dan bahan kebutuhan lainnya akan melonjak kalau tidak ada tangan dan tutur mulia yang memberi kebijakan yang berakibat stabilnya harga-harga bahan kebutuhan rakyat Indonesia. Ini berarti perlu kebangkitan Strategi Operasional Stabilitasi harga pasar kebutuhan di dalam negeri. Krisis moral, kerusuhan, kerusakan, kriminal harus segera disirnakan dengan membangkitkan jiwa-jiwa Pancasila yang telah terlupakan. Bangkitkan jiwa Ketuhanan, bangkitkan jiwa kemanusiaan, bangkitkan jiwa persatuan, bangkitkan jiwa kerakyatan, bangkitkan jiwa keadilan. Indonesia yang dulu dikenal besar, macan Asia, kaya raya harus bangkit. Nilai-nilai luhur yang ada Pancasila akan dapat membangkitkan kreatifitas, inovasi, industrialisasi yang lebih manusiawi dan berbudaya, peduli bagi semuanya.
Bangkit itu memerlukan kemandirian, tidak tergantung orang lain
Bangkit itu memerlukan keyakinan diri dan jati diri
Bangkit itu memerlukan keberanian dan nyali
Bangkit itu memerlukan daya kreatif dan inovatif yang tinggi
Bangkit itu memerlukan kerjasama
Bangkit itu memerlukan jiwa sosial dan ke-Tuhan-an
Bangkit itu memerlukan kesanggupan untuk berubah menjadi lebih baik
Bangkit itu memerlukan komitmen
Bangkit itu memerlukan doa dan ikhtiar

Bertepatan dengan 100 tahun Kebangkitan Nasional ini, saya ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya dan juga kiriman doa bagi para pahlawan Kebangkitan Nasional semoga amal ibadahnya telah menggerakkan generasi muda untuk memajukan bangsa Indonesia diterima menjadi amal jariyah di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa :
Untuk Anda-Anda
Penganjur/Penasehat :Dr. Wahidin Sudira Husada
Ketua :Dr. Soetomo
Wakil Ketua :M. Soelaemann
Sekretaris I :Soeuwarno
Sekretaris II :M. Goenawan Mangunkoesoemo
Bendahara :R. Angka
Komisaris : R.M. Goembrek, M. Soewarno, Moh. Saleh dan M. Soeradji
Sumber :
* Keturunan keluarga Pendiri Budi Utomo
* Djoko Suryo : Sejarah Berdirinya Boedi Utomo dalam Dialog Budaya dan Gelar Seni ke-12
* D.G.E Hall, Sejarah Asia Tenggara. Surabaya : Usaha Nasional, 1988

Pantai Glagah

Pantai Glagah
Pantai Glagah yang indah, dinding pemecah gelombang, kanal-kanal yang meliuk-liuk, adanya di Jogjakarta Sisi Barat bagian selatan